Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bab 22. Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih


 

<< Sebelumnya 

 

Sancho, saya akan memilih Lady Companion (LC) setelah kembali dari toilet,” kata Segara sambil melangkah keluar dari ruangan VIP. Bayangan Peri Bermata Hijau masih menghantui pikirannya. Kaki Segara tidak melangkah ke toilet, tetapi melangkah keluar dari karaoke dan bar mewah itu.

 

Pikirannya kacau, batinnya tidak tenang. Segara terus melangkah menyusuri jalan tak tentu arah. Hingga tiba di sebuah taman kota. Malam semakin larut, udara makin dingin. Segara lalu duduk di bangku taman melepas penat. 

 

Sayup-sayup terdengar alunan lagu yang tidak asing di telinganya. Sebuah lagu yang sangat familiar dan sering didengarnya, namun ia lupa judulnya. Segara lalu mendengar dengan seksama lirik lagu tersebut.


Se’re… se’reji batara baule’
Ati Raja…..
Naki jai…pa’nganroi rikodong
Rajale’ e…lele kereaminjo
Ati…Ati..Ati Raja
Nitarima pa’pala’na rikodong

(Artinya:

Hanya ada satu Tuhan
Ati Raja, hanya kepadaMu kami meminta
Apapun itu yang sesungguhnya
Ati… Ati… Ati Raja
Pasti akan diterima segala permintaan

)

 

Tidak salah lagi. Ati Raja, judul lagu berlirik Makassar ini, katanya dalam hati. Menurut literatur yang pernah dibacanya, Ati Raja memiliki arti kebesaran jiwa; sarat makna sebagai ucapan rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Lagu Makassar ini sangat populer tidak hanya di Sulawesi Selatan, tetapi juga hingga mancanegara. 

 

Ati Raja diciptakan seniman peranakan Tionghoa*) Makassar, Ho Eng Dji. Berlatar budaya Tionghoa, Baba Tjoi (nama panggilannya) menjadi sosok yang meleburkan sekat-sekat etnik dalam masyarakat di Makassar. Lewat lagu-lagunya ia menyampaikan beragam pesan moral. 

 

Alunan lagu Ati Raja membuat Segara teringat kampung halamannya, teringat akan masa lalunya. Setelah ayahnya meninggal, Segara tidak punya keluarga lain dari pihak ayah. Bayu Segara, ayahnya anak tunggal. Keluarga yang ada hanya pamannya, Karaeng Matterangi; satu-satunya saudara kandung ibunya. 

 

Karaeng Matterangi yang menjemput Segara kembali ke Butta Turatea; sebutan lain Kabupaten Jeneponto. Karaeng Matterangi tidak menikah. Ia merawat dan membesarkan Segara dengan penuh cinta dan kasih sayang. Segara sudah seperti anaknya sendiri.

 

Segara terkenang kembali masa-masa saat tinggal bersama pamannya. Kebahagiaan senantiasa dirasakan olehnya. Rumah pamannya terletak di Kecamatan Kelara. Halaman yang luas dengan pohon-pohon yang rindang membuat dirinya menyukai suasana alam nan asri. Suasana sejuk, damai dan tenteram sangat terasa ketika ia tinggal di sana. Tempat yang selalu dirindukannya sampai kapanpun. Tempat yang tak akan pernah bisa ia lupakan sepanjang hidupnya. 

 

Di samping rumah Karaeng Matterangi, tinggal tetangga sekaligus sahabat pamannya bernama Rudy. Ayah Rudy peranakan Tionghoa*) Makassar, ibunya orang Butta Turatea. Karaeng Matterangi sering memanggil sahabatnya itu dengan sebutan Baba Rudy.

 

Baba Rudy mengenal Segara sedari kecil, sejak Segara mulai tinggal bersama pamannya. Selain pamannya, Segara memiliki kedekatan dengan Baba Rudy yang juga sudah dianggap orang tua sendiri. 

 

Selepas SMA, Segara melanjutkan kuliah pada jurusan komunikasi di salah satu universitas di Kota Makassar. Setiap akhir pekan atau liburan, Segara menyempatkan untuk pulang ke kampung halamannya yang berjarak sekitar 90 km dari Makassar. Bahkan setelah lulus kuliah pun, Segara masih sering bertemu Baba Rudy.

 

Setahun setelah menamatkan studi strata satu, Segara memberitahu pamannya. Ia akan mencari Craen Mark untuk membalas dendam. Pamannya tidak mengijinkan. Baba Rudy yang juga telah mendengar peristiwa terbunuhnya ayah Segara, sering menasihati Segara untuk tidak membalas dendam.

 

***


Suatu hari, Karaeng Matterangi mengundang Baba Rudy ke rumahnya. Tujuannya, agar dapat bersama-sama Baba Rudy menasihati Segara. Karena nasihatnya selama ini tidak pernah berhasil. Harapannya, Segara dapat mengurungkan niat membalas dendam setelah mendengar nasihat Baba Rudy dan dirinya. 

 

Sore itu, mereka bertiga berkumpul di teras rumah, sambil menikmati bannang bannang; kudapan khas Jeneponto, menyerupai lilitan benang yang terbuat dari tepung dan gula merah.

 

Segara, peristiwa yang terjadi dalam hidup ini merupakan proses yang saling berkaitan antara peristiwa satu dengan peristiwa lainnya. Peristiwa yang dialami saat ini merupakan akibat yang disebabkan oleh peristiwa sebelumnya. Tidak ada satu pun peristiwa yang dapat berdiri sendiri,“ kata pamannya memulai pembicaraan. 

 

Termasuk peristiwa yang menimpa ayah dan ibumu, Nak. Peristiwa itu merupakan konsekuensi yang harus dijalani orang tuamu,” tambah pamannya dengan penuh kehati-hatian, seraya menyeruput secangkir kopi Arabica, kopi khas Toraja.

 

Tapi, paman. Kenapa orang tua yang sangat saya cintai harus mengalami kejadian itu? Mengapa ayah dan ibu harus menanggung itu semua? Mengapa peristiwa memilukan tersebut harus saya saksikan sendiri terjadi di depan saya? Mengapa Craen Mark harus melakukan aksi bengis dan kejamnya pada orang tuaku?,” Segara melontarkan pertanyaan bertubi-tubi dengan suara yang semakin lama semakin berat karena menahan amarah. 

 

Melihat emosi Segara yang mulai meninggi, Baba Rudy berkata, “Sabar, Segara. Tenangkan dulu dirimu. Cobalah untuk menarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskannya perlahan-lahan. Lakukanlah beberapa menit. Agar emosimu bisa mereda, pikiranmu bisa jernih kembali.” 

 

Segara kemudian mulai melakukan apa yang dikatakan Baba Rudy. Setelah beberapa menit, emosinya sudah mulai stabil. Segara lalu meminta maaf kepada pamannya karena menyadari tanpa sengaja telah berbicara dengan nada tinggi kepada pamannya. 

 

Ketika keadaan sudah tenang, Karaeng Matterangi menyilahkan Baba Rudy untuk berbicara. 

 

Apabila seseorang berbuat jahat, hendaklah ia tidak mengulangi perbuatannya itu, dan jangan merasa senang dengan perbuatan itu. Karena sungguh menyakitkan akibat dari memupuk perbuatan jahat,” kata Baba Rudy memulai nasihatnya. 

 

Sambil matanya terpacak ke wajah Segara, Baba Rudy melanjutkan kata-katanya. “Segara, perbuatan jahat yang dimaksud adalah pikiran, ucapan dan perilaku yang dilandasi oleh kebencian, keserakahan dan kebodohan batin. Memupuk benci dan dendam itu menyakitkan, Segara.”

 

“Tidak ada seorang pun yang bahagia karena memupuk benci dan dendam. Cepat atau lambat hanya penderitaan lah yang pasti akan dirasakan, “ lanjut Baba Rudy. 

 

Suasana menjadi hening selama beberapa saat.

 

Segara memberanikan diri bertanya. “Lalu bagaimana cara mengatasi dendam, Baba Rudy?” 

 

“Kalahkan kemarahan dengan cinta kasih dan kalahkan kejahatan dengan kebajikan. Hanya itulah caranya. Tidak ada jalan lain. Ibarat sebatang pohon yang telah ditebang masih akan dapat tumbuh dan bersemi lagi apabila akar-akarnya masih kuat dan tidak dihancurkan. Begitu pula selama akar nafsu kebencian tidak dihancurkan, maka penderitaan akan tumbuh berulang kali,” jawab Baba Rudy secara tegas dan bermakna dalam.

 

“Tapi bukan hal mudah melakukan seperti yang Baba Rudy katakan,” Segara menyela tiba-tiba. 

 

“Benar, Segara. Memang tidak mudah untuk melakukannya. Perlu ada keberanian dari dalam diri seseorang untuk dapat melakukannya. 

 

Kebencian hanya akan berakhir ketika seseorang sudah tidak menyimpan pikiran-pikiran bahwa ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, dan ia merampas milik saya.

 

Kebencian tak akan pernah berakhir, apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir, bila dibalas dengan tidak membenci. Inilah satu hukum abadi. 

 

Hanya mereka yang dapat menyadari kebenaran ini, akan segera mengakhiri semua pertengkaran, ” kata Baba Rudy menutup nasihatnya.

 

Melihat sikap Segera yang tidak mudah dinasehati, Karaeng Matterangi kemudian berkata, “Betul, apa yang dikatakan Baba Rudy, Nak. Semua yang Baba Rudy dan paman sampaikan kepadamu karena kami sangat menyayangimu. 

 

Jangan biarkan dirimu menderita, hanya karena memupuk kebencian dan keinginan untuk membalas dendam. Keputusan ada di tanganmu, Nak. Hanya kamu sendiri yang berhak menentukan akan seperti apa hidupmu kelak; bahagia atau menderita.”

 

“Mungkin nasihat Baba Rudy dan paman hari ini belum dapat membuat dirimu sadar untuk tidak membalas dendam. Namun paman yakin seiring berjalannya waktu, kelak kamu akan sadar, Nak. Semoga kamu tersadarkan sebelum jatuh lebih banyak korban, “ kata Karaeng Matterangi dengan mata berkaca-kaca.

 

Mendengar kata-kata pamannya, Segara diam seribu bahasa. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

 

Ternyata, nasihat paman dan Baba Rudy sore itu tidak mampu meluluhkan hati Segara. Tidak ada satupun nasihat paman dan Baba Rudy yang diturutinya. Hati dan pikirannya sudah dipenuhi dendam. Segara tetap berangkat ke Jakarta untuk menjalankan niatnya balas dendam.

 

***

 

Kematian tiba-tiba Karaeng Matterangi meninggalkan duka mendalam bagi Segara. Tidak pernah terbayangkan orang yang telah membesarkan dirinya akan meninggal dalam kondisi mengenaskan. Kematian pamannya terjadi hanya beberapa hari setelah pertemuan terakhir mereka. 

 

Seandainya saat itu, ia menuruti permintaan pamannya untuk kembali ke Butta Turatea, mungkin jalan ceritanya akan berbeda. Seandainya waktu itu, ia mendengar kata-kata paman untuk mengurungkan niatnya membalas dendam agar tidak jatuh korban jiwa lagi, mungkin pamannya masih tetap hidup. 

 

Kalimat-kalimat itu muncul silih berganti dalam pikirannya. Namun semua itu sudah terlambat, pamannya harus pergi untuk selama-lamanya. Segara sangat menyesal. Ia menyalahkan dirinya. Atas keangkuhannya kejadian tersebut terjadi.

 

Kini, di bangku taman kota, Segara merenungi kematian pamannya sekaligus teringat kembali semua nasihat paman dan Baba Rudy beberapa tahun silam. Apa yang dikatakan paman dan Baba Rudy betul adanya. 

 

Segara sekarang merasakan penderitaan yang membuatnya sangat menderita. Kehilangan satu per satu orang yang sangat dikasihi, mulai dari ayahnya lalu pamannya. Selama dirinya masih memupuk dendam, penderitaan tidak akan berakhir. 

 

Pikirannya menjadi kacau, hatinya pun menjadi bimbang. Tetap memupuk dendam ataukah harus mengakhirinya.

 

Batin Segara bergejolak. Amarah, benci, dendam, khawatir, sedih, takut, dan putus asa muncul bergantian. Terjadi pergumulan hebat antara hasrat kuat untuk balas dendam dengan suara hatinya untuk melupakan dendam. 

 

Setelah batinnya tenang, ia dapat berpikir matang. Keputusan Segara pun sudah bulat. Ia akan melupakan dendamnya pada Craen Mark. Tidak akan lagi menambah deretan panjang penderitaan karena kehilangan orang yang dikasihi dan juga penderitaan bagi dirinya sendiri. 

 

Segara bertekad menghancurkan akar dendam dan kebencian dalam dirinya. Semua ini dilakukan agar ia bisa hidup tenang dan bahagia.

 

“Masa bodoh dengan balas dendam. Cukup ayah dan paman yang menjadi korban. Saya tidak ingin menambah korban lagi,“ kata Segara mempertegas keputusan yang telah dibuatnya.

 

Segara teringat lagi Peri Bermata Hijau. “Saya harus melindungi Flora,” katanya dalam batin. “Saya harus mencari Flora untuk melindunginya”.*(midhata)



===Bersambung===



   *) Peranakan Tionghoa adalah keturunan Tionghoa yang sudah berasimilasi dengan bahasa dan budaya lokal. Sebutan untuk laki-laki adalah Baba, sedangkan untuk perempuan adalah Nona.

 

**) Cerita ini adalah fiksi. Nama-nama tokoh, tempat dan peristiwa merupakan rekaan semata. 

 

***) Bab 23 akan digubah oleh Ninik Karalo.






22 komentar untuk "Bab 22. Kalahkan Kemarahan dengan Cinta Kasih"

  1. Kontemplasi yang sangat dalam. Tentang cinta, kasih, dan melupakan dendam penuh kebencian.

    Keren, Pak Miguel.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, pak Budi. Semoga dapat bermanfaat. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  2. Keren Pak Miguel... semakin rumit, antara pilihan membalas dendam atau menghentikan kebencian... semoga Segara tidak berubah pikiran... 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mbak Sapta. Semoga Segara tidak berubah pikiran ya. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  3. Saya suka warna lokalitas yang menguasai bab ini, Koh Miguel. Pilihan tidak balas dendam itu akan menjadi bunuh diri paling sakit dan hina untuk Craen Mark. Tak sabar menunggu penulis berikut mengartikulasikannya. Bravo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, pak Felix. Semoga tulisan yang sederhana tersebut dapat menambah wawasan dan bermanfaat bagi pembaca.Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  4. Wah ada tokoh baru, kerrren πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, pak. Semoga dapat bermanfaat. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  5. Wah, semakin njelimet dan seru! Mantap Pak Miguel πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mbak Widz. Semoga dapat bermanfaat. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  6. Mak clessss... Ada yg dingin menelusup di kalbu.
    Keren , pak Miguel...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mbak Dewi. Semoga bermanfaat. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  7. Balasan
    1. Terima kasih, bu Ester. Iya, bu. Segara akhirnya tersadarkan. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  8. Balasan
    1. Terima kasih, Ayah Tuah. Semoga dapat bermanfaat. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  9. Waah makin seru dan kerenπŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, pak Warkasa. Semoga dapat bermanfaat. Salam Penuh Berkah.

      Hapus
  10. Balasan
    1. Terima kasih, pak Bamby. Semoga dapat bermanfaat. Salam Penuh Berkah.

      Hapus