Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAB 24. Dis quand reviendras-tu?

Lonely Girl from Pixaby.com

        

..Sebelumnya

Korrie Banimase, seorang juru masak di Rumah Sakit St. Hedwig. Nama kecilnya adalah Karmila Aurora. Ia mengabdikan diri selama lima tahun meracik hidangan bagi para pasien, berharap mereka semua bisa segera pulih, tak merasakan derita berkepanjangan seperti dirinya. 

        Ibu Korrie tak pernah mau naik jabatan karena baginya, pekerjaan ini hanyalah sweet escape sekaligus terapi dari trauma yang dialaminya sedari usia 15 tahun. Sejak belia ia adalah tawanan penjara suci dengan hidup gemilang kemewahan. 

        Usut punya usut, terakhir kali ia diasingkan di Giethoorn, Belanda pasca pembantaian dan pemerkosaan di flat sudut tenggara Nikolaiviertel, Berlin. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Craen. Pengusaha pesawat yang bisnis gelapnya sudah menggurita di Berlin dan Hamburg.

         Layaknya Elagabalus, Kaisar ke-25 Roma yang menyetubuhi Vestal Aquilia Severa, begitulah Bayu Segara menyetubuhi Karmila. Bayu pantas dibunuh. Karmila layak dikubur hidup-hidup. Sayangnya saat pembunuhan itu, jasad Bayu tak sempat dimutilasi dan dibuang ke Sungai Tiber seperti yang dilakukan oleh rakyat Roma. Karmila tidak dikubur. Ia diasingkan di desa kecil nan indah. Meski begitu, ia hidup sendiri selama-lamanya.

 “Karmila oh Sayang, kau tahu persis apa yang terjadi pada Aquilia Severa, bukan?” tanya Craen sambil mencengkeram dagu Karmila. 

“Maafkan aku, Mark. Aku hanya ingin melihat Segara” suaranya bergetar. 

“Karmila sayang…Ah.. Tidak. Aku tak mau memanggilmu Karmila mulai hari ini. Tidak ada lagi Karmila Aurora. Nama pengkhianat yang selalu melukai ketika dirapalkan.”

 “Era baru untuk Korrie Banimase, Sayang, hahaha! Nama yang pantas untukmu, gadis yang menyedihkan.” 

“Aku mencintaimu Mark,” ia menangis tersedu-sedu. 

“Aku tahu. Aku pun demikian, Sayang.” Mark mengelus rambut Korrie pelan. 

“Sudah, sudah. Kau sedang mengandung. Jangan banyak pikiran. Nikmati udara Giethoorn ini, Venice of the Netherlands. Apapun tersedia untukmu dan bayi kita.” Mark berlalu, mengemasi barangnya dan berangkat ke Amsterdam. 

        Perawan suci yang membangkang harus diganti. Tapi bayi yang dikandungnya, wajib diselamatkan dan dijaga sepenuh hati. Karena memang itu yang diidam-idamkan selama ini.

        Ya, hanya untuk bayi itu saja Craen bersimpati pada Karmila. Ia tak sudi membesarkan Flora bersama perempuan pengkhianat. Ia ingin Flora menjadi The Vestal Virgin tanpa ada campur tangan dari wanita manapun. Lebih baik mengurus sendiri sembari memupuk ambisi menguasai Negara Kincir Angin.

Satu lagi yang tak boleh ketinggalan: mencari pengganti Karmila. 

*** 

        Suatu hari, Craen berjumpa dengan Alexander De Vries, rekan bisnis yang menjadi sahabat karib. Konglomerat sekaligus penyuntik dana bar di sepanjang Red Light Distric Amsterdam. Sama-sama penggila Vestal Virgin.

        Ia berencana menikah dengan gadis 7 tahun bernama Diana De Vries, perempuan yatim piatu yang hampir tergabung ke dalam organisasi pekerja seks di sana. Sungguh, kemolekan Diana mampu merayu siapa pun yang memandanginya, termasuk Craen.

        Begitu cantiknya Diana meski masih kanak-kanak, Craen déjà vu saat melihat Diana. Ia berhasil membuat Craen sempurna menanggalkan nafsu pada Korrie.

        Di sisi lain, Korrie hidup dan mati menjalani masa kehamilan seorang diri. Craen Mark tak menampakkan batang hidungnya padahal sekarang Korrie tengah hamil tua.

        Dokter kandungan memang rutin mengecek perkembangan janin tiap 2 minggu sekali. Makanan bergizi selalu terhidang 3 kali sehari. Suplemen, vitamin, buah dan sayur, bahkan instruktur yoga pun sudah disiapkan Craen.

        Sayangnya, Craen tak memberikan alat komunikasi apapun di rumah itu. Sengaja, supaya Korrie tak bisa meminta bantuan siapapun.

        Hidup dalam kesendirian adalah hal paling dibenci manusia. Memang hidupnya berkecukupan, tapi secara mental ada luka batin yang amat dalam. Berpisah dengan kedua anaknya, kedua pria yang dicintainya, dan keluarga besarnya adalah penderitaan yang harus ditanggungnya. Semua ini demi menebus rantai nipakasiri.

“Mark. Dis quand reviendras-tu?” 

        Seperti hari-hari biasanya, Korrie menatap jendela rumah saat senja sembari meminum teh daun raspberry merah. Menunggu Cadillac Escalade berhenti di depan pintu. Tapi tiba-tiba.. seketika rasanya ada yang menyobek kemaluannya dari dalam. Gelas yang dipegangnya jatuh ke lantai. Teh mengalir bersama darah dari selangkangan Korrie. Korrie berteriak, meminta pertolongan. Napasnya tak karuan. Ia tersengal-sengal. 

 *** 

        Setelah satu jam penuh terbenam dalam lamunan tentang petuah Baba Rudy kala itu, telepon Segara berdering. Flora. Pikiran Segara langsung buyar. Haruskah ia angkat panggilan ini? Kejadian memeluk Flora di kamar itu, sewaktu Segara tinggal selangkah lagi membunuh Craen dengan Pedang Tranchant masih belum bisa terlupakan. Barangkali pelukan itu sempurna menginjeksi rindu di tubuh Flora. 

“Flora sekarang sedang terbaring di Rumah Sakit St. Hedwig” suara perempuan berbisik. Siapakah dia? Yang jelas itu bukan suara Ibunya atau bahkan Flora sendiri. Juga bukan suara Diana, wanita simpanan Craen. 

“Apa yang terjadi?” tanya Segara cemas. 

“Barusan ada yang menyergap masuk ke kamar Flora, menodongkan senjata, tapi untungnya ia tidak membunuh ataupun melukai” terdengar di seberang sana ia sibuk menutupi suaranya dengan beberes.

“Maaf saya tidak bisa menghubungi lama-lama, kalau tidak saya akan mati terbunuh di sini. Demi kebaikan kita, tolong jangan pernah hubungi nomor ini lagi”.

Panggilan itu terputus.

        Segara kembali mencoba menghubungi, benar saja. Nampaknya ia memblokir nomor Segara. Siapa pun wanita itu, Segara berhutang banyak padanya. Sebuah informasi berharga yang cukup menenangkan. Setidaknya ia tahu di mana keberadaan Flora sekarang. Setidaknya untuk malam ini saja. 

        ‘Tapi. Sial!’ batin Segara. 

        Bajingan mana yang berani menyentuh Flora hingga masuk ke kamarnya? Ah, sialan. Ya, tiada lain selain pembunuh bayarannya. Kylian pasti berencana mengusik Flora untuk membuat Segara dan Craen bersimpuh di hadapannya. 

         Segara berada di tepi jurang.

     ‘Betapa harga diriku hancur apabila menjilat ludahku sendiri,’ batinnya.

    ‘Betapa malu aku jika harus sampai terluka di punggung. Ah, Flora terbunuh juga tak apalah. Jika ia hidup, maka aku hanya akan tersiksa melihatnya setiap waktu. Untuk apa aku khawatir pada Flora? Lagipula memiliki Flora utuh jiwa dan raga hanya mimpi di siang bolong yang tak ada gunanya.’

        Segara segera menuju apartemen Kasse di Pondok Indah menggunakan taksi online. “Lupakan soal LC. Kita harus menyusun ulang strategi.” 

        Ia memastikan mobil ini aman dan kejadian penculikan tak akan terulang. Seketika, ia bergidik. Masih terasa betul rasa lehernya tercekik oleh anak buah Craen beberapa hari lalu. Batinnya berkecamuk. Ada satu hal yang lolos dari ingatannya selama ini. 

    ‘Mau lari ke mana kau Segara? Kau lupa pada janjimu kala menjadi tawanan oleh pria bangsat itu?’ Sadar tak sadar ia sudah membuat janji pada semesta tentang hidupnya.

 ‘Katamu kau akan menaati pesan Paman dan Ibumu? Bullshit! Omong kosong! Pamanmu akan jijik melihatmu masih hidup begini tapi berkhianat pada nazarmu sendiri.’ Kalau saja Pamannya tidak dibunuh, mungkin Segara tak kan mengucap janji yang sebenarnya membunuh harga dirinya sendiri.

‘Pikirkan tentang mimpimu kala itu Segara yang malang! Dua kepala segar yang kau jinjing tak mampu membangkitkan Ayah dan Pamanmu!’

Kembali teringat Baba Rudy, kembali teringat pesan Paman dan Ibunya, keputusannya di bangku taman kota tadi, di dasar hati Segara, ia ingin melindungi Flora. 

 Tapi Segara mengurungkan niatnya untuk menghubungi nomor Flora kembali. Sekarang bukan saatnya berbicara pada gadis bermata hijau. Ia tahu siapa yang lebih tepat dihubungi.

 “Guten Abend! Wo ist sie?” 

  “In kuche. St. Hedwig.” 

***

Keterangan: Dis quand reviendras-tu?= Katakan padaku, kapan kamu akan kembali (Prancis)

Guten Abend! = Selamat malam (Deutch)

Wo ist sie = Di mana dia (perempuan, Deutch)?

Küche 
= Dapur (Deutch)

(Marsellia Claudia)

Bab 25 akan digubah oleh Susy Haryawan

10 komentar untuk "BAB 24. Dis quand reviendras-tu?"

  1. Pertaaamaaax... suksesss, mba claudia, ini top banget

    BalasHapus
  2. Wah, tabir halimun yang selama ini menyelimuti kisah, perlahan terkuak. Tapi cerita masih penuh misteri....

    Tambah keren

    BalasHapus
  3. Kisah ini makin rumit dan bikin penasaran. sukses mbak claudia

    BalasHapus
  4. Wuiih.. akhirnya tersingkap semua rahasia yang selama ini tersembunyi di dalam batang tubuh cerita ini, satu kata untuk ini. Keren😊👍

    BalasHapus
  5. Keren ...keren mba Marsella top deh ceritanya semakin seru ☺️

    BalasHapus
  6. Seruuu...misteri masih menjadi misteri...tapi pelan2 semakin terang benderang ....top markotop...querreeen...

    BalasHapus
  7. Keren banget mba Claudia, lanjut

    BalasHapus
  8. WOW! Misteri sudah tersingkap (dikit). KUEREEENN!! 👍👍

    BalasHapus
  9. Keren... keren... makin penasaran gimana terusannya... 😍

    BalasHapus