Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pertemuan Dua Tokoh Utama

<< SEBELUMNYA

BAB 2

Pertemuan Dua Tokoh
Foto: Dokumen Pribadi
                                                                               

Perempuan itu muncul mengenakan celana panjang dan kaus putih serta tanpa rias wajah. Ia tampak lebih pantas menyongsong sebuah bus Transjakarta ketimbang sebuah wawancara untuk kisah sampul muka sebuah majalah.

 

Si pewawancara, adalah Segara lelaki tampan dari majalah Metropolitan. Majalah bulanan dalam edisi cetak yang masih terbit teratur dan mewah dalam segala kondisi. Segara sampai sempat sedikit terpana. Tentu saja ia terpana, tak dinyana, perempuan yang selalu tampil hebat, memesona dan berukuran besar di layar lebar dengan bolamata hijau bak peri itu, ternyata sedemikian mungil.

 

Di awal, perempuan berbolamata hijau itu terkesan pendiam, amat pendiam. Bahkan, Segara melihat pribadinya terbersit sikap agak peragu. Bagaimana mungkin?

 

Setelah memastikan protokol kesehatan telah dilakukannya dengan benar, yaitu: ia telah melakukan swab antigen dengan hasil negatif sehingga narasumber merasa nyaman saat ditemui, lantas mencuci tangan sebelum masuk ke rumahnya, menjaga jarak saat mewawancarainya, dan tentu memakai masker, barulah wawancara dimulai.

 

Selama tiga jam berbincang-bincang, Segara harus memperingatkan diri sendiri. Perempuan bertubuh mungil, berbolamata hijau dan berambut dicat pirang yang duduk di sofa sambil mempermain-mainkan botol air mineral itu, adalah benar-benar Flora Aurora Bunga. Ia adalah bintang film tenar yang sedang naik daun yang menyabet Piala Citra sebagai Aktris Pendukung Terbaik dalam film “Aku Kesepian Sayang. Datanglah Menjelang Kematian”. Sebuah film yang judulnya diambil dari judul buku karya sastrawan kondang, Seno Gumira Ajidarma. Ia juga diunggulkan merebut gelar Aktris Terbaik Piala Citra, berkat akting cemerlangnya sebagai Drupadi di dalam film berjudul sama, “Drupadi”. Tentu film ini, masih dari novel Seno Gumira Ajidarma.

 

Para tetangga yang tinggal dekat rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, juga sering merasa tak percaya bahkan ada yang nyinyir. Kok, penampilan Flora yang nyaris biasa-biasa saja, terutama gaya rambutnya yang dicat pirang sederhana bisa menjadi artis termasyhur seperti saat ini? Namun memang keunggulan Flora adalah  pada matanya yang berwarna hijau dengan tulang pipi yang menonjol tinggi. Begitu tinggi, hingga hampir-hampir menjadi kekurangannya. Namun, justru sempurna bila dibidik lensa kamera.

 

Apalagi ditunjang oleh sikap dan kepribadian perempuan yang pernah menjadi pelayan di sebuah restoran cepat saji asal amerika ini. Flora pemberani, mandiri, penuh humor dan punya kiat tegar untuk meraih cita-cita dalam berkarier. Meski di mata Segara ia kini terlihat amat sangat mungil dan pendiam. Kelak kesan tersebut akan lenyap begitu saja ketika wawancara mulai memasuki menit ke tiga puluh hingga berakhir.

 

Bahkan, sebuah majalah gaya hidup daring memuji Flora terang-terangan, “Anda bisa berhitung dengan 5 jari. Jumlah aktris yang betul-betul cantik, cerdas dan seksi. Punya kharisma, berbakat dan serba bisa. Pasti, Flora Aurora Bunga termasuk jenis langka ini. Lebih-lebih, ia berani mengingkari gemerlap gaya hidup kaum selebritas metropolitan.”

 

Segara memulai wawancara ini dengan bertanya perihal masa kecil Flora hingga ia remaja. Dengan gamblang Flora menjawab segala pertanyaan Segara.

 

Flora lahir di Berlin, Jerman, kemudian tumbuh besar di kota berhawa dingin itu. Ini akibat mengikuti ayahnya yang seorang pengusaha industri pesawat terbang. Begitu yang ia tahu tentang profesi ayahnya.

 

Ia katakan pada Segara, bahwa dulu ia sering merasa sunyi dan kesepian, semasa bocah ia menciptakan sebuah dunia fantasi. Ia kerap mereka-reka sebuah keluarga idaman: Ayah yang Serba Tahu dan Bijak dengan setelan bagus yang pulang kerja menemui si Ibu Fantasi yang bercelemek apik, dengan anak-anak yang berkelakuan santun di dalam suasana bahagia.

 

Sebagai pewawancara tentu Segara sangat penasaran dengan ‘keluarga fantasi’ yang menjadi idaman Flora. Namun Segara tidak menanyakan lebih lanjut.

 

Lantas Segara bertanya soal pendidikan Flora. Flora bersekolah TK, SD, SMP hingga SMA di Berlin, Jerman. Selepas sekolah menengah atas, Flora ingin hidup mandiri dan keinginan terbesarnya kuliah di Indonesia. Beruntung ia mendapat beasiswa jurusan seni rupa di sebuah perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Namun ia drop out, ia tak menamatkan pendidikannya di jurusan seni rupa. Ia pindah ke Jakarta karena mendapat tawaran bekerja di sebuah rumah produksi ternama di ibu kota.

 

Flora belajar pantomim di Taman Ismail Marzuki, Cikini. Seusai itu, ia menekuni seni tari modern, akting dan melukis. Ia pun banyak bergaul dengan seniman dan sastrawan ibu kota. Ia banyak terlibat aktivitas seni budaya. Bekerja sebagai pekerja seni, tentu ia akan mendapat penghasilan apabila ada pertunjukkan atau pementasan yang dihelat. Agar memperoleh uang dari sumber lain, ia bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran cepat saji berkat referensi dari seorang manajer operasional restoran itu yang juga seorang penulis cerpen.

 

Pada akhirnya, ia benci bekerja sebagai pelayan restoran. Pasalnya ia merasa kurang becus melakukan pekerjaan yang penuh basa-basi dan harus memperlakukan pelanggan layaknya raja yang tak pernah salah.

 

Segara tersenyum mendengar pengakuannya, dan membayangkan sang cerpenis yang sampai saat ini masih bekerja di dunia restoran sembari sesekali sang cerpenis yang manajer itu menulis cerpen untuk media.

 

Lepas bekerja sebagai pelayan selama satu tahun di restoran cepat saji, Flora mendapat tawaran bermain film. Kesempatan ini adalah kesempatan pertamanya, main film.

 

“Pertama kali syuting film, rasanya selangit! Saat itu aku betul-betul hijau dan buta tentang dunia film. Ketika film perdanaku diputar, baru aku sadar. Aku kecewa dan sedih sekali. Mau-maunya aku main seperti itu di film itu!”

 

Flora menambahkan, “Aku dibayar murah untuk film itu. Meskipun demikian rasa kecewa dan sedih itu kubuang jauh-jauh.”

 

Memang, bukan sebuah kenangan manis bagi seorang aktris penyabet Piala Citra ini. Segara membayangkan betapa konyolnya Flora. Ia mengawali karier sebagai pemain film dengan peran seorang perempuan penari erotis di sebuah kelab malam dan hanya berbikini. Penuh gairah ia harus meliuk-liuk, mendekap tubuhnya sendiri yang molek, serta terpekik dan bergelinjangan di atas panggung kelab malam agar pengunjung merasakan sensasi berahi.

 

Akan tetapi film itu laris dan sukses sebagai film box office. Produser film memberi Flora kontrak 3 tahun untuk beberapa produksi film ke depan.

 

“Kukira, aku harus bersyukur. Kontrak itu memberiku penghasilan. Aku bisa studi akting di IKJ dan tentu tak usah menjadi pelayan restoran cepat saji,” ungkap Flora.

 

Flora kemudian bermain dalam sejumlah film nasional. Beberapa kritikus film sempat memberikan lontaran kritik yang tajam, bahkan kritikus Adinan, nama kritikus ini memang sama dengan nama tokoh cerpen karya Budi Darma, “Kritikus Adinan”, mengatakan Flora tak berbakat di dunia akting. Flora hanya bermodalkan tubuh yang seksi dan wajah yang unik belaka karena bermata hijau serupa peri dari dunia dongeng.

 

Flora berhenti berbicara untuk sesaat. Ada semacam cairan bening yang bergelayut di kedua bolamatanya. Lontaran kritik kritikus film Adinan justru memicu dirinya untuk terus belajar akting secara mumpuni.

 

Namun ada seorang bernama Bambang Subali Budiman, lagi-lagi nama ini kebetulan sama dengan nama tokoh ganjil dalam cerpen karya Budi Darma. Bambang Subali Budiman sutradara kondang yang juga penari dan koreografer, punya pendapat lain tentang Flora. Baginya, Flora tidak sekadar cantik dan seksi saja. Tetapi juga berbakat alamiah, dan penuh humoris. Sehingga Flora pun sangat cocok untuk berperan dalam film komedi. Keduanya berjumpa, berteman dan kelak juga bercinta. Tapi hubungan Flora dengan Bambang Subali Budiman berakhir begitu saja, entah tersebab apa.

 

Berkat Bambang, Flora segera memperoleh peran dalam sebuah film besutan Bambang Subali Budiman.

 

Flora mulai naik daun, ketika ia memerankan istri simpanan seorang menteri di masa orde baru yang sangat terkenal. Yang menjadi pemeran menteri adalah aktor Parang Jati, nama aktor ini memang sama dengan nama tokoh dalam novel “Bilangan Fu” karya Ayu Utami. Yang jelas aktor Parang Jati lahir duluan sebelum novel “Bilangan Fu” terbit.

 

 

“Adegan-adegan bercinta yang ditangkap kamera, amat membara,” kata Flora tersipu. Sampai-sampai berembus gosip, “Jangan-jangan di luar film, aku dan Parang Jati ada main,” lanjut Flora sembari tersenyum malu dengan pipi merona merah.

 

Segara tahu persis dari pemberitaan, Flora bisa menepis semua gosip itu dengan sangat elegan dan profesional.

 

Tahun itu memang adalah masa gilang-gemilang bagi Flora meski saat itu pandemi Covid-19 masih meluluhlantakkan semua sendi kehidupan manusia di muka bumi. Ia diunggulkan merebut beberapa penghargaan film di dalam dan luar negeri.

 

“Mengapa kau begitu berambisi menjadi seorang aktris, hingga belum memiliki seorang kekasih atau mungkin rencana menikah?” tanya Segara lugas.

 

“Karena sejak kecil aku gemar berkhayal, dan aku sangat yakin bahwa seni akting erat kaitannya dengan imajinasi,” ujarnya tandas, tanpa menjawab pertanyaan Segara tentang kekasih atau rencana menikah.

 

Senyum Flora memekar ceria, memantulkan rasa puas dan bahagia di akhir wawancara dengan Segara. Di usia 30, Aurora cenderung tenang. Ucapannya arif dan bijaksana, ia sempat mengutip sebuah peribahasa India kuno, “Bila Anda sudah melihat sebuah sungai, Anda telah melihat semua sungai.”

 

Lagi-lagi perempuan itu membuat Segara terpesona.

 

***

 

Segara Ananda Marradia adalah seorang jurnalis, menurut beberapa teman kantor, tutur kata Segara halus, meski berlogat Makassar. Segara seorang pekerja keras dan cerdas. Dengan berat badan 68 kg, dan tinggi badan 178 cm, tubuh Segara tampak proporsional, atletis, dan tentu saja menarik karena wajahnya pun tampan. Rambutnya ia potong pendek layaknya seorang perwira menengah TNI. Kulitnya berwarna sawo matang bersih, cukup kontras dengan kemeja berwarna biru kesayangannya yang dikenakannya.

 

            Saat ini ia mengalami kejenuhan melampaui ambang batas. Tak bergairah lagi ia melakukan tugas-tugas rutin sebagai seorang jurnalis di majalah Metropolitan tempatnya bekerja. Semuanya terasa membosankan.

 

            Ia sering merasa bingung sendiri kenapa timbul kebosanan yang teramat menyiksa ini. Padahal secara umum, meski masih sendiri, tidak memiliki teman dekat, dan apalagi kekasih, ia berkecukupan. Cukup mapan untuk menikmati hidup. Meski terkadang ia merasa hampa, semacam ada ruang kosong di relung hatinya. Apalagi kerap beberapa potongan kenangan masa kecil mendadak berkelebat dalam benaknya.

 

            Dalam kejenuhan ini, ia mendapat tugas dari pemimpin redaksi majalah Metropolitan untuk mewawancarai seorang aktris terkenal, pemenang Piala Citra, penghargaan film yang sangat bergengsi di tanah air, dan ia adalah kandidat beberapa penghargaan film dalam dan luar negeri. Profil aktris ini akan menjadi kisah sampul muka majalahnya bulan depan.

 

***

 

Beberapa minggu usai mewawancarai Flora Aurora Bunga, nama aktris itu, dengan kemeja biru kesayangan Segara. Hari-hari Segara dilalui bersama Flora tanpa bosan, seperti halnya dengan rata-rata pasangan kekasih yang baru jadian, mereka menghabiskan waktu berjalan-jalan di mal, menyusuri toko-toko buku, kadang-kadang bersantap di restoran, namun lebih sering mereka berdua tinggal di rumah. Bercinta, membaca buku, mendengarkan musik, menonton televisi, atau nonton film-film yang ia bintangi, lantas bercinta lagi dan lagi dan lagi.

 

Pada suatu malam yang hangat Segara bercinta dengan Flora. Jantung Segara selalu berdetak lebih cepat ketika Flora menanggalkan bra dan celana dalamnya, Flora begitu seksi dan dengan buas mendekati Segara di ranjang. Mendadak udara di sekitar mereka terasa berat sekaligus hangat.

 

Mereka berpelukan, bersetubuh, dan menggeram karena kenikmatan yang tiada tara. Segara dan Flora saling memagut bibir, berciuman dengan menggebu. Jari jemari Flora dengan lembut membelai kejantanan Segara, mulai dari ujung sampai dasarnya hingga  membuatnya kian mengeras. Segara tak mau kalah, dengan lembut ia mengulum puting payudara Flora dengan bibirnya hingga puting itu mengeras pula.

Flora menggertakkan giginya ketika merasakan kejantanan Segara yang keras menghunjam wilayah intimnya yang menjadi bergetar-getar sementara kejantanan Segara bergerak-gerak turun-naik, dengan cepat, lebih cepat, dan lebih cepat lagi di bagian intim Flora. Dan mereka mencapai klimaks bersama satu menit kemudian, mereka meraung penuh gairah.

 

Saat tubuh Flora masih terguncang-guncang pelan, ponsel Flora bergetar.

 

”Telepon dari ayahku,” kata Flora pelan.

 

Flora menjawab telepon sambil tersenyum. Dalam senyum ia melirik ke arah Segara.

 

”Ada apa?”

 

”Ayah memintaku video call,” ucap Flora sambil menutup telepon.

 

”Sebentar, aku rapikan dulu diriku,” balas Segara sambil buru-buru menyambar celana dan kemejanya. Flora tertawa terkikik-kikik melihat kelakuan Segara yang tergopoh-gopoh memakai celana dan kemeja.

 

Ponsel Flora kembali bergetar. Video call dari ayahnya.

 

”Dia memang tak sabaran,” gerutu Flora menatap layar ponselnya seraya menekan tombol jawab.

 

Segara tak tahu apa yang paling membuatnya terkejut dari tampilan gambar wajah seorang lelaki paruh baya pada layar ponsel Flora, ketika lelaki paruh baya itu baru saja menyapa putrinya, ”Hai, peri bermata hijauku!”

 

Tubuh Segara bergidik, gemetar. Segara merasa seolah ia terjatuh lantas terperosok ke dalam lubang paling gelap yang dalam. Segara merasa tercekik, ia berjuang dan berusaha menenangkan dirinya, agar tidak muntah atau mengumbar amarah.

 

Segara segera menutup wajahnya, dan berbisik meminta ijin ke toilet. Sementara Flora dan ayahnya melanjutkan percakapan video yang sempat terjeda.

 

Di seberang sana, seorang lelaki mampu menutupi kecemasannya, lelaki itu Craen Mark, ayah Flora.

 

Sejak itu Segara tak pernah kembali dari toilet. Segara berlari menuruni tangga rumah Flora. Segara masih bertelanjang kaki, ia belum sempat memakai sepatu. Segara memacu mobilnya dari pekarangan rumah Flora menuju ke arah entah.

 

Segara menghilang begitu saja dari kehidupan Flora.

           

***

 

Segara menghela napas, dan mengusap pipinya yang memerah akibat ditampar dengan telapak tangan Flora yang berkekuatan penuh. Segara berdiri termangu menatap punggung Flora yang berjalan sedikit tergesa dengan tas bergalayut di bahu perempuan itu meninggalkannya begitu saja di restoran Aux Portes de l’Orient.

 

Bulan sudah penuh dan tinggi di langit ketika Flora berjalan melewati lorong-lorong kota yang kini terasa sepi dan ganjil karena disesaki bayangan wajah Segara yang menari-nari di benaknya. Perasaannya berkecamuk. Mata hijaunya tak berair, tetapi membara dengan amarah. [Bamby Cahyadi]***

 

Catatan: Bab 3 akan digubah oleh Pringadi Abdi Surya

 SELANJUTNYA >>

Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi Bamby Cahyadi. A man who was born in Manado on 5 March 1970 works as an Consultant Freelance in Food and Beverages company in Jakarta. His seriousness to writing short story has been starting in 2007. Bamby started to write his stories on the internet in his blog. Currently, he writes various short stories in several newspapers such as Koran Tempo, Suara Pembaruan, Republika, Seputar Indonesia, Jurnal Nasional, Jawa Pos, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Tribun Jabar, Riau Pos, Batam Pos, Berita Pagi Palembang, Jurnal Bogor, Harian Global (Jurnal Medan), Radar Tasikmalaya, Tabloid Nova, Analisa Medan, Majalah Horison, Femina, Story, D’sari and Esquire Indonesia. Writing essays in Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Pramuka Magazine and Tabloid Eksponen, and he is active to manage Jakarta Literature Community (Kosakata) with his friends.

10 komentar untuk "Pertemuan Dua Tokoh Utama"