Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sebuah Pertunjukan

Ilustrasi seorang lelaki menghunus pedang (foto: ImaArtist Via Pixabay)

Cerita sebelumnya >>

Desir angin menyelinap dari balik pintu yang terbuka. Segara Ananda Marradia, lelaki berparas tampan dengan tatapan dingin membuat jantungnya berdegup kencang. Diakah jawaban seluruh hasrat bergelora. Dan jemari lentik, dituntun gairah untuk menyentuh setiap jengkal tubuh perkasa di hadapan. Diana tak dapat menahan diri. 

Gemericik gerimis terhenti, saat Segara melangkah masuk. Pintu tertutup. Dan semuanya begitu sempurna untuk Diana. Ia berharap Craen Mark takkan pernah tiba. Terlebih saat ini, batinnya meronta untuk melepaskan dahaga akan keperkasaan dan sentuhan cinta. 

Malam itu, Kylian mengundang Segara untuk menyerahkan Craen Mark ke tangannya. Akan lebih berkesan bila menghabisi pembunuh itu di depan perempuan simpanannya.

Gadis cantik yang selama ini Craen Mark sembunyikan. Tak tersentuh lelaki lain. Bahkan dirinya sendiri. Kesepian dengan jiwa kering kerontang. Mendambakan kasih sayang dan belaian. Diana adalah korban yang dimanjakan. Obsesi akan Perawan Vestal yang belum terobati. 

"Inikah hadiah istimewa dari Tuanku? Tuan yang merenggut seluruh kehidupan dan masa muda. Mengurung jiwa dan tubuhku dalam sangkar emas!" Diana berusaha menerka-nerka kedatangan Segara.

Tubuh perempuan molek dan mulus tanpa sehelai benang, tak membuatnya bernafsu. Dari desahan nafasnya yang tersengal dan cara Diana membelai tubuhnya. Ia dapat menerka, bahwa perempuan itu masih perawan. 

Namun Segara membiarkan Diana memeluk dan membelainya lembut. Hingga perempuan itu, menuntun semakin dalam memasuki ruangan mewah tersebut. 

"Karaeng Marradia, kupastikan engkau takkan melihat matahari esok pagi!" 

Bara dendam dalam dada Segara kembali bergejolak. Kedua tangannya terkepal. Ia tak sabar menanti, untuk melihat Kylian menyeret pembunuh keji itu ke tempat ini. 

"Tanganmu mengeras, apakah yang lainnya juga? Apa tidak terlalu cepat?" Diana tersipu dan mengira urat-urat di tangan kekar itu menegang akibat ulahnya. 

Pandangan Segara berpindah ke sekeliling ruangan. Sepasang estoc dari abad ke-15 mengalihkan perhatian. Kedua pedang bersilang yang terpajang di tembok putih itu, milik de Houtman bersaudara. 

"Bajingan itu pencuri tengik!" ucapnya dalam hati. Pada saat melihat salah satu estoc dengan bekas goresan yang cukup dalam. 

Itulah estoc milik Cornelis de Houtman. Penjelajah liar perusahaan dagang Belanda. Rentetan kejayaan dan reputasi agungnya terhenti di tangan pemimpin Inong bale.   

Pada pertempuran di atas kapal Duyfken di selat Malaka pada tahun 1599. Cornelis de Houtman tewas dihujam rencong milik Laksamana Malahayati. Meskipun kisahnya tak se-agung Joan of arc, yang bahkan tidak pernah mengangkat pedang untuk membunuh musuh-musuhnya.

Namun bagi Segara, kisah itu lebih dari sekedar sejarah. Heroisme yang lahir dari cinta dan kasih sayang. Laksamana Malahayati menunjukkan, bagaimana rasa kehilangan mendalam dapat memberikan kekuatan. 

Kekuatan serupa diperjuangkan Segara, yang terenggut kebahagiaan masa kecil akibat kehilangan sosok ayah. Dan ibu, yang menanggung penderitaan seumur hidup.

Memaksa Segara kecil menghabiskan masa kecil untuk belajar membunuh. Menyerap dalam-dalam teknik beladiri di Nusantara. Mulai dari Sendeng, Cimande, Harimau, Macan Kumbang dan Pusaka Wangi.

Mengais ilmu dari padepokan silat ternama sampai pelosok desa terpencil. Hatinya lebih keras dari batu. Luka hal yang biasa. Rasa sakit, santapan sehari-hari. Dan menanti segala kengerian itu, ia kembalikan kepada sebuah nama. "Craen Mark!"

**

"Kylian lakukan tugasmu dengan baik," desis Craen Mark di sebuah ruangan gelap dengan delapan layar cctv di hadapannya. Kepulan asap cerutu, laksana kabut di dasar lembah yang pekat. 

Craen Mark tak sabar menantikan kejutan. Menantikan pertunjukan gladiator yang dijanjikan. Tak ada yang lebih menyakitkan dari sebuah erotisme yang terhenti sebelum klimaks. Dan dikhianati orang kepercayaan, tentu menambah penderitaan. 

Kartu As saat ini sudah di tangan. Membalik bidak catur melawan rajanya sendiri. Kylian menerima kesepakatan yang lebih menggiurkan. Karena uang berbicara lebih lantang daripada khotbah di dunia ini. 

Cawan berisi Chateau Lafite, diapit di tangan kiri. Masih utuh. Menanti dinikmati bersama cerutu Arturo Fuente Opus, untuk sebuah pertunjukan yang akan disajikan Kylian. Ujian hidup mati untuk Segara dengan pertaruhan mahal. 

Bila pembunuh bayaran itu meleset menjalankan tugas, mungkin ia akan kehilangan gadis simpanannya di atas ranjang atau bahkan lebih buruk. Namun reputasi Kylian membuatnya cukup nyaman. 

Kabar dari komunitas Hashashin di Lebanon dan desas desus yang beredar dari konflik Suriah. Masih menempatkan Kylian sebagai anjing pemburu paling mematikan. 

**

Diana mendaratkan ciuman di leher Segara. Memainkan lidahnya seolah tengah menikmati sebatang es krim. Basah dan bergairah. Segara hanya dapat ternganga menahan gairah. Bulu kuduknya berdiri bersama libido yang semakin tinggi. 

Tiba-tiba sebilah pedang melesat. Menancap tepat di sebelah bantal, tempat Segara akan bersandar. Kepanikan menjalar pada Diana yang mendadak pucat. Ia tergesa bangkit, dan berlari telanjang keluar ruangan. 

Teriakan histeris Diana memecah keheningan. Bagai pekikan terompet perang. Kylian dan Segara saling menatap dalam kebencian. Dan tubuh mereka telah bersiap untuk sebuah pertempuran. 

"Kylian! Bagiku, saat ini engkau layaknya anjing lapar yang bermimpi memangsa tuannya!" 

"Apa yang kauharapkan dari pembunuh bayaran sepertiku? Bahkan Hashashin di masa lalu, mau mengabdi pada Richard berhati singa untuk menghabisi musuh-musuhnya!" jawabnya lantang. 

Kylian menjatuhkan pistol dari pinggang sebelah kanan. Mengambil estoc yang terpajang di dinding. Menjilat ujung pedang dan tersenyum menantang. 

Segara mencabut sebilah pedang yang tertancap, matanya menyisir mata pedang dengan seksama. Mengayunkan pelan dan bersiap menerima serangan Kylian. 

Terjang! teriak Craen Mark di balik kegelapan. 

Tebasan pertama Kylian mengarah pada leher Segara. Setelah meleset, kemudian dihunuskannya ke arah perut. Segara berhasil menepis dengan ayunan pedang menyilang. Menjaga jarak dan bersiap menyerang balik. 

Dentang pedang beradu tak terhindari. Hingga sebuah pukulan dari segara membuat perlawanan Kylian berantakan. Meskipun satu sabetan berhasil melukai punggung lawan, Kylian harus kehilangan pedangnya. 

Segara tak menyia-nyiakan momentum, ia tebas dari atas. Dan tak disangka, Kylian secepat kilat mengayun sebuah kursi dan membuat pedang itu melayang ke udara. 

Pilihannya hanya menerjang, dan dengan sekali hentakan, tubuh Kylian terjatuh ke lantai. Tendangan keras pun diayunkan Kylian, menghantam betis kiri Segara. Dan kesempatan itu digunakan untuk memulai pergumulan bawah. 

Kylian mengunci tangan dan leher Segara. Triangle choke dipakai untuk melumpuhkan perlawanan. Namun bagi Segara, bertahan tidaklah sulit. Ia sudah terbiasa melepaskan diri dari kuncian semacam itu. Bahkan kuncian maut dari aliran Pencak Silat Bangke Idup yang haram dipraktekkan sudah ia lalui. 

"Pejamkan matamu, sambutlah ajalmu dengan damai!" bisik Kylian. 

"Bededah! Bahkan seekor anjing pun takkan bersepakat dengan babi hutan untuk melawan tuannya!" dengan kondisi tercekik Segara masih bisa bersuara. 

Hingga Segara dapat merasakan, Kylian sedikit melonggarkan kuncian pada lengan. Dan ia melihat sepintas, tangan Kylian mencoba meraih sesuatu di belakang pinggangnya. 

Segara dengan cekatan mendahului Kylian mencabut sebuah badik dibelakang pinggang. Dengan mantap menancapkan tepat di perut sebelah kanan. Kuncian terlepas dan merekapun saling terhempas. 

Setelah berhasil menancapkan badik pada tubuh Kylian, Segara segera bangkit dan berusaha meraih pedang. Dengan nafas tersengal-sengal, iapun dapat meraihnya. Namun saat berbalik badan, ia terkesiap. Kylian sudah menghilang. 

**

"Keparat! Kylian tidak bersungguh-sungguh menjalankan tugas!"

Cerutu di tangan kanan dipatahkan seketika. Harapan untuk melihat Segara terbaring tak berdaya kini sudah sirna. Hancur berantakan semua pertunjukan dan Craen Mark terlihat murka. 

Kekecewaan menyucuk di ubun-ubun. Bocah kecil yang ia semaikan benih dendam, belum setangguh ekspektasi. Craen Mark berpikir, Segara belum menemukan lawan sepadan. Dan Kylian tidak bersungguh-sungguh untuk menguji ketangkasannya. 

"Tak ada yang terbunuh!"

Kotak cerutu di lemparkan Craen Mark menghempas layar. Disusul botol anggur yang membuat se-isi ruangan layaknya kapal pecah dengan percikan bunga api menari-nari. 

Dada Craen Mark terasa panas melihat kegagalan Kylian. Terlebih ia tidak melihat keberadaan Diana di setiap ruangan. Aliran darahnya berdesir laksana laju kereta malam. Kekhawatiran telah menjadi amarah.

Craen Mark mengambil telepon genggam di atas meja dan terlihat menghubungi seseorang. Beranjak dengan mulut yang masih bersungut-sungut. Melangkah keluar ruangan dan hilang ditelan silau cahaya lampu-lampu di balik pintu.  

**

Kylian berdiri mematung tepat di atas Pont de Gennevilliers. Darah segar mengucur deras bersama arus Sungai Seine, sebelum terbelah di L'Île Saint Denis di utara Paris.

Rasa sakit tak membuat wajahnya meringis. Keadaan yang lebih buruk seringkali dialami. Namun keputusan terakhir yang diambil, justru menempatkannya pada dilema. Kini, haruskah ia meregang nyawa. 

Di batas antara hidup dan mati. Tangan kiri Kylian tak lagi menahan laju darah dari luka di perutnya. Tugasnya usai. Dan kegagalan adalah mati. Namun Ia tak sudi, terbunuh di tangan Craen Mark. Tidak pula mengemis kematian pada Segara. 

Terbersit dalam ingatan Kylian, wajah ceria anak-anak Afgan, berlarian sembari tertawa riang di sekitar perkemahan Taliban di masa lalu. Hingga deru mortir dan hantaman rudal meluluhlantakkan lamunannya. 

"Ha! apa bedanya, jiwaku sudah lama mati di Tora Bora!" 

Bibirnya tersungging senyum. Binar mata bercahaya menatap angkasa. Tubuhnya meluncur bebas bersama hembusan angin. Kylian memejamkan mata. Dan menghilang terseret pusaran air ke arah Hauts de Seine.

[ PenulisIndra Rahadian

**

Cerita ini hanya fiktif belaka, kesamaan nama, tokoh dan tempat hanyalah kebetulan semata. Selanjutnya bab 10 dari rangkaian novel bersama ini akan digubah oleh Lazarus Dina.

Selanjutnya >>

4 komentar untuk "Sebuah Pertunjukan"