Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dua Perawan Terpilih

 Bab 8

Dua Perawan Terpilih

Foto oleh Yaroslav Shuraev dari Pexels



 

<< Sebelumnya

 

Telunjuk tangan kiri Craen Mark memutari permukaan bibir cangkir kopi yang sudah kosong. Seharusnya Flora Aurora berada di sini untuk melayaninya. Gadis itu tak akan pernah membiarkan cangkir kopinya kosong.

Pikiran Craen melayang pada video call singkatnya dengan Flora. Ia menangkap sesuatu yang takberes. Flora pasti tidak sendirian di sana. Mungkinkah Flora sedang bersama laki-laki? Mendadak hatinya panas membara. Siapa lelaki yang berani menyentuh peri bermata hijauku? Lelaki mana yang berani mendekati perawanku?

Cerutu Arturo Fuente Opus yang diapit oleh telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ia biarkan tetap menyala tanpa diisap sedikit pun. Padahal cerutu sepanjang hampir 18 sentimeter itu cukup mahal. Malahan termasuk dalam 10 cerutu termahal di dunia. Harganya $55 per batang. Selama ini ia selalu merasa sebagai orang yang beruntung, tetapi keberuntungan tidak ia rasakan pada hari itu.

Lagu “A Whiter Shade of Pale” memenuhi pojok-pojok ruang apartemen, menyusup ke dalam telinga, dan merecoki otak Mark. Lagu gubahan Procol Harum itu sudah memengaruhi pikirannya.

 


She said, 'There is no reason'

And the truth is plain to see

But I wandered through my playing cards

And would not let her be

One of sixteen vestal virgins

Who were leaving for the coast

And although my eyes were open

They might have just as well've been closed

 

Cerutunya masih berapi. Pikirannya kembali berapi-api. Sixteen Vestal Virgins. Enam Belas Perawan Vestal. Siapakah sebenarnya Enam Belas Perawan Vestal yang dimaksud oleh Procol Harum? Lagi-lagi ia penasaran. Ini bukan kali pertama ia dicecar rasa penasaran. Sudah bertahun-tahun ia mengalaminya. O, siapakah sebenarnya Enam Belas Perawan Vestal itu? Dulu ia kelabakan karena belum ada internet yang dapat memuaskan rasa ingin tahu di benaknya, belum ada Google yang bisa menjawab beruntun pertanyaan di kepalanya. Karena tidak ingin mati penasaran, ia pernah berkunjung ke Roma untuk mencari tahu seluk-beluk Enam Belas Perawan Vestal.

Maka tibalah ingatannya di tanah Roma.

***

 

Kira-kira 700 tahun sebelum kelahiran Nabi Isa, Imperium Roma nyaris menguasai antero dunia. Numa Pompilius, Raja Roma kala itu, masygul karena Api Suci Vesta meredup. Para spiritualis berpesan agar api suci terus menyala. Jika tidak, Pompilius tidak akan mampu melindungi daerah kekuasaan Roma dari pelbagai marabahaya.

Sayang sekali, menjaga keabadian Api Suci Vesta bukanlah perkara mudah. Butuh perawan-perawan pilihan untuk menjaga kobaran api. Mereka dinamai “The Vestal Virgins”. Sesekali disebut “Vestals. Selaput dara penjaga harus terjaga. Tidak boleh sobek, tidak boleh terkoyak.

Keperawanan memang sangat vital  dalam menjaga Api Suci Vesta agar tetap menyala. Perawan-perawan pilihan didatangkan dari seluruh penjuru kekaisaran, kemudian dipilih dan dipilah dengan ketat. Ribuan perawan ditakar bibit, bebet, dan bobotnya. Usia tidak boleh lebih dari rentang 6 hingga 10 tahun; kondisi tubuh harus dalam keadaan prima; roman wajah mesti cantik rupawan; tidak mempunyai cacat fisik; dan yang paling utama: keturunan bangsawan. Calon perawan penjaga api suci melewati seleksi yang ketat hingga terpilih enam perawan.

Dari ribuan peserta, hanya enam perawan yang terpilih.

Setelah itu, enam perawan berusia 6—10 tahun akan mengikuti tiga fase bakti. Pada 10 tahun pertama mereka mesti mengikuti pelatihan khusus;10 tahun kedua melakoni tugas luhur sebagai penjaga Api Suci Vesta; dan 10 tahun ketiga bertugas untuk mendidik enam perawan penjaga baru. Dengan begitu, Vestal mengabdi selama 30 tahun.

Patut diingat, Upacara Suci Vesta hanya dapat dilakukan oleh para perawan yang suci lahiriah dan batiniah. Mereka tidak tersentuh gairah lelaki. Mereka terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok Senior sebanyak 6 orang bertugas mendidik Kelompok Junior;  Kelompok Ritual sebanyak 6 orang bertugas menjaga Api Suci Vesta dan menjalankan Upacara Suci Vesta; serta Kelompok Junior selaku kadet penerus Kelompok Ritual.

Keselamatan Imperium Roma berada dalam kendali 18 perawan itu.

Setelah mengabdi selama 30 tahun, para perawan pilihan itu bebas melakukan apa saja sepanjang sisa hidup mereka. Berbagai fasilitas yang tidak didapatkan oleh perempuan biasa berhak mereka miliki. Ya, mereka merdeka hidup mewah dan megah setelah mengekang diri selama 30 tahun. Gelimang harta selepas mengemban amanat membuat mereka menjadi incaran lelaki. Tua-muda, miskin-kaya, atau jelata-bangsawan berharaap bisa menyunting mereka. Siapa pula lelaki yang tidak terpikat kepada perawan suci yang kaya raya?

Sebab, mereka masih perawan.

***

 

Craen Mark tercenung. Kisah 18 Vestal bagai film tayang perdana yang terpampang di depan mata. Ia ingat, dulu ia sempat dongkol lantaran Procol Harum hanya menyebut Enam Belas Perawan Vestal. Kurang dua perawan. Rasa jengkel memaksa dirinya berkelana ke pelosok Roma demi menyingkap misteri dua perawan yang hilang dari lirik gubahan Harum.

Elagabalus biang keroknya. Kaisar ke-25 di Kekaisaran Roma jatuh cinta kepada Vestal Aquilia Severa. Berahi meletup-letup. Elagabalus dan Severa menyatukan tubuh. Perawan koyak, Api Suci Vesta padam. Rakyat Roma marah tiada terkira. Kaisar Elagabalus dibunuh. Jasadnya dimutilasi dan dibuang ke Sungai Tiber.

Bagaimana dengan nasib Severa?

Pembangkang tidak punya tempat di hati rakyat Roma.

Akibat melanggar aturan suci, Severa dijebloskan ke ruang bawah tanah. Tidak ada seorang pun boleh mendekati ruangan itu. Severa hanya dibekali sedikit makanan dan minuman. Hanya cukup selama beberapa hari. Sebagai pendosa, ia dikubur hidup-hidup.

Tersiar pula kabar tentang Marcus Licinius Crassus dengan Vestal Licinia. Hubungan gelap dua insan itu pun tak ayal membuat Api Suci Vesta padam. Mereka berdua diadili tanpa melewati persidangan. Tidak jelas vonis apa yang dijatuhkan kepada mereka, tetapi rakyat Roma percaya bahwa mereka seperti mangsa yang tewas dicabik-cabik singa.

Itulah misteri Enam Belas Perawan Vestal.

Craen Mark tersenyum. Ia tahu, dua perawan Vestal membangkang. Dari sana bermula gairah. Ia yakin dirinya dipilih takdir sebagai penerus hikayat Api Suci Vestal. Ia percaya bahwa ia telah dipilih Tuhan untuk mencari Dua Perawan Vestal yang Hilang. Dua perawan pembangkang mesti diganti. Dan, ia petugas yang dipercaya Tuhan untuk mencari dan menemukan dua perawan pengganti.

Tahun demi tahun berganti, Mark belum juga menemukan perawan suci. Jangankan dua, satu pun belum. Meski sudah menemukan banyak perawan muda, ia merasa belum seorang pun dari perawan temuannya yang layak menjadi Vestal. Ia nyaris putus asa hingga ia bertemu dengan Karmila Aurora. Perawan molek berusia 15 tahun adalah bidadari yang ia percaya sebagai satu dari dua perawan pilihan.

Gadis berparas jelita itu pun menyukai Mark.

Ia melihat Mark sebagai gunung perkasa: tenang dan teduh. Ia bahkan rela menyerahkan seluruh yang ada pada dirinya kepada Mark. Ia kecele. Memang segala kebutuhan hidup Karmila terpenuhi, malahan bergelimang kemewahan, tetapi tidak dalam urusan berahi.

Jangankan dipeluk, disentuh pun tidak.

***

 

“Karmila,” ujar Craen Mark, “maukah kau hidup bersamaku?”

Karmila bagai ditimpa Menara Miring Pisa. “Mustahil!”

“Kenapa?”

“Kakekku pasti tidak setuju,” jawab Karmila, aku baru masuk Sekolah Menengah Atas.

Mark membujuk Karmila. Buat apa kamu sekolah? Kalau hanya untuk memburu ijazah, lalu bekerja, lalu dapat uang? Buang-buang waktu, Karmila. Kalau kamu ikut bersamaku, semua keinginanmu akan kupenuhi. Kau tidak perlu bekerja!”

Bagaimana dengan Kakek?”

“Jika kau benar-benar mencintaiku, pertanyaan seperti itu takkan melintas di pikiranmu!”

Pikiran remaja Karmila benar-benar terberati oleh dua pilihan. Ia masih sangat muda untuk memilih antara keluarga dan kekasih. Tetapi ia harus memilih. Dengan benak polos ia memilih pergi bersama Mark, pergi meninggalkan kakeknya.

Ia pergi selama-lamanya.

Ia pergi bersama lelaki yang dicintainya.

Di negeri asing, Karmila begitu bahagia hidup bersama Mark. Ia layani laki-laki itu penuh sukacita. Memilihkan baju, memasangkan dasi, memakaikan sepatu, menyuapkan makanan, bahkan memandikan lelaki pepuja hatinya itu. Ia layani Mark bak seorang ratu melayani raja.

Mark pun memenuhi janji. Ia memanjakan Karmila mulai dari baju, sepatu, perhiasan, hingga tas mewah. Seluruh kebutuhan Karmila ia penuhi. Kecuali sanggama. Ia tidak mau merusak kesucian Karmila. Ia tahu, kehadiran Karmila membuatnya menjadi Raja Midas—segala-gala yang ia sentuh berubah menjadi emas. Karier melesat, bisnis menjamur, pohon uangnya tumbuh di mana-mana. Sekali saja ia koyak selaput dara Karmila, Api Suci Vesta akan padam. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Jika ia mandi dan merasakan sentuhan Karmila, sesuatu di selangkangannya bagai hendak meledak. Tetapi ia menahan diri.

Ia hanya butuh sepuluh tahun.

Dan, sudah lima tahun berlalu.

Sisa lima tahun.

Ya, lima tahun lagi perawan Karmila akan tersaji untuknya. Ia mesti tabah menanti lima tahun sisa masa bakti Karmila sebagai Penjaga Api Suci Vesta. Setelah itu, ia akan membuahi Karmila. Lima tahun tidaklah lama. Setelah ia setubuhi Karmila, perawan pilihan itu bakal melahirkan perawan pilihan kedua. Putri Karmila akan menggantikan kedudukan Karmila sebagai Perawan Pilihan Kedua.

Tetapi lima tahun bersama Mark adalah siksaan bagi Karmila.

Tubuhnya yang mulai mekar butuh sentuhan.

Kadang-kadang Karmila merasa dirinya diperlakukan bagai budak peliharaan. Kadang-kadang ia sesali langkah pilihannya. Ingin rasanya ia melarikan diri dan berlari ke pelukan kakeknya—Mappasomba Kala.

Lebih dari itu, ia butuh lelaki yang benar-benar lelaki.

***

 

Bel pintu rumah Mark berbunyi beberapa kali. Dentangnya terdengar hingga ke kamar mandi. Khawatir Mark menunggu terlalu lalu, Karmila menyambar handuk kimono dan menyampirkan sekenanya di tubuh ranumnya. Tiba-tiba ia ingin menggoda Mark. Ia berlari ke ruang tamu. Butir-butir air terjatuh dari dadanya yang terbuka.

Ketika membuka pintu, ia biarkan handuk kimono tetap terbuka.

Seorang pemuda terperangah dan memalingkan muka.

“Oh, maaf,” kata Karmila gelagapan, “aku kira Mark!”

Ia tidak menyangka lelaki yang berdiri di hadapannya bukan lelaki yang ia tunggu-tunggu. Buru-buru ia benahi handuk kimono agar tubuh bagian depannya tidak dilahap oleh mata tamu asing di depannya. Lagi pula, ia tidak pernah melihat Mark mengundang lelaki ke rumah megah ini. Tak ayal, ia seperti kucing tersiram air.

“Maaf,” ucap lelaki itu tanpa menoleh, “Craen Mark sudah tahu aku akan datang.” Wajah lelaki itu merah padam. “Mark dalam perjalanan kemari.”

Karmila berhasil menguasai diri, meski jantungnya mendadak bagai gendang Makassar yang ditabuh bertalu-talu. “Masuklah!

“Terima kasih,” kata lelaki itu. “Nama saya, Bayu Segara!”

 

[Widz Stoops]

 

Catatan: Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan Foto, nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Selanjutnya Bab 9 akan digubah oleh Indra Rahadian

Selanjutnya >>

14 komentar untuk "Dua Perawan Terpilih"

  1. Wuiih makin rumit nih cerita 😅 ada perawan suci nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you udah bantuin menayangkan tulisan ini 🙏

      Hapus
  2. Kisahnya semakin berpilin-pilin, makin bikin greget... keren

    BalasHapus
  3. Semakin banyak cabang cerita. Keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma mendalami tokoh Craen Mark, Ayah 🙏

      Hapus
  4. Aku ntar dari mana ya, semakin keren saja

    BalasHapus
  5. Aduuuuuuh duh... Gimana ini hatiku yg deg-degan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, hatimu biar OmBud yang ngurusin 🤣

      Hapus
  6. Mantaap, Mbak Widz... tapinsaya galfok sama A Whiter Shade of Pale-nya...

    BalasHapus