Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bab 19: Meredakan Tegangan dengan Ballantine’s dan LC

Ilustrasi Lady Companion di Karaoke & Bar oleh AllClear55 dari pixabay.com
Ilustrasi Lady Companion di Karaoke & Bar oleh AllClear55 dari pixabay.com

<< BAB SEBELUMNYA: Cinta di Sepotong Piza Kembang Kol

Awan mengendap. Langit gelap. Bulan bersimbah darah. Halimun bernuansa merah merambat di antara pohon-pohon menjulang.

Udara lembab. Langit lindap. Dari ruang pengap Mansion Fiene roda-roda berpusing, berdecit-decit membelah kabut merah. Malam hening pecah.

Lengking 300 kuda menghambur dari dapur pacu berkapasitas 2.000cc turbo. VW Golf GTI Type R melesat bak anak panah, berkobar, meluapkan segala amarah. Berlari dan berlari menyusuri Autobahn)* menuju jalan tol dalam kota Jakarta.

Lampu-lampu Semanggi berkelebat, menuntun mobil hatchback berhenti di sebuah rumah mewah. Dari dalamnya, Segara menenteng dua potong kepala yang dari lehernya melelehkan cairan merah tua membasahi lantai.

Pedang Tranchant! Ya. Pedang Tranchant.

Senjata serupa keris Jawa tersebut benar-benar berkekuatan mistis. Tujuh lekukannya mengiris leher Craen Mark dan Maik Schulz dengan rapi. Tidak ada daging menggelepai seperti apabila digergaji.

Pemisahan kepala dari tubuh demikian mulus dengan suara merdu nan halus, seperti pedang sabel memotong batang pisang empuk.

"Dua kepala ini aku persembahkan untuk Ayah dan Paman"

Namun kedua orang tua itu memandang tanpa ekspresi. Karaeng Matterangi mengernyitkan dahi.

"Apakah ayah dan pamanmu bangkit dari kubur jika pembunuhnya kau bunuh?"

Kerongkongan Segara tercekat.

Pamannya mendesiskan nada rendah, "apa yang kau dapatkan dari balas dendam?"

Bayu Segara Sangguraja berkata gusar, "dan apa yang telah engkau perbuat dengan Flora?"

Dua sepuh menatap tajam. Segara menunduk.

Apa, apa, dan sejuta tanya “apa” memenuhi rongga kepala. Dada Segara Ananda Sangguraja berdenyut-denyut, resah.

Menyaksikan hal itu, sahabat almarhum ayahnya bersama lelaki penculiknya memperlihatkan gigi, menyeringai lalu tertawa. Menertawakan ketololan Segara.

Dua potong kepala semakin terbahak-bahak mengiringi hantaman tanya bertalu-talu. Memukul-mukul rongga kepala. Menggema menyesaki ruang sepi tiada tepi.

Dua butir kepala membentur kepala Segara. Leher-leher terpotong terus mengalirkan cairan merah membanjiri lantai. Segara tenggelam, terengah-engah berusaha mentas dari dinginnya lautan darah.

"Tidak! Tidak! Oh, tidaaaak!

Siraman air dingin membangunkan Segara. Tubuh berkeringat. Dada naik turun, oksigen berjejal masuk, bertabrakan dengan karbon dioksida yang mendesak keluar.

Kesadaran menunjukkan dua tangan terikat pada sandaran kursi yang didudukinya. Samar-samar terlihat tiga orang berbadan tegap di ruangan.

Segara mengingat-ingat peristiwa terakhir.

Ya. Ternyata, sahabat almarhum ayahnya ada di sini juga, di Jakarta. Bersama pria bule penculiknya, yang tidak diketahui namanya oleh Segara. Saat itu mereka terbahak-bahak.

Craen Mark kemudian melampiaskan kekesalan, menampar Segara dengan tanya menyudutkan. Orang yang menyebutnya papa, pria bule berlogat Saxon itu turut serta menghantamkan tangan terkepalnya ke rahang Segara. Berkali-kali. Segara bergeming.

Kini, Craen Mark dan pria bule yang belakangan diketahui bernama Maik Schulz tidak ada di ruangan, meninggalkan tiga orang kroco bersenda gurau.

Segara menggeliat. Kedua tangannya menarik cuff. Pada bagian ujung lengan panjang itu terselip benda tajam.

Seorang penculik mendekati. Secepat kilat Segara mengentakkan tangan, berguling, dan menyarangkan pisau kakinya ke leher penjaga lengah. Segara mengambil pistol terselip di pinggang si keparat, dan dengan sigap dua kali berturut-turut menarik pelatuk ke arah meja makan.

"Duar... duarrr ...," timah panas menembus jantung dua orang sebelum menyadari apa yang terjadi. Kemudian satu peluru di benamkan pada geliat penculik satunya.

***

Masse mendengar kisah petualangan kawannya dengan saksama dan berkesimpulan, bahwa lawan tanding Segara bukanlah orang sembarangan.

“Siapa tadi namanya?”

“Karaeng Marradia alias Craen Mark.”

“Ya. Untuk melawan Craen Mark engkau harus didukung oleh kelompok kekuatan sepadan. Bukan hanya mengandalkan otak dan kekuatanmu sendirian.”

“Aku harus membalaskan dendam, bagaimanapun caranya. Dua orang terdekatku hilang nyawa. Darah dibayar darah,” geraham Segara menggemeretak. Matanya menggelorakan kemarahan.

“Baiklah. Engkau aku perkenalkan kepada Big Boss. Jangan tanya namanya! Ia tidak suka. Sebut saja Sachoo (dibaca: sacu, Bahasa Jepang yang artinya: Direktur Utama),” ujar Masse.

Segara meragukan pernyataan Masse, “siapa dia?”

“Dengar! Dengarkan dulu,” kawannya itu melanjutkan penjelasannya.

Bernaung di bawah bendera perusahaan entertainment resmi, Sachoo merekrut wanita-wanita dari berbagai daerah. Ia mengirim gadis-gadis bersahaja ke Jepang, dalam balutan duta kebudayaan dalam rangka mengelabui otoritas.

Dalam praktiknya, ia bekerjasama dengan Yakuza, baik ketika pendampingan proses seleksi wanita-wanita di Jakarta, maupun pengawalan dan pengawasan di pusat-pusat hiburan malam di Jepang. Dengan kata lain, perusahaan milik Sachoo terlibat dalam human trafficking.

Jadi Masse mempermaklumkan, Big Boss memiliki koneksi kepada organisasi bawah tanah besar yang bergerak di bidang perdagangan amphetamine, prostitusi, pemerasan, hingga penyelundupan senjata.

Diketahui, kelompok Yakuza memiliki hubungan lintas benua dengan kelompok-kelompok di China, Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika.

Maka, tanpa membantah lagi, Segara melaju bersama Masse menuju Melawai, Jakarta Selatan.

Pada ruang VIP sebuah Karaoke & Bar termewah di kawasan tersebut, Masse membungkukkan badannya kepada seorang pria berperawakan pendek, bermata sipit, dan berkulit putih. Penguasa dunia hitam se Jabodetabek itu memberikan kode kepada Segara agar mengikuti lakunya.

Setelah berbasa-basi dan memperkenalkan karibnya, Masse kemudian mempersilahkan Segara agar bercerita langsung kepada pria berwajah dingin di depannya.

Segara mengisahkan dendam dan konfrontasi dengan Craen Mark beserta pasukannya. Setelah lepas dari penculikan, tekat Segara makin kuat: menghancurkan Craen Mark dan Maik Schulz. Namun pasukan yang membentenginya amatlah kuat. Segara memerlukan pasukan yang setanding.

“Bagaimana kamu yakin mengenai kekuatan kami? Dari cerita Masse? Kira-kira, apa yang akan saya dapatkan?”

Segara menatap pria di depannya, “selain di Jepang sendiri, bukankah kelompok Anda memiliki hubungan lintas benua dengan kelompok-kelompok di berbagai wilayah, termasuk Eropa?”

Sambil terus memperhatikan reaksi lawan bicaranya, Segara melempar truf.

“Begini Sachoo, menghancurkan Craen Mark, kelompok Anda berarti menguasai bisnis narkotik, prostitusi, dan perdagangan senjata di Berlin dan Hamburg. Dengan itu Anda menguasai juga dunia gelap Jerman.”

Pria peranakan Indonesia-Jepang tersebut diam. Menatap tajam, matanya menembus relung-relung terdalam untuk memastikan keteguhan Segara.

“Saya suka dengan gagasanmu, anak muda,” sambil mengangkat minuman.

Segara tersenyum menyambut toast minuman Sachoo, lalu menenggak cairan bening yang dingin dari gelas sherry copita.

Masse memandang takjub.

“Itu bisa diatur. Bagi Yakuza, mereka adalah pesaing dalam bisnis ilegal antar negara."

Satu gadis pendamping Segara menuang Scotch Whisky dari botol Ballantine's 17 year old ke gelas kosong. Segara membalas senyum menawan Lady Companion (LC) berwajah bening.

Kini ia jauh lebih tenang, setelah mereguk Ballantine’s dan memahami pernyataan Sachoo.

Sachoo melanjutkan, "untuk meredakan tegangan, sekarang pilih di antara gadis-gadis ini agar kaubawa untuk membunuh sepinya malam. Oh ya, jangan cuma ambil satu!"

Segara mengamati enam LC cantik dan super seksi di ruangan itu. Bayangan Peri Bermata Hijau menari-nari. Ingatannya terbang menuju Nicolas Quarter, hinggap pada atap Mansion Fiene.

Pada saat yang sama, Flora Aurora Bunga memikirkan Segara Ananda Sangguraja. 

Di mana keberadaanmu sekarang? Aku memerlukan kamu untuk menghadapi ayah. Jika tidak, apa yang harus dilakukan? Mengucilkan diri?

Pening memikirkan perubahan hormon yang terjadi pada tubuhnya, Flora menarik napas, lalu memejamkan mata.

Angin tipis mendesis. Suasana Mansion Fiene lebih sepi dibanding biasanya, semenjak lawatan bisnis ayahnya ke Jakarta. Demi menjamin keamanan, setiap sudut Mansion dijaga ketat oleh orang-orang pilihan yang terlatih.

Akan tetapi itu tidak cukup bagi empat penyusup dari kawasan tepi sungai Havel, pinggiran kota Berlin.

Mereka menikam cepat para penjaga dalam aksi senyap. Medan pertempuran Afghanistan telah membentuk para penyusup menjadi pembunuh berdarah dingin. Ihwal mudah bagi mereka melumpuhkan penjagaan super ketat.

Satu orang memanjat dinding berwarna terracotta, mengendap, dan mendobrak jendela, sekejap menerobos kamar atas.

Mendengar itu, dengan tangkas Flora meraih senjata di bawah bantal. Bangkit dari tempat tidur, kemudian ia mengarahkan FN Five-seven semi otomatis ke sebuah siluet yang menggetarkan hatinya.

Di atas serpihan kaca, berselimut kabut debu, sosok wajah dan tubuh memesona --yang selama ini mengusik pikirannya-- berdiri gagah membidikkan senapan M4A1 kepada Flora.

"Kylian ...???"


SELANJUTNYA>>

Catatan:

)* Autobahn adalah jalan bebas hambatan di Jerman yang sebagiannya cenderung tanpa batas kecepatan.

)** Cerita ini adalah fiksi: nama-nama, tempat, dan peristiwa merupakan rekaan semata.

)*** Bab 20 akan digubah oleh Dewi Leyly.



28 komentar untuk "Bab 19: Meredakan Tegangan dengan Ballantine’s dan LC"

  1. Wuiih.. membaca ini berasa menonton film di layar lebar😅👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas Warkasa.
      Semoga menikmati.

      Hapus
  2. Woowww .....seruuuuuu....di akhir....Kylian sdh siap membunuh Flora ...on the track...kereeeen... 👍👍👍👍👍

    BalasHapus
  3. Wah! Tambah seruu! Popcorn mana.. popcorn?

    BalasHapus
  4. Wah mantap nih serasa nobar 😁😀

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Dewi. Menunggu seri selanjutnya.

      Hapus
  6. Wow Craen Mark dan Maik memang mendebarkan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas Fredy. Semoga menikmati.

      Hapus
  7. Seru, darah harus dibalas darah. Duar, duar,... duaaaaaar

    Salaman 🤝 Mas Budi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah masuk ke film action ya. Hehehehe.

      Salaman, Pak Katedrarajawen.

      Hapus
  8. Aseeekkkkk, kau memang Pamanku... 🥰
    egh... Ohm Bud... makasiiiih😁😁

    BalasHapus
  9. Seru! Tapi jangan dikira Flora gadis ulat daun. Gampang dibunuh. Dia anak Craen Mark, duplikatnya dalam tubuh molek gemulai. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener itu. Bukan hal yang gampang untuk menaklukkan Flora yang terlatih bela diri.

      Hapus
  10. Asyik, Yakuza ikut terlibat. Tapi yang teringat LC berwajah bening, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tinggal pilih. Semua bening dan masih belia

      Hapus
  11. Lupa, kalau ini novel. Dendam darah, diculik, tangan diikat, bar....
    Ingat film action.

    Semangat, Pak Budi🤩

    BalasHapus
  12. Biyuh jan tulisan berkelas ini mah. Keren abis Mastah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, baru belajar. Baru sekali ini ikut dalam proyek bikin novel.
      Terima kasih banyak, Mbak Nazar.

      Hapus
  13. Keren abis, baru sempat mampir Pak Budi, emang penulis kawakan. Mantap surantap

    BalasHapus