Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAB 5 "DILEMA KYLIAN"

 

Bab 5

Foto oleh Flora Westbrook dari Pexels


 

 << Sebelumnya

“Kita harus segera bertemu di tempat biasa,” ujar Kylian dengan nada keras melalui telepon. Ia mendesak Segara agar segera bertemu. “Sekarang!”

“Oke, saya ke sana sekarang ….”

Jembatan gantung tua yang membelah sungai bening di tengah Parc des Buttes-Chaumont selalu menjadi titik pertemuan setiap kali mereka membahas rencana pembunuhan Craen Mark. Di situ mereka leluasa merancang rencana pembunuhan tanpa dicecar rasa takut akan ada yang diam-diam mengintai. Jembatan gantung tua itu sangat aman. Semacam bersembunyi di tengah kerumuman. Bersembunyi di taman indah dengan air terjun dan kuil kuno yang selalu dikerubuti turis, baik warga Paris maupun wisatawan asing. Jembatan gantung tua itu memang menjadi salah satu tempat pakansi favorit di taman kota terbesar di Paris. Tidak heran jika taman itu selalu ramai dikunjungi warga. Wajarlah pula jika banyak orang yang menghabiskan waktu di sana dengan rebahan sambil membaca buku di atas rerumputan.

Segara tidak butuh waktu lama untuk tiba di Parc des Buttes-Chaumont.

Kylian menyambutnya dengan jabatan tangan yang erat dan mata bersinar penuh gairah. “Apakah tekadmu masih bulat untuk menghabisi Craen Mark?”

“Tidak ada yang bisa menghalangi!”

Kylian mendesah. “Kamu dan aku bisa mati!”

“Aku tidak akan hidup tenang sebelum bajingan itu meregang nyawa!” Segara berkata lantang dengan mata membelalak. Napasnya berat dan keras. “Kalau bukan dia, aku yang akan mati. Kalau kamu takut, silakan undur diri sekarang juga. Aku bisa mencari orang lain!”

Kylian sadar bahwa tidak seorang pun mampu mengubah pendirian Segara. Ia tahu bahwa dendam Segara sudah mendarah daging sejak ia masih berusia sepuluh tahun. Usia ketika Segara menyaksikan leher ayahnya ditebas tanpa ampun oleh Craen Mark.

Kylian tahu bahwa sampai saat ini Segara masih bisa merasakan aroma napas Craen Mark. Tiap-tiap membahas pembunuh ayah Segara, Kylian dapat merasakan amarah yang menggelegak dalam diri Segara. Peristiwa yang sudah berlalu puluhan tahun seakan-akan baru saja terjadi di depan mata. Mendengar nama Craen Mark disebut saja sudah mampu memerahkan mata dan telinga Segara. Ia bisa memahami mengapa dendam begitu lekat di dada Segara. Tidak hanya Segara, semua orang di muka bumi ini pasti akan membenci pembunuh ayah mereka. Apalagi jika pembunuhan itu terjadi depan mata. Maka, ia sangat memahami kenapa dada Segara diselimuti dendam kesumat yang tidak ada dan tidak akan pernah ada habis-habisnya.

Bahkan cinta Flora pun tidak mampu meredam dendam itu.

Kylian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan-pelan agar bisa mengendalikan diri di hadapan Segara. Bagaimanapun, ia sadar akan posisinya sebagai seorang pembunuh bayaran.

“Tugasmu, Kylian,” kata Segara dengan suara pelan dan dingin, “hanyalah menghabisi Craen Mark. Bukan menanyakan apakah tekadku sudah bulat atau masih bisa berubah.”

“Aku tahu, Segara!”

Kylian tercenung. Mandat Segara untuk mencari dan menculik Craen Mark harus segera dipenuhi. Namun, ada satu perasaan aneh yang berkecamuk di dada Kylian, perasaan yang tidak ingin ia perlihatan kepada Segara, perasaan aneh bagi seorang pembunuh bayaran yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Baginya, menghabisi nyawa orang lain hanyalah sekadar pekerjaan, sama seperti tukang batu membangun rumah atau tukang pahat mengukir kayu. Ia bahkan mulai menikmatinya. Tidak ada rasa takut atau rasa kasihan kepada korbannya. Akan tetapi, kali ini ia menyadari bahwa ada satu perasaan yang membuat batinnya memberontak. Pikirannya bagai dilanda badai Catharina. Flora, gadis pelayan yang ditemuinya di Laduree Restaurant beberapa hari lalu adalah penyebab utama mengapa hatinya terguncang.

Kylian mendongak sejenak, memasukkan jemari ke saku celana, berusaha tetap terlihat tidak gugup, dan berkata pelan. “Aku tahu mengapa hatimu begitu dendam. Aku juga paham mengapa kau begitu ingin menghabisi pembunuh ayahmu.” Ia berhenti sejenak, menunduk dan memainkan bilah-bilah besi jembatan gantung dengan ujung sepatu. “Aku pun mengerti kenapa kamu memilih aku untuk menculik Craen Mark.”

“Lalu, kenapa kamu mendesakku untuk bertemu?”

“Ada yang harus kupastikan.”

“Apa?”

Kylian mendesah. “Tidak bisakah kaupikirkan ulang niatmu?”

Segara tercengang. “Kukira aku akan mendengar kamu mengatakan ‘aku sudah menemukan lokasi Craen’, lalu kau buru-buru mengajakku kemari,” tukas Segara dengan nada tinggi.  

Orang-orang yang tengah menikmati rehat di Parc des Buttes-Chaumont serempak menoleh ke arah mereka. Tiba tiba suasana hening. Senyap.

“Apa yang kau dapatkan dari balas dendam?”

Pertanyaan Kylian makin menegaskan keheningan.

Segara terpana. Pertanyaan Kylian sama persis dengan pertanyaan yang diajukan oleh pamannya. Pertanyaan merepotkan dan menjengkelkan bagi Segara, sebab ia selalu gagal menyusun jawaban yang tepat untuk melukiskan alangkah dongkol hatinya tiap kali dicecar kalimat tanya seperti itu. Jari-jemarinya mengepal. Tinjunya mengeras. Ia ingin marah semarah-marahnya, bahkan meraung karena ledakan rasa sakit di dadanya, tetapi ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Setelah terdiam selama beberapa saat, ia akhirnya tersenyum. “Kylian, aku memberimu tugas yang sangat sederhana. Kau hanya perlu melakukan dua hal. Menemukan dan menculik Craen Mark.” Ia menatap Kylian lekat-lekat. “Kalau kau tidak sanggup, silakan angkat tangan. Kalau kau merasa mampu, silakan angkat kaki untuk menemukan dan menculik Craen Mark. Sisanya, biarkan aku selesaikan sendiri.”

Kylian terdiam.

“Kylian, bukan tugasmu untuk mempertanyakan motif dan tujuan kenapa aku ingin menghabisi Craen. Apalagi sampai bicara soal moral. Tidak, Kylian, itu bukan urusanmu. Apa maksudmu menanyakan manfaat yang aku dapatkan jika aku membalas dendam?” Ia menelan ludah. Rahangnya mengeras. “Urusan dendam adalah tanggung jawabku, Kylian. Selesaikan saja tugasmu, lalu aku tuntaskan bagianku!”

“Ada risiko yang mesti aku hadapi.”

Segara mendesis seperti ular melihat mangsa di depan mata. “Apa pun yang kaulakukan pasti ada risikonya.”

“Aku siap menanggung risiko jika aku tertangkap atau ketahuan menculik Craen Mark, tetapi risiko yang kauhadapi juga besar jika kaubunuh Craen Mark, Segara!”

“Itu urusanku!”

“Aku tahu!”

“Kalau begitu,” tukas Segara, “tidak ada lagi yang harus kita bicarakan saat ini. Hubungi aku jika kamu sudah menemukan dan menculik Craen Mark.”

Kylian ingin menahan kepergian Segara, ingin membujuk agar sahabatnya itu urung membalas dendam, ingin mengatakan bahwa dendam bukan jalan terbaik buat menyelesaikan masalah, ingin memastikan bahwa ia tidak ingin mencelakai siapa pun yang berasal dari Indonesia, tetapi ia juga sadar bahwa Segara sudah tidak mungkin dihentikan. Kata-kata bagi Segara tiada berbeda dengan anak panah yang lepas dari busurnya. Sekali lepas, pantang ditarik kembali.

Punggung Segara menjauh, terus menjauh, lalu menghilang ditelan ramai pengunjung taman. Kylian tercengung. Pikirannya seperti benang basah yang kusut sekusut-kusutmnya. Ia telah banyak menyaksikan peristiwa berdarah di Afghanistan, tetapi tidak ada satu pun yang bisa dijadikan pembanding atas apa yang dirasakan oleh Segara.

Lalu, selarik ingatan membersit di benaknya. Suara lirih Flora mendadak terngiang di telinganya. Aku tidak ingin lelaki yang kucintai menghabisi lelaki yang kukasihi. Kecut hatinya mengingat perbincangannya dengan gadis yang amat disayangi oleh Segara itu. Pasangan yang aneh bin ajaib. Yang lelaki ingin menyakiti setelah disakiti, yang perempuan ingin menyembuhkan agar tidak ada lagi yang tersakiti. Ia seperti berdiri di simpang jalan asing yang baru saja ia datangi. Ia bingung mesti memilih permintaan mana yang harus ia turuti. Jika ia penuhi permintaan Segara untuk menculik Craen Mark, ia menerima bayaran besar dan bisa bersenang-senang. Jika ia turuti permintaan Flora, ia bisa menjalani hidup dengan tenang. Hasratnya untuk mendapat uang amat besar, tetapi hatinya menolak. Suara hatinya kini lebih keras berteriak.

Sekalipun pendosa, ia sadar bahwa di dunia ini hanya ada dua suara yang tidak pernah berdusta. Suara Tuhan dan Suara Hati.

Ia masih berdiri di tengah jembatan gantung taman. Masih tegak di posisi yang sama. Masih tegak tak bergerak. Masih merasakan keheningan di tengah keramaian. Matanya memejam. Napasnya memberat. Ia mesti menentukan apa yang harus atau akan ia lakukan. Ia menghela napas, lalu meraih ponsel di saku jaket.

Seseorang menjawab sapaannya. “Ada apa, Kylian?”

“Karaeng, kita harus bicara….”  

***

 

(Donny de Keizer)

Bab 6 akan digubah oleh Warkasa1919


Selanjutnya >>

 

5 komentar untuk "BAB 5 "DILEMA KYLIAN""

  1. 🙀🙀🙀🙀

    BalasHapus
    Balasan
    1. di tunggu sambungannya jangan sampai ia terus masih berdiri di tengah jembatan gantung taman itu...

      Hapus
  2. Waah.. udah di bab 5 ya😅👍

    BalasHapus
  3. Mantap Bung Donny 👍

    BalasHapus