Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bab 17. Doa di Ujung Nyawa

 
 
 
 
 
"Berbuatlah seperti yang ada dalam otakmu. Penuhi imajinasimu untuk melakukan apa pun yang kaumau. Imajinasi, ya, hanya imajinasi!"

Desis suara sopir mengentak benak Segara. Pesta tawa sontak memekakkan kupingnya. Hatinya mendadak berasa kecut. Derai tawa membahana terus memebuhi kabin Hummer. Ia melirik kanan kiri. Dua lelaki berbadan tegap memepetnya di jok belakang. Seorang lelaki duduk di jok depan di samping sopir. Tiga orang itu hanya terbahak-bahak mengikuti gestur lelaki di belakang kemudi. Ia mencoba mengamati roman sopir lewat kaca spion tengah, tetapi tidak ada apa-apa yang bisa ia kenali. Lelaki itu sepertinya baru ia lihat. Hanya masker hitam dan mata sedingin belati. 

Pesta tawa belum terhenti. Segara merasa sedang di atas panggung dan dipaksa menari striptis. Dadanya seakan-akan hendak meledak karena amarah sekaligus desakan rasa putus asa karena tidak berdaya melakukan apa-apa. Matanya membelalak melihat jas hitam dan hem putih yang dikenakan oleh lelaki di belakang setir. Benaknya kembali memampang pamannya, Karaeng Matterangi, yang mati mengenaskan. Empat lelaki inilah jahanamnya. 

Ia menggeram. "Keparat!"

"Hahaha, percuma kamu memaki-maki kami," kata lelaki jangkung di belakang setir. 

"Jahanam!"

Sebuah sodokan telak menghantam ulu hati Segara. Ia tercekut. Jantungnya bagai copot dari katupnya dan mencelus ke lantai mobil. Dadanya disesakkan oleh amarah dan rasa putus asa. Rasa amarah itu makin membuncah ketika melihat lelaki di sisi kirinya meringis. Ingin sekali rasanya ia cabut gigi lelaki itu satu per satu hingga semua gigi lelaki itu tanggal. Ingin sekali ia balas kematian pamannya yang mengenaskan. 

Sesuatu yang hangat membasahi pipi Segara. 

Baru kali ini ia menangis lahir batin. Segara Ananda Sangguraja bukan lelaki yang gampang meneteskan air mata. Bahkan ketika ayahnya mati di hadapannya pun ia tidak pernah diam-diam menangis. Bahkan ketika ia tahu dirinya tiada beda dengan anak yatim piatu pun ia tidak pernah membasahi bantalnya dengan air mata. Kali ini tidak. Air matanya menitik lantaran ia merasa tidak berdaya. Kematian pamannya benar-benar mengguncang jantungnya. Persendiannya bagai dilolosi satu demi satu. Tulang-tulangnya seperti benang basah saja. Tidak ada yang dapat ia lakukan. Tidak ada. Ia berada di antara para keparat yang menghabisi pamannya, tetapi ia tidak mampu membayar dendam. Sumpah serapah pun tidak sanggup lagi ia lontarkan. Kepalan dan sepakannya yang kerap menciutkan nyali musuh kini tidak berdaya walau sekadar melepaskan diri dari belitan tali. 

Ia pejamkan mata. "Keparat kau!"

Satu sodokan kembali menghantam rusuknya. 

Segara mengumpulkan tenaga. Dengan satu tolakan pada telapak kakinya, ia berdiri dan mengulurkan tangan ke depan. Ia berniat mencekik leher lelaki di belakang kemudi. Biar mobil oleng, biar semua lelaki kehilangan keseimbangan. Namun, niatnya terhenti. Tangannya tiba-tiba sudah terpapas. Tubuhnya terlontar ke jok seperti karung beras dilempar ke dalam truk. Tulang punggungnya berderak karena tinju lelaki di sisi kanannya. 

Dan, lehernya terpiting. Tangan kekar lelaki di sisi kirinya kini menekan jakunnya. Segara tersedak. Cekikan di leher membuatnya susah menghela napas. Tulang lehernya serasa patah menahan tekanan. 

Kau hanya boleh berfantasi, ujar lelaki di sisi kirinya sembari menambah tekanan tangan pada jakun Segara. "Hahaha!" Ia terkikik lirih. 

"Satu gerakan lagi, kepalamu segera terpuntir ke belakang!" 

Keras sekali kuncian di leher Segara. Jangankan membalas bentakan, bernapas saja sulit bukan kepalang. Ia mengatur napas, menenangkan hati, dan mencoba bertahan. Ingatannya lagi-lagi memampang bayangan ketika terakhir kali ia bertemu dengan pamannya. Ia teringat pada larangan pamannya untuk membalas dendam. 

Karaeng Matterangi, pamannya yang baik hati, kini sudah mangkat dalam kondisi yang amat memilukan hati. Akhir yang sama sekali tak diinginkan. Jakarta bukanlah tujuan akhir sang paman untuk menikmati sisa-sisa hidup. Pamannya ingin mengembuskan napas terakhir di tanah kelahiran. Ia menyesal tiada tara. Hatinya dikerat sembilu karena gagal menyaksikan Karaeng Matterangi meninggalkan dunia fana ini. 

Air matanya menitik lagi. Tekanan di jakunnya belum terlepas. Ia memejamkan mata. Ia teringat bagaimana Craen Mark menetak leher ayahnya dengan kapak. Ia teringat bagaimana darah membasahi dan mengaliri lantai flatnya di sudut tenggara Nikolaiviertel, Berlin. Ia teringat perempuan pertama yang menjatuhkan hatinya dan memanaskan berahinya, Flora. Ia teringat betapa remuk redam hatinya ketika mengetahui fakta bahwa Flora adalah adik kandungnya yang ia tiduri atas nama cinta. Air matanya mulai menderas. Bayangan Flora seketika membuat dirinya nista tiada terkira. Seketika ia merasa dosa menjalari pori-porinya.

Semua gara-gara Craen Mark.
Lelaki itu, Karaeng Marradia, telah membuat hidupnya porak poranda. 
Mobil terus melaju. Cekikan dan tekanan di lehernya akhirnya terlepas. 
"Tuhan!" Segara berbisik lirih. Dadanya lega. Hatinya merintih. Tuhan, Allah Rabb-ku, izinkan aku tetap hidup. Akan kutebus dosaku, akan kukabulkan segala pesan pamanku. Mendadak dada dan kepala Segara bagai diguyuri air dingin. Sejuk sekali. Tiada lagi rasa sakit di dadanya. Matanya membuka. Pandangannya menyapu ke depan. Terlihat bangunan tinggi menjulang. Jalanan mulus beraspal terhampar. Mobil-mobil mewah berjajar di ruas jalan. Ia bisa mengenali di mana kini ia berada. Bundaran Hotel Indonesia. Lalu semuanya menghilang. Matanya ditutupi lakban hitam. Gelap. Gelap. Semata-mata gelap.

Tetapi Segara sudah tidak merasa takut.
Mobil berhenti. 
"Turunlah, Bangsat! Lelaki di belakang kemudi kembali mendesis. Kamu akan dihabisi oleh papaku. Hahaha. Papaku akan menikmati pesta terindah malam nanti." 

Segara setengah diseret turun dari mobil. Ia merasa sebuah benda kecil menempel di pinggangnya. Ketika lakban matanya dilepas, ia melihat moncong pistol mencium pinggangnya. Pistol itu siap meletup jika ia tidak menurut. Di bawah todongan, ia turun dari mobil. Matanya terbeliak. Ia melihat bangunan yang tinggi menjulang. Sebuah hotel. Pantas saja lelaki yang pelan-pelan mendorong tubuhnya memasukkan lengan ke dalam jas ketika menodongkan pistol. 

Aku seorang tawanan di Jakarta, kata Segara di dalam hati. Tuhan, beritahukan kepadaku siapakah papaku yang dimaksud oleh bangsat ini! 
 

Anis Contess

Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat dan peristiwa hanya kebetulan belaka dan tidak ada unsur kesengajaan. Selanjutnya Bab 18 akan digubah oleh Siti Nazarotin

 



13 komentar untuk "Bab 17. Doa di Ujung Nyawa"

  1. Wow, makin tegang. Penulis Bab 18 pura-puta sibuk masak, padahal pikiran kalut, gorenga ayam sudah gosong

    BalasHapus
  2. Hikz kejam

    Apik Mbak Anis

    Hikz melas Segara

    BalasHapus
  3. Wah ...seru, ada gelut2nya...dan cerita sprtinya masih akan panjang...srptinya bisa sampe bab 40an...hehehe..nasib Segara masih belum menentu, apalagi rencananya membunuh Flora...sepertinya masih jauh....hehehe

    BalasHapus
  4. Bagianku nanti tambah rumit dan mumet hahaha
    Keren Mbak Daya...

    BalasHapus
  5. dahsyaat, kaka...... top pisan euy...

    BalasHapus
  6. Uapik tenan. Duh, aku deg-degan

    BalasHapus
  7. Kuereeen mbak Nies! Menegangkan!

    BalasHapus
  8. Waah.. keren๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘

    BalasHapus
  9. Wihh, tambah menegangkan, keren Mba Anis

    BalasHapus