Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sayang, tidak Selamanya Daun Berwarna Hijau

Ilustrasi pucuk daun kepel berwarna merah muda cerah (dokumen pribadi)
Ilustrasi pucuk daun kepel berwarna merah muda cerah (dokumen pribadi)

Sepulang sekolah wajah Fia tampak murung, menunjukkan pe-er mewarnai gambar memperoleh nilai lima, digurat dengan tinta merah.

"Kata guru, daun harus berwarna hijau. Tidak boleh merah muda, coklat, dan warna selain hijau."

Bapak Fia merasa bersalah. Kemarin ia meyakinkan Fia bahwa pada saat mewarnai gambar ia memiliki kebebasan untuk berekspresi. Tidak harus tunduk kepada ketentuan umum yang menyatakan bahwa warna bersifat monoton. Daun berwarna hijau. Batang pohon berwarna cokelat. Langit berwarna biru.

Dalam menyatakan gagasan seni, ada kebebasan yang dimiliki oleh sang pencipta atau pemberi warna. Sang pencipta adalah pihak pencetak buku bergambar. Pemberi warna adalah murid kelas 2 SD, seperti Fia.

Menurut pemahaman bapaknya, pemberi warna bebas mengekspresikan perasaan, sepanjang memenuhi estetika umum.

"Daun boleh diwarnai merah muda?" Tanya Fia yang favoritnya warna merah muda.

"Boleh. Warnai dengan apa saja. Merah muda. Cokelat. Bahkan hitam. Mana saja yang kamu suka, asalkan terlihat indah dan dapat dinikmati hasil mewarnai itu."

Dengan suka cita, ia mewarnai buku gambar dengan crayon warna-warni. Kegembiraan terpancar dari wajahnya.

Itu hari sebelumnya. Esoknya, terlihat wajah berbeda. Mendung menggelayut pada wajahnya.

"Bu Guru bilang ini salah, daun harus berwarna hijau. Kata bapak...?"

Bapak Fia menarik napas, "benar, daun umumnya berwarna hijau, apakah hijau muda, hijau biasa, atau hijau tua."

"Jadi?"

"Gurumu tidak salah. Cuma ia barangkali kurang wawasan."

"Maksud bapak?"

"Ya. Warna itu timbul karena adanya cahaya yang memantulkan warna. Daun umumnya berwarna hijau, tapi ada juga daun berwarna cokelat dan merah muda."

"Seperti apa?"

"Daun-daun kering cenderung kehilangan warna hijau, berganti dengan warna cokelat. Pucuk daun pohon kepel berwarna merah muda cerah pada saat-saat tertentu."

Pohon kepel dengan daun warna-warni, bukan hanya hijau (dokumen pribadi)
Pohon kepel dengan daun warna-warni, bukan hanya hijau (dokumen pribadi)

"Kalau daun berwarna gelap?"

"Ketika daun kurang mendapat cahaya, ia akan memantulkan warna gelap, kadang hitam. Coba tengok tanaman pada waktu malam tanpa cahaya lampu atau sinar bulan."

"Iya juga sih," wajah Fia mulai bersinar.

Bapak Fia memeluk anak perempuannya, "sayang, tidak selamanya daun harus berwarna hijau.”

Lanjut bapak Fia, “tapi Bu Guru tidak salah, ia hanya kurang jauh mainnya. Kenyataannya, daun-daun berwarna-warni, tergantung sifat dan pencahayaan yang diterima."

Bapaknya menepuk-nepuk punggung Fia, "lagi pula, kamu berkuasa atas pewarnaan gambar itu. Kamulah yang dapat mempertanggungjawabkan hasil pewarnaan itu, dengan menyampaikan argumentasi logis."

"Tentang pewarnaan gambar itu?"

Bapak Fia menuliskan angka sepuluh di atas kertas itu.

12 komentar untuk "Sayang, tidak Selamanya Daun Berwarna Hijau"

  1. Wahhhh... Aku belum pernah dapat nilai 10 untuk menggambar dan mewarnai. ☺️☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bapaknya yang ngasih nilai sepuluh, guru sih ngasih lima

      Hapus
  2. Daun muda emang selalu menarik,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haiyyah...eta mah benten deui... Hahahaha

      Hapus
    2. Enak buat lalapan 🤣

      Hapus
    3. Bener. Lalapan, sambel, peuteuy, asin gabus

      Hapus
  3. Mantap nih om Budi 👍👍👍

    BalasHapus
  4. Ah. Seandainya bu guru belajar warna pada Bapak Fia...
    Keren pak Budi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar gak monokrom ya, ketika melihat dunia.
      Terima kasih, Mbak Dewi

      Hapus
  5. Ngebayangin daun warna pelangi, pasti lebih menarik...

    Kerennn Om Budi.

    BalasHapus