Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Rencana

Sebuah Rencana

Foto oleh Alex Green dari Pexels



<< Sebelumnya

Bab 3

Sagara geli mengingat ucapan pamannya. Apa yang pamannya tahu tentang dendam? Tanyakan itu pada para pendukung timnas Inggris yang masih sakit hati akibat gol Lampard yang tidak disahkan pada piala dunia saat berhadapan dengan Jerman beberapa tahun lalu. Bola yang terang-terangan sudah masuk ke gawang ditampik oleh sang wasit. Jika disahkan, skor akan menjadi imbang 2-2 dan tentu akhir cerita bisa saja berbeda. Inggris belum pasti pulang dengan kepala tertunduk dengan skor telak 1-4.

Bayangan kapak dan darah itu masih jelas membekas di kepala Sagara. Lebih jelas dari bekas telapak tangan Flora yang baru bersarang di pipi Sagara. 

Tentu saja, Sagara tidak sakit hati atas tamparan itu. Ingin ia hentikan Flora saat beranjak pergi, tetapi hanya punggungnya yang mampu ia tatap.

Hidup ini seperti papan catur. Rasanya, ia merasa dan flora hanyalah bidak-bidak catur-Nya. Tidak tahu permainan seperti apa yang akan dimainkan. Satu hal yang pasti, jika Craen Mark adalah raja lawan, ia yang harus mematikannya.

Sagara membuka ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab. Ia sudah membuat janji untuk bertemu dengan beberapa orang selama di Paris. Orang-orang yang akan berperan penting dalam rencana pembalasan dendamnya.

Sagara mengangkat teleponnya. Satu huruf tertera di sana: K. Tidak butuh waktu lama sampai sang penerima telepon menjawab panggilan itu.

"Halo, Sagara!"

Suara berat yang khas masuk ke telinga Sagara. Yang Sagara tahu, K adalah orang Indonesia yang sudah lama merantau ke luar negeri. Saat perang Afghanistan, K ikut berangkat sebagai relawan. Saat itu, tidak sedikit orang Indonesia yang ikut berperang melawan Soviet. Panggilan jihad katanya. K adalah salah satunya. Dan setelah itu, K tidak kembali ke Indonesia, dan memilih hidup sebagai seorang Eropa.

"Ya, K."

"Aku melihatmu tadi bersama seorang perempuan. Apa artinya kesepakatan kita berubah?"

"Tidak, tidak. Dia di luar rencana. Aku hanya kebetulan bertemu dengannya. Kau di mana?"

"Kau lihat mobil hitam di luar?"

"Mobil kodok itu?"

"Ya."

"Masuklah!"

Sagara segera keluar restoran. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikannya, ia menuju mobil, membuka pintu belakang, dan ia saksikan seorang pria di kursi depan yang jauh dari kesan teroris tersenyum kepadanya. Tidak ada janggut, tidak ada brewok. Pria itu memakai jas hitam dan mengenakan topi seperti Lupin. 

"Bagaimana kota ini?" tanyanya.

"Entahlah.... tergantung perbandingannya."

"Dengan Jakarta tentu saja..."

"Haha... aku pikir Jakarta akan selalu buruk dibanding dengan kota mana pun."

"Lalu Makassar?"

"Lucunya, Makassar sedang belajar menjadi Jakarta."

K tertawa mendengar jawaban Sagara. Dia lalu mulai menjalankan mobilnya.

"Aku harus memanggilmu K, hanya K?" tanya Sagara.

"Agak aneh memang. Tapi kau boleh memanggilku Kylian..."

"Apa kau fans PSG?"

"Kebalikannya tentu saja. Tidak mungkin bagiku menyukai klub kapitalis seperti itu. Tapi aku tidak menampik menyukai Mbappe. Kita orang Indonesia selalu menyukai pemain bola yang kencang-kencang larinya."

"Ya, pemain Indonesia juga terkenal cepat."

"Tapi tidak punya otak," jawab Kylian dengan cepat pula.

"Kita akan ke mana?" tanya Sagara.

"Tidak akan ke mana-mana. Kita hanya akan berputar-putar sampai pembicaraan kita selesai. Kau sudah bawa yang aku minta?"

"Ya. Semua yang aku miliki tentang Karaeng Marradia sudah kubawa."

"Pekerjaan ini terus terang saja jadi personal buatku. Bukan karena kau orang Indonesia, tapi karena aku benci pengkhianatan."

"Haha... tapi aku tidak boleh bertanya padamu kenapa demikian, bukan?"

Sagara memberikan flashdisk kecil berisi data tentang Karaeng Marradia. "Dia bukan lawan yang enteng."

"Kalau enteng, kau tidak perlu menghubungi Assasins, Kawan...."

"Ya akan lebih sulit karena aku minta kalian tidak langsung menghabisinya."

Kylian tersenyum. Tampak dari spion tengah. "Mata balas mata. Nyawa balas nyawa," ujar Kylian. "Aku menyukai itu," tambahnya.

Mobil berhenti di sebuah jalan yang sepi. Sagara turun dan menyaksikan mobil hitam itu melaju. Sagara tidak langsung beranjak. Ia memperhatikan jalanan dan gedung-gedung Paris dengan perasaan khidmad. Sebentar lagi, waktu yang ia tunggu-tunggu seumur hidup, setelah giat dan keras belajar segala jenis silat, akan menemukan gongnya. Kepada Assasins ia hanya meminta untuk menangkap Karaeng Marradia, menyekapnya di sebuah tempat, dan menyiapkan sebuah arena pertarungan. Tangan Sagara terkepal dan tak sabar menjajal kemampuan pembunuh ayahnya itu.

(2021)

 

Catatan: Bab 4 akan digubah oleh Ita Sembiring

10 komentar untuk "Sebuah Rencana"

  1. Wah semakin seru nih dan semakin dekat bagianku 😁

    BalasHapus
  2. Wah... kirain si K itu Khrisna hahaha...

    Pembukanya menorehkan bahwa Bab 3 ditulis saat Euro 2021

    BalasHapus
  3. Waah... Makin seru nih😅👍👍

    BalasHapus
  4. Semakin seru semakin ndredeg

    BalasHapus
  5. Aku lupa nomor berapa, semoga bisa menulis nanti bila tiba giliran ku

    BalasHapus
  6. ane kagak tahu urutan ke brp😭 emang ada urutannya yak?
    O, mon Dieu.. . rasanya kek org jantungan tiap kali ganti bab..

    BalasHapus
  7. mengalir ceritanya....
    siip deh.... 👍👍

    BalasHapus
  8. Keren banget ceritanya...
    Oh yah, untuk teman-teman yang ingin mencari tempat untuk guest post bisa banget loh, di web kami Yoexplore . co . id

    BalasHapus