Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cinta, Darah dan Air Mata

Bab 6 

Cinta, Darah dan Air Mata
Foto oleh EVG Culture dari Pexels

 

<<Sebelumnya

 

Di antara hembusan angin yang bertiup kencang, Lelaki tampan yang memiliki berat badan 68 kg, dan tinggi badan 178 cm itu berjalan pelan, meninggalkan La Grande Mosquee de Paris.

 

Sosok lelaki muda yang tampak proporsional dan atletis itu terus berjalan, meninggalkan masjid yang pernah menjadi tempat berlindung para pejuang perlawanan, serta keluarga dan anak-anak Yahudi dari kejaran kematian yang ditebar oleh Hitler pada 1940–1944 silam.

 

Di bawah langit yang menghitam, di antara keramaian kota Paris, Segara terdiam, teringat pada Flora dan juga semua kenangan  buruk di masa lalunya—masa yang begitu ingin  ia hapus dari dalam ingatannya.

 

"Ternyata aku salah!" Rutuknya.


Sebelum membasuh mukanya dengan air wudhu di masjid tertua dan terbesar di Paris, Perancis, tadi Ia sempat berpikir: mungkin air wudhu yang Ia basuhkan ke mukanya itu akan mampu memadamkan api dendam yang sudah sekian lama membakar hati dan pikirannya.

 




Di kota yang terletak di sungai Seine, tepatnya di utara Prancis, Segara kembali terdiam, bayangan wajah Flora dan kenangan masa lalunya seperti datang silih berganti di kedua pelupuk matanya. Pun ketika Ia sedang menunaikan Shalat Ashar berjamaah, bayangan darah segar yang muncrat dari urat leher milik ayahnya itu masih terlihat jelas di matanya.

Masih terlihat jelas saat kapak di tangan Craen Mark menetak dan menebas leher ayahnya hingga darah segar milik ayahnya itu mengalir di lantai flat dan menyentuh ujung jemari kakinya.

 

 

 

Dua puluh tahun silam, Craen Mark—sahabat ayahnya—tersenyum puas, sebelum akhirnya terbahak-bahak sambil menatap ke arahnya.

 

Dalam perih tak tertahankan Segara ingat, saat itu dengan mata kepalanya sendiri dia melihat lelaki yang dia panggil “Ayah” itu meregang nyawa di tangan orang yang katanya pernah menjadi sahabat karib ayahnya.

 

Sekian puluh tahun sudah berlalu, tetapi bayang-bayang kejadian di masa lalunya itu bagaikan setan yang selalu hadir di dalam mimpi-mimpi buruknya. 

Segara kecil belum tau apa yang sebenarnya tengah terjadi, hingga nalurinya selalu berkata untuk mencari tau siapa sebenarnya lelaki yang telah membunuh ayahnya itu.

Segara baru mengetahui, pangkal bala dari semua yang terjadi di sebuah flat di sudut tenggara Nikolaiviertel itu dari Mapparoba Kala, ayah dari Karmila Aurora yang tak lain adalah ibu dari Flora Aurora Bunga. Wanita cantik berusia 30 tahun yang pernah  menyabet Piala Citra sebagai Aktris Pendukung Terbaik dalam film “Aku Kesepian Sayang."

Saat itu, dari mulut Mapparoba Kala akhirnya Segara mengetahui, dendam kesumat Craen Mark kepada ayahnya berawal dari penolakan Mapparoba Kala kepada Craen Mark yang memiliki nama asli Karaeng Marradia.

Menurut Mapparoba Kala, saat itu Ia lebih memilih Bayu Segara yang tak lain adalah sahabat Craen Mark ketika masih sama-sama  tinggal dan bekerja di Jakarta. 

Setelah menikah, Bayu Segara dan Karmila Aurora yang mengetahui bahwa Karaeng Marradia tidak bisa menerima hubungan mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Indonesia, mereka pindah ke sebuah kota yang terletak di dekat pantai timur sungai Spree, Berlin.

 

 

Di sudut kota Paris, Perancis. Segara terdiam, sambil sesekali menghembuskan asap rokok dari dalam mulutnya secara perlahan, Segara berusaha menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya yang datang silih berganti di pelupuk  matanya.

 

Di antara api dendam yang kian membara, sesekali bayangan wajah wanita cantik kelahiran Berlin, Jerman itu hadir di kedua matanya. Ada dendam, cinta, darah dan air mata di sana.

Masih jelas dalam ingatannya, ketika wanita cantik itu menanggalkan bra dan celana dalamnya, saat itu Flora mendekati dirinya yang masih saja terpesona dengan lekuk tubuh wanita cantik yang selalu mampu membangkitkan gairahnya.

 

Segara dapat mengingatnya dengan begitu jelas, setelah saling panggut, seperti biasa, Ia biarkan Jari jemari Flora yang awalnya dengan lembut membelai kejantanannya itu akhirnya akan mengusap pelan batang kejantanannya dengan ujung lidahnya.

 

Tanpa sadar, sesaat Segara melenguh sendiri, membayangkan kenikmatan yang pernah Ia nikmati bersama Flora, saat wanita cantik itu dengan rakusnya memasukan batang kemaluannya itu ke dalam mulutnya yang terlihat begitu kecil dimatanya.

Dan masih seperti biasa, Segara tak mau kalah, dengan penuh nafsu dia dorong tubuh Flora ke atas ranjang, setelah mengulum puting payudara Flora dengan bibirnya hingga Flora meringis kegelian, biasanya dia akan terus mengusap seluruh tubuh Flora dengan ujung lidahnya, terus hingga kebagian  kemaluannya.

 

Masih terlihat jelas di kedua pelupuk matanya, saat Flora menjerit kenikmatan, ketika bibirnya itu melumat bibir kemaluan Flora.

Flora yang terus merintih dengan suara serak sedikit tersengal itu merengek agar dia segera menghujamkan kejantanan miliknya ke wilayah intimnya.

 

Hingga tak lama setelah mereka mencapai klimaks, sesaat setelah Flora meraung kenikmatan. Dendam membara yang hampir saja Ia lupakan selama bersama Flora itu kembali membakar hati dan pikirannya.

 

Mata Segara siaga bagaikan seekor Singa melihat binatang buruannya. Sesaat setelah telepon genggam milik Flora menyala, tubuhnya bergetar hebat.

 

Wajah lelaki yang sekilas sempat dia lihat di dalam layar telepon genggam milik Flora itu tidak asing lagi buatnya.

 

Dia ayah Flora!

 

Ya Tuhan, apa yang sebenarnya sudah terjadi di dalam hidupku ini? Runtuk Segara sambil menutup mukanya yang mendadak kusut itu dengan kedua telapak tangannya.

 

Jadi,  Flora Aurora Bunga ini adalah anaknya Craen Mark? Lelaki keparat yang sudah membuatnya tumbuh besar dengan dendam membara seperti saat ini. Sekian lama dia mempelajari jurus pencak Makassar, pencak Jawa, Sunda, Betawi, Batak, dan Dayak dengan satu tujuan, yaitu untuk menghabisi nyawa lelaki itu.

 

Masih jelas dikedua pelupuk matanya, sesaat sebelum Craen Mark membunuh ayahnya, saat itu, Ia Bersama ibunya, wanita cantik blasteran Paris–Makasar itu sedang menyiapkan makan malam sambil menunggu kedatangan ayahnya pulang dari tempatnya bekerja.

Sesaat setelah Ia mendengarkan bel pintu rumahnya berbunyi, tak lama Ia melihat Ibunya berlari ketakutan masuk ke dalam rumah sambil menjauhi pintu depan rumahnya yang sudah terlanjur terbuka. Dan adegan selanjutnya adalah dia melihat ibunya tengah berlari masuk kedalam kamar, dikejar oleh seorang lelaki yang belum pernah Ia temui sebelumnya, selama dia Bersama ayah dan ibunya itu tinggal di Berlin, Jerman ini.

 

Lalu, di depan matanya Ia melihat bagaimana monster itu merobek paksa pakaian dalam yang dikenakan oleh ibunya, saat itu dirinya masih terlalu kecil untuk menolong ibunya yang sepertinya begitu ketakutan dan kesakitan saat monster itu menindih paksa tubuh ibunya, ibunya terus merintih dan menjerit, berusaha mencegah kemaluan lelaki tegap berkulit sawo matang itu menghujam paksa areal kewanitaannya.

 

Segara kecil tergugu, ia tidak mengerti dan tidak mampu berbuat apa-apa untuk menolong ibunya.  Monster itu tadi sempat memukulnya, hingga ia terlontar ke sudut kamar, dalam rasa sakit akibat benturan ke dinding dan lantai kamar, Segara kecil menyaksikan semuanya tanpa mampu berbuat apa-apa.

 

Segara kecil terduduk di sudut kamar, Ia tergugu. Ia mematung tanpa sempat menutup kedua mata dengan tangannya. Ia terus begitu hingga Craen Mark selesai memperkosa ibunya. 

Bayu Segara, ayahnya yang baru datang melihat anaknya terdiam di sudut kamar dan menjumpai istrinya tengah menangis, tersedu di pinggir ranjang dengan pakaian acak-acakan.

 

 

 

Dan selanjutnya waktu berlalu begitu cepat, pertarungan hebat terjadi dan setelahnya, Craen Mark, dengan kapak algojo yang di curinya dari Museum Märkisches berhasil menetak dan menebas leher ayahnya.

 

Segara kecil baru meraung dan hanya mampu meninju pilar, berkali-kali, hingga kepalannya berdarah saat lelaki keparat pembunuh ayahnya itu pergi, meninggalkan dirinya disudut kamar bersama kapak yang sudah dia pakai untuk membunuh ayahnya.

Lelaki keparat itu pergi meninggalkan genangan darah di lantai dan bekas lelehan darah di sudut bibirnya sambil menyeret paksa ibunya.

 

Setelah sekian lamanya dia kehilangan jejak dan berusaha mencaritau dimana keberadaan lelaki yang sudah membunuh ayah dan pemerkosa ibunya, saat ini wajah jahanam itu muncul di dalam layar ponsel milik Flora, wanita yang baru saja memberinya kenikmatan.

 

Di trotoar jalanan kota Paris, di antara hembusan angin yang bertiup kencang, tanpa sadar, jemari Segara meremas gelas minuman yang tengah di genggamnya hingga pecah dan melukai tangannya sendiri, darah segar masih mengalir di sela-sela jari jemarinya saat telepon genggam miliknya berbunyi.

 

Di ujung telepon, suara berat yang khas milik Kylian terdengar, Segara tersenyum dingin mendapatkan kabar dari Kylian. Kylian yang sudah berpengalaman di medan perang untuk memenuhi panggilan jihad seperti  di Afghanistan dan saat ini lebih memilih hidup sebagai seorang Eropa itu baru saja memberi kabar bahwa Craen Mark sudah berada di tangannya.

 

Maafkan aku Flora…

 

Aku kemari bukan hanya  untuk menemuimu, tapi juga untuk menemui pembunuh ayah dan pemerkosa ibuku yang juga adalah ibumu.

 

 

Catatan: Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, tempat dan lain sebagainya itu hanyalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Bab 7 akan digubah oleh ADSN1919

 

Selanjutnya >>

Warkasa1919
Warkasa1919 Setiap cerita pasti ada akhirnya. Namun di dalam cerita hidupku, akhir cerita adalah awal mula kehidupanku yang baru.

14 komentar untuk "Cinta, Darah dan Air Mata"