Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAB 4 "MEREDAM DENDAM"

 

Bab 4

Foto oleh Daria Shevtsova dari Pexels


  << Sebelumnya 


Servez-vous le petit-déjeneur?

Bien sûr.....! Que désirez-vous?

Kylian tersenyum atas sambutan ramah pelayan restoran saat dia menanyakan apakah mereka menyediakan menu sarapan. Sumringah pelayan mempersilahkan memilih tempat duduk sambil mengatakan, tentu saja mereka punya sarapan dan balik menanyakan santapan seperti apa yang diinginkan.

“Hmmmmmm..., avez-vous quelque chose de spécial...?” Tanpa berkedip Kylian serius bertanya apakah dia punya menu spesial.

Tout est spécial ici monsieur,” masih dengan senyum tapi tidak sesumringah di awal, pelayan menjelaskan kalau semua yang ada di restoran itu spesial.

Kylian tersenyum tipis dan spontan menyahut sambil menaikkan alis sekilas: “D’accord...... et vous aussi... très spécial....”

Merci....!” sahut pelayan perempuan itu berusaha tetap ramah, tapi juga sedikit jengkel dengan cara Kylian menatap saat mengucapkan bahwa dia juga juga terlihat spesial.

Kylian sendiri sesungguhnya tidak bermaksud menggoda pelayan perempuan yang memang terlihat menarik meski tanpa riasan wajah. Penampilan  sangat natural justru membuatnya ingin mengenal lebih dekat. Sungguh...! Sekonyong-konyong Kylian seolah merasa tarikan magnet kuat mengamati perempuan itu, namun dia sendiri tak paham. Alam bawah sadar memaksa agar lebih mengenalnya. Bukan kebiasaan Kylian menggoda wanita, malah selalu sangat hati-hati setiap kali bertemu sosok  yang memiliki daya tarik menggetarkan. Justru menakutkan. Barangkali akibat terpengaruh aktifitas hariannya, terbiasa melakukan pekerjaan keras penuh rahasia bahkan menyerempet bahaya. Tak hendak terjebak dalam pesona dan romatika seorang wanita sebagaimana sering terjadi dalam sajian film-film detektif. Jangan sampai misi penting yang baru dibahas porak poranda hanya karena sejurus kerjapan bulu mata berlapis Falsies Lash Lift Mascara.

Pardon monsieur! Voulez-vous commander maintenant ou juste me regarder..?” Sedikit menaikkan volume suara, pelayan kembali menanyakan apakah Kylian  pesan makanan sekarang atau mau menatap saja. Jelas  mulai hilang kesabaran meski tidak sedang sibuk karena Laduree Restaurant bergaya pedesaan di wilayah Champs Élysées, kawasan elit di jantung kota Paris belum terlalu ramai. Baru 3 meja terisi di mana salah satunya Kylian yang telah membuatnya sama dengan meladeni 4 meja sekaligus. Rewel tapi tidak pesan juga. Perempuan itu mulai curiga melihat tampang Kylian sedikit asing, bahkan yakin pasti bukan penduduk lokal. Sedikit berprasangka pastilah ini turis kere bawa uang pas-pasan, mendekati masa tinggal habis tapi duit keburu menipis. Sekarang berlagak tanya menu, padahal sekedar ingin berteduh akibat kelelahan menyusuri  Champs Élysées yang juga dianggap sebagai La plus belle avenue du monde, jalan paling indah di dunia.

Sejenak Kylian kaget mendengar suara pelayan berubah meninggi nyaris tanpa senyum. Cepat dia mengganti ekspresi seakan tak terpengaruh sedikitpun akan penampilan pelayan itu dan ingin segera terlihat berwibawa. Naluri detektifnya mengatakan pikiran permpuan itu sedang merendahkan statusnya. Sigap Kylian memesan Croque Monsieus yang sesungguhnya dia sendiri tidak tahu makanan seperti apa gerangan karena tidak tersedia gambar yang sekiranya  dijadikan referensi. Bahkan menyebutkannya pun sulit.

Lagi-lagi perempuan itu seakan paham kalau sesungguhnya Kylian tak tahu makanan apa yang dia pesan, namun kembali teringat slogan klise bahwa pelanggan adalah raja. Berusaha kembali bersahabat dia menjelaskan kalau jenis makanan itu berupa sandwich berisi ham berlumur lelehan keju.

Benar saja, ketika tangan halus pelayan perempuan itu menyodorkan Croque Monsieus, spontan Kylian berseru: “Très tentant..!

Perempuan itu kembali melotot. Kylian tersentak dan sadar, pasti perempuan ini sedang menuduh lagi dalam hatinya kalau perkataan sangat menggoda yang dia lontarkan dalam bahasa Prancis tadi untuknya. Kylian cepat meralat, kalau dia maksud sangat menggoda itu lelahan keju di sandwich. Bukan dia. 

Beruntung kali ini prempuan itu langsung percaya dan kembali tersenyum ramah lalu membalikkan badan setelah mengucapkan selamat makan.

“Terima kasih,” balas Kylian lega karena tidak lagi tertuduh berniat menggoda.

Mendadak perempuan itu berbalik dan menatap tajam, membuat  pria itu batal menyuapkan potongan sandwich dengan lumuran keju yang menggoda tadi.  Langsung bersiap dipelototin lagi, sambil menggerutu dalam hati betapa merepotkannya pelayan baperan satu ini. Pasti karena tidak mengerti kata terima kasih bakal menuduh lagi dia menyerukan kata makian atau apalah.

Pardon.....! qu’avez-vous dit?

Kylian menarik nafas berat. Ada apa dengan perempuan ini pikirnya. “Sebegitu penting dia harus tahu arti kata yang kuucakpan?” batin Kylian.

“Merci.....!”

Meski Kylian cepat mengganti dengan ucapan terima kasih dalam bahasa Prancis, tetap saja perempuan itu memintanya mengulang kata sebelumnya.”

“Tadi kamu bilang terima kasih kan....!” desaknya dengan bahasa Indonesia.

“Kamu bisa bahasa Indonesia?” Kylian tersentak

“Tidak bisa........! Tapi FASIH.......!” jawabnya penuh penekanan dengan wajah didekatkan sebagai tambahan bentuk penegasan.

Kylian termangu. Sesaat ingin mengucap sesuatu,  tapi seorang pria bermata biru dengan nampan penuh memanggilnya.

            “Flora........!”

            Perempuan itu menatap Kylian lalu minta ijin menemui pria bermata biru. “Sepertinya pesanan tamu di meja dalam sudah selesai. Aku antar dulu ya..”

            Kylian menatap punggung perempuan itu tak berkedip dan sekarang paham tarikan magnet apa yang begitu kuat sejak pertama melihat tadi. Jelas bukan hasrat menggoda apalagi nafsu, tapi karena merasa pernah melihat sekilas perempuan itu. Belum lama.

            Tiba-tiba kembali tarikan magnet lain begitu kuat menjelajah pikiran mengobrak abrik misi kedatangannya ke kota ini buat membantu melampiaskan dendam Segara yang belum padam juga dari catatan masa lalu. Tapi entah kenapa pagi itu satu pikiran aneh bagai lelehan keju di sandwichnya ikut melelehkan dendam dari benaknya. Dalam hati dia membisiki diri sendiri.

“Tugasku Meredam Dendam!”

Kylian memanggil pelayan pria yang kebetulan melintas dan membayar bill tanpa berusaha menemukan Flora lagi, dia beranjak. (ita sembiring)


Bab 5 akan digubah oleh Donny de Keizer

 

Selanjutnya >>

 

 

 

 

 

4 komentar untuk "BAB 4 "MEREDAM DENDAM""