Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bab 26 : Perjumpaan, Tak Terkendali

 

Bab 26 : Perjumpaan, Tak Terkendali
Ilustrasi Gereja | Photo by cottonbro diambil dari www.pexels.com


<< Sebelumnya

Amazing grace

How sweet the sound

That saved a wretch like me

I once was lost, but now I’m found

Was blind, but now I see

Lamat-lamat tampak dari kejauhan ku mulai mendengar rintihan orang-orang sedang bersenandung dengan penuh penghayataan dan keheningan menyelimutinya.

Membuat bulu kudukku merinding mendengarkan lagu pujian berjudul Amazing Grace karya John Newton yang semakin lama semakin nampak jelas, bahkan dekat nyanyian itu dialunkan, bersama iringan bunyi piano serta biola yang menambah suasana khitmad dan penuh syukur hingga membentuk sebuah gubah kenyamanan dan perasaan lega.

Bak kehadiran Yesus, nyata benar adanya hadir disekeliling kita.

 Berkat mendengar lagu pujian itu, dengan bergegas ku segerakan diriku untuk membuka mataku perlahan-lahan.

Diriku melihat, para suster berjajar di depan altar serta para umat dan petugas koor dengan riang mengumandangkan lagu-lagu pujian. Hingga aku tersadar, bahwa diriku ini sedang berada di sebuah gereja dan sedang menyaksikan jalannya ekaristi atau perjamuan kudus.

 Jiwaku melayang dan alam bawah sadarku membawa ku menyusuri kisah-kisah kehidupan di masa kecilku.

Disinilah, aku melihat aku ketika berumur 12 tahun.

 


***

Aku ingat betul pada saat itu, tepat diumurku ke 12 tahun, aku sempat dititipkan oleh pamanku, Karraeng Matterangi selama kurang lebih 3 tahun di pasturan dan melayani pastor di sebuah paroki kecil.

Terletak sangat jauh dari hiruk pikuk metropolitan Jakarta, melainkan di pinggiran kota, tempatnya sangat asri, sejuk, dengan  komponen geografi yang dipenuhi bukit-bukit menjulang tinggi, persawahan, serta bermuara atau mendekati wilayah pesisir laut pantai Selatan.

Nama paroki tersebut adalah Purwosari, terletak di  Desa Jenar, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dengan nama gerejanya adalah Gereja Santo Yusup.

Jauh dari pusat kota, justru aku sangat menikmati hidup di sana.  Otomatis, akupun, ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) bersekolah di sekolahan yang didirikan oleh para pastor di wilayah itu.

Ya begitulah.

Kesehariannya, tak lupa juga Segara rajin berdoa, ikut misa,  menerima komuni, dan aktif dalam organisasi gereja yaitu PPA atau kepanjangan dari Putra Putri Altar. Bahkan, selama 1 tahun Segara pernah menjabat sebagai ketua PPA.  Ia setiap hari selama 3 tahun ia menghayati peran menjadi putra altar.

Nama panjangku yang tertera di akta kelahiran memang Segara Ananda Marradia, namun aku juga mempunyai nama baptis. Aku baptis tepat saat aku dititipkan pamanku ke pasturan itu. Nama baptisku bernama Imanuel, dalam Bahasa Ibrani berarti “Tuhan beserta Kita”.

 Dikutip dari Matius 1:23

 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel”-- yang berarti : Allah menyerati kita.

***

Aku terjun ke  memori di mana aku sedang menjadi seorang misdinar (putra altar) dan ekaristi itu berlanjut memasuki persembahan, iringan lagu Give thanks with a grateful heart karya Don Meon dinyanyikan dengan penuh suka cita.

Kemudian   masuklah ke upacara penyambutan tubuh Kristus, di sana aku melihat diriku sedang memegang  pentungan gong.

Aku melihat yang bertugas pada saat itu adalah Romo Paulus Sunarko.

Memasuki Doa Syukur Agung

“Dengan pengantara Kritus bersama Dia dan dalam Dia  sepanjang segala masa”

“Amin…. Amin….amin…”, umat menjawabnya.

Segara mengayunkan tangan untuk sesegera memukul gong tersebut

“Dum…..”

“Ketika  akan diserahkan untuk menanggung sengsara dengan rela, Yesus mengambil roti, mengucap syukur kepada-Mu, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya seraya berkata : Terimalah dan makanlah inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi-Mu “

“Dum… dum… dum…”

Bunyi suara gong menemani Imam mengangkat Hosti Suci dan umat memandang dengan penuh hormat, setelah Hosti Suci mulai diletakkan, umat menundukkan kepala dengan khidmat.

Segara dengan seksama memukul gong itu dengan penuh semangat.

Hingga pada akhirnya, tak terasa perjamuan ekaristi selesai, dengan segera Segara menghampiri temannya yang bernama Sintia Carla Kamellia dipanggil Tia.

 Sintia Carla Kamellia merupakan seorang anak gadis teman sekelas Segara di sekolahannya. Pada saat itu, Tia membawa seorang gadis mungil, bermata hijau bak peri diputri dongeng yang merupakan tetangganya di perumahan elite bernama Permata Mutiara Indah.

Segara akhirnya pun berjabat tangan dengan gadis mungil bermata hijau tersebut.

Ya, tak di sangka-sangka gadis itu adalah Flora Aurora Bunga.

Semasa kecilnya, selama setahun Flora pernah pindah ke pinggiran kota untuk menepi bersama  ayahnya Craen Mark yang sedang sengaja menghilangkan jejak atas permasalahan personalnya dari ibu kota untuk melarikan diri  dari  Hitoshima yang merupakan anak buah dari Yakuza seorang mafia Jepang yang dimintai tolong oleh Segara untuk membunuh Craen Mark.

***

 Pada suatu malam, tepatnya  Malam Natal, diruang ganti para petugas  baik itu prodiakon, misdinar, lektor, pemazmur, dan sebagainya, pintu tampak tertutup dengan rapat. Suasana memasuki lorong menuju ruang ganti itu tampak sepi, biasanya terdengar begitu berisik orang-orang yang sedang memakai jubah, gaun, singel, krah, dan segala atribut ekaristi sembari bercanda, dan mengobrolan apapun itu.

Malam ini berbeda, setelah selesai misa, semuanya pergi dan hilang. Kemana para petugas malam itu? Tak ada satupun juga yang berfoto memakai pakaian tugas untuk diabadikan. Tampak sangat aneh , tak ada keramaian, justru sepi dan suasana mencekam di sepanjang lorong yang datang.

Padahal, lampu ruang gantipun tak juga padam.

Segara dengan terburu-buru berlari terbirit-birit masih mengenakan seragam misdinarnya untuk meluncur ke ruang ganti.

Dirinya megap-megap lari secepat kilat dari gereja hingga pasturan, dan sesampainya di depan pintu ruang ganti ia merasa aneh, kenapa terasa begitu sepi?  Kemana perginya orang-orang?   batinnya.

“Oh iya lupa, pastinya udah pada pulang, tapi masih jam segini ? Kok cepet banget pulangnya para petugas lainnya? “

Pergolakan dalam hatinya tak kunjung usai dan dihantui rasa bertanya-tanya.

Ia setelah selesai bertugas, membantu para petugas hias altar untuk membersihkan dan mempersiapkan perayaan Natal esok hari, sehingga ia tak sempat untuk ganti.

Kemudian, dengan sesegera mungkin  Segara membuka pintu. Dengan perlahan tangannya mendorong kebawah gagang pintu tersebut. Baru secumlik pintu terbuka, Segara ternganga melihat dengan mata telanjang tubuh  seorang perempuan bak gitar spanyol itu begitu indah,  ia sedang asik berkaca memandangi tubuh seksinya, menyentuh payudaranya, dan berputar-putar sambal melenggok lenggokkan tangannya dan berpose layaknya model pornstar yang sedang melakukan pemotretan dengan panasnya.

Segara dengan mendadak menjadi patung, diam seribu basah membuat dirinya lupa diri hingga melamun dan meneteskan air liurnya.

“He ngapain kamu” ketus Tia

Dengan segera, Tia segera menutup buah dadanya , mengambil pakaiannya yang berserakan di bawah lantai, dan ia berlari bersembunyi dibalik pintu lemari.

 Segara menyaurinya dengan kelagapan sehingga terbata-bata

“Eeee… eeee… eee… iya Tia, mohon maaf, aku gak sengaja lihat.”

 Dia sambil mengenakan baju dibalik pintu lemari dengan lantangnya berkata,  It’s okay, don’t mind. Keep secret ya”

Segara masih dengan gagap membalasnya “ I..i…ii.. ii..yaa.. Tiii iii…aaa, sii…aa….pppp”

Tanpa basa basi Tia ketika sudah selesai memakai bajunya, ia meninggalkan Segara dan menyenggolkan bahunya pada Segara yang masih berdiam diri di depan pintu ruang ganti.

Semenjak kejadian itulah, Ia merasakan gairah yang baru. Segara tidak bisa melupakan momentum pertama kali hasrat   birahi muncul. Iapun tak tahu. Kejadian saat itu benar-benar membekas, tertancap dan sering membuat mabuk kepayang. Mematahkan sel-sel otaknya seketika, mebuat sekujur tubuhnya lemah dan terangsang hingga lemas.  Memantik dalam membayangkan fantasi-fantasi liar lainnya dengan berbagai metode dan gaya sesuai keinginannya.

Ia masih sangat dini untuk mengetahuinya, terlampaui dirinya belum kenal apa itu blues film,  sex toys, kondom, dan lain sebangainya. Kesehariannya dipenuhi berkat dan mengabdi untuk melayani para pastor dan Tuhan.

***

Sintia Carla Kamellia, hidup dari keluarga yang berada, papa dan mamahnya merupakan saudagar kaya keturunan Cina-Jawa mengelola toko kelontong di rumahnya dan memiliki supermarket di berbagai daerah dengan nama “Unggul”.   Papahnya orang Tionghoa dan mamahnya orang Jawa. Perpaduan tersebutlah melebur menjadi satu padu melahirkan buah hatinya yaitu Tia.  Tia memiliki kulit kuning langsat,  mata yang belok dan bola mata yang besar, berbibir mungil, dan memiliki alis yang menjalar sempurna. Perawakannya yang bongsor dan meskipun masih duduk di bangku SMP membuat dirinya sering dicap atau orang mengiranya sudah merupakan perempuan dewasa. Meskipun dia blasteran dan perawakan bongsor, Tia tidak terlalu kelihatan Cina-Jawa, mukanya sangat baby face dan unsur innocent itu membuat Tia menjadi gadis yang charming.

 Selama itu, Papa dan mama Tia sangat sibuk bekerja, mengurus toko dan supermarket yang dikelola. Ia sedari kecil diasuh oleh baby sitternya yang biasa dipanggil Uti. Tia adalah salah satu contoh yang kurang mendapatkan pengawasan dan kontrol dari orang tuanya.  Semenjak duduk dibangku SMP, ia sering mengakses konten pornografi yang didapat dari para teman kelasnya dan membuat dirinya kecanduan. Dirinya dengan diam-diam mengoleksi beberapa sex toys untuk keperluan pemuasan birahi dirinya.  Orang-orang disekelilingnya termasuk teman sekelasnya tidak mengetahui keanehan yang melekat dalam dirinya.

Tia dengan epic bisa menutupi kebiasaan dirinya, dengan terlihat normal dalam kesehariannya sehingga tidak memicu kecurigaan dari orang-orang sekitar.

 ***

Masa akil balik, atau pubertas terjadi  saat Flora dan Tia sama-sama duduk dibangku  SMP. Mereka berdua sudah mulai belajar untuk bersolek, seperti memakai parfume, memakai gincu, eyeshadow, dan sebagainya. Mereka belajar bagaimana cara merias diri menonton salah satu YouTube Channel bernama “Diva Beauty”. 

Sehingga secara konsisten, hampir setiap hari Minggu, Flora sering bermain ke rumah Tia. Keseharian hidup diperumahaan elite, tentunya mereka sedari kecil sudah dimanjakan dengan dibelikan barang-barang brand terkenal kelas dunia.  Termasuk merek Dior, alat make up yang mereka gunakan untuk berlatih merias wajah.

Tia sangat mengagumi mata Flora, yang berbinar indah berwarna hijau.  Tia sering kali, saat mendandani teman mainnya itu, berkata secara spontan tentang kegaguman dirinya terhadap mata Flora. Hingga Tia obsesi dan sering membayangkan  mata Flora di dunia fantasinya  untuk kepuasaan dirinya yaitu masturbasi.

Flora dengan polosnya, karena menganggap Tia sebagai teman baik mau saja mengirimkan “pap” wajahnya jika Tia meminta, sehingga tidak mengetahui fungsi foto itu sebagai apa.

Tanpa disadari Tia dan Flora begitu dekat,  percakapan ketika bertemu langsung , bermain bersama ataupun melalui telepon, chat, berkesinambungan terus-menerus tanpa henti. Flora menganggap Tia teman 24/7 jamnya. Sebagai sahabat kecil pada saat itu.

Namun, Tia memaknai lain, timbullah benih-benih asrama yang mengoyak hati Tia untuk Flora. Tia makin merasakannya, baginya Flora adalah alam di mana Tia dibebaskan untuk menuruti kemauan egonya berfantasi liar dan luas, tenggelam dalam lautan jahanam yang membuatnya selalu terngiang-ngiang , tertawa terbahak-bahak, entah sampai kapan bom waktu itu meledak.

Hingga pada suatu malam, kebetulan Craen Mark menitipkan Flora ke rumah Tia untuk menginap suatu malam karena Craen Mark, ayahnya ada keperluan mendesak keluar kota yang tidak memungkinkan pulang malam itu juga.

Secara otomatis, Flora tidur seranjang bersama Tia malam itu.

Tepat pada pukul 12 malam.

Rutinitas Flora sebelum tidur selalu melepas bra yang ia kenakan, agar tidur dengan nyenyak dan dapat merengangkan otot- otot di lingkaran buah dada.

Tanpa rasa canggung dan tidak malu-malu, Flora segera berganti pakaian dan membuka branya di depan Tia.

Ntah apa yang terbesit di otak Tia ketika melihatnya,  membuat Tia mati gaya, namun dirinya menikmatinya. Tia bak seperti kesetrum  tersambar pertir dan tubuhnya dialiri aliran listrik yang menghantarkan konduktor (tenaga panas) masuk ke dalam tubuhnya, lewat ujung kepalanya, membuat ia terpelanting lemas dengan merasakan gairah rangsangan yang luar biasa hingga menusuk ke sanubarinya.

Tia secara perlahan-lahan mendekati Flora dengan tatapan rakus hendak menerkam Flora

“Tii….tii…tiiii ..aaaa… aaa….paaaa…yaa….ngggg… kaaaa…mu…. perr….bu…aattt?!!!”

Flora merasa tersentak dan perlahan-lahan mundur  dan merintih ketakutan hingga mentok di sudut tembok kamar Tia.

Akhirnya, Flora terperangkap dan terpenjara oleh tatapan mata Tia dan juga  jari-jari Tia yang sudah mulai perlahan menyentuh bagian paha  Flora terus menerus naik ke atas, mulai menjilati  dengan inci detail setiap lekukan tubuh Flora,  memijat-mijatnya  bagian gundukan Flora  dan kemudian bibir Flora terasa begitu hangat saat ditempelkannya bibir Tia.

 Kemudian, Tialah dengan lahapnya sesegera melumatnya. Flora begitu blank, diam seribu basah, dan berpasrah tidak berusaha  melawan ataupun meminta pertolongan. Hingga beberapa saat Flora terlena, namun  secara mendadak Flora sadar dan mendorong tubuh Tia dengan sekuat tenaga hingga terbanting diatas kasur busa yang empuk.

Flora langsung  meraih branya dan membenarkan pakaiannya, kemudian ia segera jalan dengan langkah yang besar meninggalkan Tia tanpa sepatah katapun. Kebetulan kunci pintu rumah Tia tergelantung di depan pintu, dengan sesegara Flora membuka pintu itu.

Flora memutuskan untuk kembali kerumahnya,  dengan wajah linglung .Ia merogoh kantong yang ada di dalam dasternya, dan membuka pintu rumahnya. Menyalahkan lampu lalu ia menaiki tangga untuk beranjak ke kamarnya. Ia membuka kamarnya, sesampainya di kamar ia  dengan cepat menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi terlentang ia memejamkan mata. Flora tertidur pulas. Kesepian memeluk erat kehidupannya.

***

3 tahun sudah berlalu,  saatnya melanjutkan sekolah ke jenjang Sekolah Menengah Atas. Saatnya Segara beranjak keluar dari pasturan dan Ia tergerak hatinya untuk masuk ke salah satu Seminari yang berada di Jakarta bernama Sekolah Seminari Martinus Timothy.  Meneruskan dan mengamanahkan panggilannya untuk menjadi seorang rohaniawan atau religious, menjadi pastor untuk mengabdi melayani Tuhan Yesus Kristus.

Sayangnya, menginjak tahun ketiga dikehidupan asramanya, ia di drop out karena ketiga kalinya ketahuan masturbasi  dengan menonton video porno oleh temannya, kemudian dilaporkan oleh Kepala Pastor di sekolahan itu.

Maka dari situlah, ia tersesat seperti domba yang hilang kemudian memutuskan untuk mengulang sekolah mendaftar di SMA Swasta Katolik Santo Petrus dan melanjutkan kuliahnya di jurusan Ilmu Komunikasi.

“Hahaha, pengalaman yang berkesan sekaligus memalukan. Diriku gagal menjadi pastor karena Tia masih memenuhi dengan sesak isi otakku, membuat jemari, tulang, dan sekujur tubuhku tak perdaya dimabuk kenikmatan. Dirinya mengontrol  dan memanipulasi dunia ideku sehingga aku melakukan hal yang bodoh. Padahal, dirinya penyuka sesama jenis. Pantas saja sikapnya begitu. Hahahaha “ batin Segara.

“Apa maksud semua ini? Ternyata, gadis mungil yang dibawa olehnTia dan kita berjabat tangan adalah Flora?”

Segara pun baru mengingatnya, sebuah pertemuan tak sengaja di masa lampau.

 ***

Sesudah Doa Syukur Agung, bergegaslah Iman menyiapkan diri untuk menyambut Komuni atau Tubuh Kristus. Iman dengan lantangnya mengajak Umat untuk mengucapkan Doa Bapa Kami (Our Father)

Our Father who art in heaven

Hallowed be thy name

Thy kingdom come,

Thy will be done, on earth as it is in heaven.

Give us this day our daily bread, and forgive us our trespasses

as we forgive those who trespass against us, and lead us not into temptation,

but deliver us from evil. Amen.

Segara dengan sontak  tubuhnya terangkat pertanda terbangun dari tidurnya yang panjang.

 

To be continued

 

(Ayu Diva)

 

Catatan :

1.     Cerita ini hanya fiktif, mohon maaf perihal ada kesamaan nama, tempat, peritsiwa itu  adalah rekaan semata. Merupakan kebetulan belaka tidak adanya keterkaitan dan unsur kesengajaan.

Bab 27 selanjutnya akan diubah oleh Arief R. Saleh

 

18 komentar untuk "Bab 26 : Perjumpaan, Tak Terkendali"

  1. Mba Ayu Diva wuiiih kerren, ceritanya tambah menukik πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  2. Wuiiihhhh kasihan flora 😁😁

    BalasHapus
  3. Wuiih semakin keren dan jadi lebih berwarna jalan ceritanyaπŸ˜ƒπŸ‘

    BalasHapus
  4. Kerenzz mbak Ayu Diva....πŸ˜πŸ‘

    BalasHapus
  5. Kerreeeeeen Mbak Diva ...apalgi ada nyebut kampung halamanku ...Purworejo...jd rindu pulang...hehehe....top markotop....

    BalasHapus
  6. Mantap, tambah asyik ceritanya

    BalasHapus
  7. Pengisahan problematik yang apik. Penulis nomor berikutnya akansemakin kelimpungan. Ini nomor2 flash back yang rumit. Kalau gak hati-hati, novel ini bisa berakhir di masa lalu. Atau malah tanpa ujung.

    BalasHapus
  8. ❤nitip jempol duluuu, πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  9. Wooo a keren, tambah runyam

    BalasHapus
  10. Apik, apik, apik, keren dan bikin ngeri ngeri sedep

    BalasHapus