Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pembalasan Udin

Ilustrasi murid-murid sekolah dasar (Foto: DEZALB Via Pixabay)


Sayup-sayup terdengar bunyi berdecit. Bukan decit daun pintu kelas, atau ranting yang menggaruk kaca jendela. Membuat suasana kelas menjadi hening. 

Murid-murid menutup hidung, dan mereka terlihat gelisah. Bu guru Aini terdiam. Padahal beliau tengah asyik, memaparkan rumus-rumus persamaan di depan kelas. 

"Maaf Bu! Ini si Udin kentut!" Teriak Dodo. 

Tiba-tiba wajah Udin menjadi merah padam. Memecah tawa seisi kelas. Mereka tak lagi penasaran melirik kiri-kanan. Berhenti menutup hidung, dan malah tertawa lepas. 

"Dodo! Kalau aku yang kentut, kenapa kamu yang minta maaf?!" Teriak Udin menahan malu.

Gelak tawa teman-teman satu kelas, kian membahana. Bu Guru Aini pun tidak dapat menyembunyikan senyumnya. Namun beliau tahu, bukan Udin pelakunya. Dodo memang pandai melempar masalah. 

Keriuhan terhenti saat bell berdentang. Istirahat makan siang. Dan tanpa aba-aba, murid-murid berhamburan keluar kelas. 

Di kantin, paling ramai pedagang bakso dan mie ayam. Namun Dodo dan Udin memilih jajan di warung Mak Maimun. Gorengan buatan Mak Maimun luar biasanya enaknya. Bala-bala haneut, gehu, saus tomat dan kerupuk jengkol. 

Wajah Udin masih cemberut. Rasa kesal dilampiaskan pada bala-bala yang dimakan bersama cabe rawit. Setiap melihat Dodo, gigitannya semakin gemas. Dan Dodo hanya nyengir, sembari menikmati es orson di dalam gelas. 

"Tega kamu!" keluh Udin. 

"Namanya juga bercanda," jawab Dodo tanpa rasa bersalah. 

Dodo dan Udin bukan tak pernah berkelahi, lebih dari sering. Rumah mereka berdekatan. Bila hari ini berkelahi, besok mereka main bersama lagi. Dan terakhir kali mereka bermusuhan, sebuah jeweran tak ingin lagi mereka rasakan. 

Memang miris, Udin selalu jadi objek penderita. Tingkah konyol Dodo, sudah sejak lama meresahkan. Namun Udin selalu bisa menerima. Karena bila dipikir-pikir, Dodo selalu ada saat Udin butuh teman, bantuan dan pertolongan. 

Sewaktu Udin mendapat masalah dengan kakak kelas, Dodo yang paling depan membela. Meski pun kadang, masalah itu timbul karena Dodo penyebabnya. 

"Berapa, Mak Maimun?" Udin merogoh kantong celana pendek warna merah. 

"Lima rebu," jawab Mak Maimun. 

Udin terbelalak kaget. Lontong, bala-bala dan teh manis, biasanya cuma empat ribu. Di kantong celananya hanya tersisa uang sejumlah itu. Ia pun berkata, "Duh kurang, emang udah naik harganya, Mak?" 

"Ya kan, tadi si Dodo ngambil es orson. Katanya, kamu yang bayar." 

"Dodo!!!!"

Suasana dalam kelas begitu kaku. Pelajaran bahasa Inggris, membutuhkan konsentrasi ekstra. Murid-murid melafalkan kata per kata dengan bibir setengah basah. Mrs Elis mengeja kata, memandu murid-murid agar tak tergesa-gesa. 

"Was wes wos," Dodo menggerakkan mulut tanpa mengeluarkan suara. Di sebelahnya, Udin memicingkan mata. 

Bu Guru Aini memandang tingkah Udin dan Dodo dari balik jendela. Beliau sudah dapat menerka, mereka takkan bertegur sapa, sampai jam pulang sekolah tiba. 

Hari berganti, dan hari Senin pun tiba. Murid-murid berbaris rapih di lapangan. Upacara bendera belum dimulai. Dodo menarik-narik lengan Udin di barisan belakang. "Hayu, ah." 

Mereka berjalan mundur pelan-pelan, dan dalam hitungan detik menghilang dari lapangan. Tidak ada murid dan guru yang tahu keberadaannya. Hingga upacara bendera selesai dilaksanakan. 

Kelas Bu Aini kembali dimulai. Namun ada yang kurang. Udin terlihat duduk sendirian. Kemana Dodo? Ia biasanya paling berisik sebelum pelajaran dimulai. 

Hingga absen selesai dibacakan. Dodo tak terlihat batang hidungnya. Murid-murid yakin, Dodo masuk sekolah. Sebelum upacara bendera, mereka melihatnya di barisan belakang. 

"Udin, kemana Dodo?" tanya Bu Guru Aini. 

Belum sempat Udin menjawab, tiba-tiba pintu kelas terbuka. Daun pintu seperti didobrak. Bu Aini kaget, dan murid-murid terkesiap. 

Dodo muncul tergesa-gesa dengan nafas terengah-engah. Mata merah melotot, tetapi sembab. Rambutnya acak-acakan. Dan seragamnya lecek, persis seperti raut wajahnya. 

"Udin! Kenapa kamu tak bangunkan aku di musholla!" 

Tawa seisi kelas kembali terdengar. Udin terlihat menutup wajahnya yang tersenyum penuh kemenangan. Dalam hati berkata, "Siapa suruh bolos upacara, dan ketiduran di balik mimbar." 
**
Penulis: Indra Rahadian

8 komentar untuk "Pembalasan Udin"

  1. Yah, ada pembalasan...hehe...mantul

    BalasHapus
  2. Hahaha..akhirnya kena batunya juga si Dodo😅👍

    BalasHapus
  3. Nah...nah...nah...dari bahasa amarahnya, pasti Dodo keponakannya Engkong...hahahaha....

    BalasHapus
  4. 😁😁😁😁 akhirnya terbalaskan

    BalasHapus
  5. Pengalaman pribadi ya? 🤣

    BalasHapus
  6. Penyayang musolah rupanya hihihiii

    BalasHapus