Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Antara Cinta dan Dendam

 Bab 7

Antara Cinta dan Dendam
Foto oleh Paulo Marcelo Martins dari Pexels



<< Sebelumnya

Flora tergugu melihat Segara pergi begitu saja, lelaki yang Ia cintai  berubah mukanya seperti menahan amarah. Kelembutan Segara berubah setelah Craen Mark, ayahnya menghubungi dirinya.

Ayahnya menghubunginya melalui panggilan video di ponselnya dan Ia mengetahui perubahan di wajah Segara setelah Segara melihat wajah ayahnya di layar telepon genggam miliknya.


Tapi kenapa setelah melihat wajah ayahnya di layar telepon genggam miliknya, tiba-tiba Segara meninggalkan dirinya begitu saja?

Ia ingat, tak lama setelah sekilas sempat melihat wajah ayahnya, segara masuk ke dalam toilet yang berada di dalam kamar tidurnya dan tak lama kemudian dia keluar dari toilet dan pergi meninggalkan dirinya begitu saja di dalam kamar.

Segara pergi tanpa bicara sepatah katapun. 


Flora sempat melihat wajah lelaki yang dicintainya itu pergi meninggalkan dirinya dengan penuh kemarahan.


Masih memegang telepon genggam, Ia sempat mengejar Segara, tapi  Segara bergerak sangat cepat dan selanjutnya Ia hanya mampu melihat mobil Segara dipacu dengan kecepatan tinggi.


"Segara..."


Ia terduduk di pinggir jalan. lemas, melihat perubahan sikap kekasihnya itu yang tidak seperti biasa. 

Masih belum mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, Ia coba telepon lelaki tampan yang baru saja meninggalkan dirinya.

Ia tidak tau Segara hendak pergi ke mana. Berulang kali Ia coba hubungi nomor telepon Segara, tapi sepertinya lelaki itu sengaja mematikan telepon genggamnya.


Segara, apa yang sebenarnya sudah terjadi?


Belum lama mereka berpacu dalam birahi, sama-sama merasakan kenikmatan yang tiada tara sampai  merasakan puncak kenikmatan dunia. Saling membenamkan dan terbenam, saling melumat dan dilumat, saling mempersembahkan yang terbaik, kata-kata cinta selalu terdengar disetiap senggalan napas mereka yang terus berpacu dan seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada.


***


Ia masih teringat pertemuan pertama dengan Segara, dua tahun yang lalu, tepatnya ketika Ia memilih tinggal di Indonesia. Saat itu Ia ingin mandiri. Ia mendapat beasiswa Jurusan Seni Rupa  di Perguruan Tinggi yang berada di Kota Bandung. 

Ayahnya, Craen Mark adalah seorang pengusaha industri pesawat, tentu saja merasa keberatan melepas putri satu-satunya itu ke Indonesia. Walau negara ini adalah negara nenek moyangnya.

Saat itu Flora begitu teguh dengan pendirian hingga akhirnya dengan berat hati ayahnya melepas Flora untuk kuliah di Indonesia. 

Ia ingat, saat itu  dirinya masih begitu labil dan merasa bebas jauh dari ayahnya yang super disiplin.

Tanpa pengawasan dari ayahnya saat itu Ia sering bolos kuliah karena terlalu aktif diluar kegiatan kampusnya. Ia sering bangun kesiangan dan akhirnya drop out dari kuliahnya dan memutuskan untuk pindah ke Jakarta. 

Di Jakarta Ia sering bermain ke Taman Ismail Marzuki, disana Ia belajar pantomim dan bermain peran hingga  akrab dengan para seniman yang ada di sana. 

Di Jakarta sempat menjadi pelayan restoran cepat saji atas bantuan temannya, temannya itu seorang manajer dan juga cerpenis. 

Ternyata bekerja menjadi seorang pelayan di sebuah restoran cepat saji membuatnya merasa tertekan dan kurang nyaman, saat itu Ia berpikir bahwa pekerjaan ini tidak cocok dengan kata hatinya. Ia tidak betah karena penuh kepura-puraan dan harus mengagungkan pelanggan. 


Sampai suatu saat, ada seseorang yang menawari dirinya ikut main di sebuah film. Ternyata orang itu adalah sutradara yang biasa melihat pertunjukan dirinya di Taman Ismail Marzuki ketika Ia pentas bersama para seniman lainnya. 


Menurut teman-temannya, sutradara itu melihat wajahnya sangat unik, karena berbolamata hijau dengan tulang pipi sangat tinggi. 

Dan di puncak karirnya sebagai artis pemeran pembantu, Tuhan memperkenalkan dirinya dengan Segara Ananda Marradia.

Saat itu Segara Ananda Marradia mewawancarainya tidak seperti biasa, hingga entah kenapa saat itu Ia mau bercerita, terus terang tanpa ada yang ditutup-tutupi, baik tentang masa kecilnya yang terasa begitu sunyi  dan kesepian, juga tentang fantasinya mengenai keluarga sempurna, ada ayah, ibu dan dirinya. Tapi sayangnya hal itu tidak pernah Ia rasakan. 


Saat itu di depan Segara, Ia menangis dan menumpahkan semua isi hatinya. Entah kenapa di depan lelaki yang baru di kenalnya itu Ia merasa begitu dekat dan nyaman sekali untuk menceritakan semuanya.

Sambil tersenyum kecut Ia mulai bercerita: ketika syuting pertama, dengan bayaran yang begitu murah Ia diminta untuk memerankan kehidupan seorang penari erotis, saat itu Ia dipaksa untuk memakai bikini, dengan pakaian setengah telanjang itu Ia meliuk-liukan tubuhnya di depan banyak orang.

Jujur saja film pertamanya itu sempat membuatnya jijik. Tapi tak disangka, ternyata berkat film itu nama Flora Aurora Bunga mulai di kenal, karena film itu sangat sukses dan masuk box office


Selain para tetangga yang memandang sebelah mata, Ia juga pernah di kritik habis-habisan oleh kritikus Adinan, yang mengganggap dirinya begitu binal dan hanya mampu menjual keseksiannya saja, tanpa bisa berakting. 

Saat itu Ia sempat dibela oleh sutradara handal, Bambang Subali Budiman. Dan dari tangannya Ia menjadi artis terkenal dan menyabet beberapa Piala Citra.  


Awalnya Ia begitu akrab dengan Bambang Subali Budiman tapi akhirnya Ia memutuskan untuk menghindari sutradara yang sudah membuat namanya terkenal di dunia perfilman itu. Entah kenapa Ia merasa begitu muak dan terhina saat sutradara itu memaksa ingin bersetubuh dengannya.

Alasan klasik, permintaan seperti itu adalah hal yang biasa, apalagi sutradara itu merasa  bahwa dia yang sudah membuatnya terkenal.

Saat itu dia berpikir, biarlah orang lain menganggap Flora adalah wanita murahan karena sering pulang menjelang subuh sehabis syuting, biar bibir ini banyak dilumat para lawan mainnya, tapi kesuciannya akan Ia berikan pada lelaki yang dicintainya. 

Dan pertemuan pertama dirinya dengan Segara itu memberi kesan yang begitu mendalam.

Dan selanjutnya Ia sering menangis di depan Segara. Orang lain selama ini salah menilainya, di depan kamera Flora terlihat aktif, ceria dan bahagia, padahal dilubuk hati terdalam Ia merasa begitu kesepian. Di depan para penggemarnya Ia terlihat begitu bahagia dan penuh tawa, tapi tidak di depan Segara, entah kenapa dia tidak mampu menyembunyikan semua itu di depan Segara.


Karena sering bertemu, lama-lama tumbuh benih-benih cinta diantara mereka, mereka berdua selalu membuka diri.

Ia masih ingat saat dengan murung Segara sempat menceritakan tentang masa kecilnya yang terasa begitu kelam, saat itu Ia hanya bisa memeluk Segara untuk meredam duka dan amarahnya kepada lelaki yang selalu di sebut bangsat oleh Segara.

Dalam duka yang mendalam, Segara bercerita bahwa ibunya diperkosa di depan matanya sebelum bangsat itu membunuh ayahnya dengan sebilah Kampak.

Flora tercekat mendengarkan semua cerita yang keluar dari bibir Segara.


Segara dan orang-orang di sekelilingnya sering memanggilnya  dengan sebutan "Peri Bermata Hijau". Banyak orang yang memuji keindahan matanya, kata ayahnya warna matanya mirip mata ibunya. Wanita yang sama sekali belum pernah dilihatnya, karena kata ayahnya, ibunya itu meninggal dunia tak lama setelah melahirkan dirinya.


***

Di suatu malam yang begitu indah, Ia ingat, Segara mengantarnya pulang ke rumah setelah selesai syuting, rumahnya memang sepi dan Ia pernah begitu ketakutan karena diteror oleh Bambang Subali Budiman yang masih penasaran dengan kemolekan tubuhnya.

Ia masih trauma lelaki itu  pernah berbisik ketelinganya dengan tatapan mata penuh dendam karena penolakannya, "Flora, suatu saat aku pasti akan mendapatkan kesucianmu. Ingat itu dan akan kubunuh Segara bila dia berani mendahuluiku, memetik keperawananmu."

Seperti layaknya pasangan kekasih, hampir tidak ada yang tidak Ia ceritakan pada Segara, tapi tidak untuk yang satu ini.

Flora tidak berani menceritakan ancaman sutradara itu pada Segara, Ia takut ada pertumpahan darah antara kekasihnya dengan mantan  sutradaranya itu. 

Tidak berapa lama setelah Segara pulang. Malam itu Flora melihat ada mobil berwarna hitam berhenti di depan rumahnya, Ia tau itu mobil Bambang Subali Budiman. Ternyata Dia mengikutinya pulang. 

Flora melihat Bambang keluar dari dalam mobilnya dan berjalan pelan menuju ke rumahnya.

Dia mengetuk-ngetuk pintu dengan keras, berteriak memanggil namanya, Ia sangat ketakutan, berusaha diam sambil menangis dan panik sampai Ia lupa dengan nomor sekuriti di kompleknya, yang Ia ingat hanya  Segara. 


Flora menelepon Segara, meminta Segara untuk kembali ke rumahnya. Diluar sutradara itu masih teriak-teriak, kebetulan rumah Flora paling ujung dan tetangga disana itu masa bodoh dengan tetangga lainnya. 

Tidak berapa lama Segara datang bersama sekuriti, lelaki tidak punya malu itu akhirnya pergi meski penuh ancaman. 


Flora memeluk Segara sambil terisak, meminta Segara menemaninya malam itu, karena pembantu rumah sedang pulang kampung dan kembali empat hari ke depan. Segara tidak tega meninggalkan kekasihnya seorang diri di rumah besar itu. 


Malam itu Segara menemani tidur di rumahnya. Mereka tidur di kamar yang berbeda. 

Ia masih ketakutan dan gelisah, wajah lelaki tidak tau malu itu menghantui mimpinya, dalam mimpi Flora berteriak ketakutan karena lelaki itu mau memperkosanya. Ia tersadar ketika tepukan halus terasa dipipinya. 

Ia membuka mata dan Ia lihat wajah Segara sangat mengkhawatirkannya. 

Ia menangis sambil memeluk Segara, batinnya sangat terguncang dengan ancaman-ancaman sutradara brengsek itu. Akhirnya setelah tenang, Ia menceritakan semuanya pada Segara, walau tenang tapi Ia bisa melihat Segara  sedang menahan amarah dan cemburu.


Setelah selesai bercerita, dengan pelan Segara melumat bibir kecil ranum itu. Ia menyambutnya dengan membalas lumatan Segara. 

Tangan Segara meremas dua gundukan dadanya. Ia melenguh kenikmatan, lumatan mereka semakin liar. Sampai akhirnya Segara melepaskan lumatannya dan menyuruh Ia tidur. 

Entah setan dari mana yang berhasil membujuknya, Ia ingat, saat itu Ia yang menarik pelan tangan Segara, dengan malu Ia mengatakan, "Ambillah kegadisanku, biar lelaki itu tidak mengejar aku lagi"


Segara kaget dan ragu, melihat kearahnya yang seperti orang putus asa dengan teror yang selalu diterimanya.

Sambil tersenyum malam itu Ia membuka secara perlahan baju Segara sampai tinggal celana dalam berwarna hitam.  

Penuh hati-hati dan keraguan Ia rogoh celana dalam itu, jujur saja baru malam itu merasakan 'barang' lelaki.

Di keremangan cahaya lampu kamar tidurnya, Ia mendengar suara Segara mengerang pelan, lalu meremas rambutnya yang dicat pirang, menuntunnya untuk jongkok di depan Segara.

Dan selanjutnya, dengan setengah memaksa, Segara meminta Ia untuk membuka mulutnya. Saat itu perasaannya berkecamuk, walau Ia sering memerankan kan film sebagai penari telanjang, tapi adegan nyatanya baru malam ini Ia rasakan, bersama Segara.

Selanjutnya, masih terlihat jelas di kedua pelupuk matanya, saat Segara menggendong tubuh mungilnya ke atas kasur, membuka bajunya secara perlahan, sambil melumat bibirnya. 

Hingga tubuhnya benar-benar polos di depan Segara.  


Meski masih merasa takut dan malu, tapi Ia biarkan bibir hangat Segara mencumbuinya dari kening sampai ke titik sumber kenikmatannya dan malam itu Ia merasakan sensasi yang luar biasa dan baru pertamakali Ia rasakan.

Walau Ia sempat meringis kesakitan, tapi malam itu dia bahagia. Memberikan yang paling berharga miliknya itu kepada Segara, lelaki tampan yang sudah memikat hatinya.

Seprei putih bersih di kamarnya malam itu bernoda darah kesuciannya dan setelah malam pertama itu, hari-hari mereka lalui dengan penuh kehangatan di kamar ini. 


***

Segara pergi tanpa kabar, dalam duka karena merasa telah ditinggalkan begitu saja setelah barang paling berharga miliknya Ia serahkan. Karena  kesedihan begitu mendalam akhirnya Ia putuskan untuk  memenuhi permintaan ayahnya. 

Ia kembali ke Paris dan tinggal di Apartemen mewah dari ayahnya sebagai hadiah kepulanganya.

Setelah hampir berhasil melupakan wajah lelaki yang begitu di cintainya itu, tiba-tiba saja lelaki yang pernah memberikan kenikmatan kepadanya itu, muncul kembali di hadapannya seperti hantu.


***

Sampai saat ini Ia masih bingung dengan perubahan Segara, kenapa setelah malam itu dia berubah? 


Apakah karena malam itu Ia kurang memuaskannya?


Segara, dimana engkau?



Dari balik tirai apartemen yang terletak di jantung kota Paris 50 meter dari Menara Eiffel Flora memendam kerinduan.

Masih teringat saat Ia  bergumul dengan laki-laki itu, tak terasa Ia senyum-senyum sendiri membayangkan cumbuan dan gigitan yang Ia rasakan, selama bercinta dengan Segara yang tangguh  bagaikan kuda jantan. Berkali-kali Flora melenguh merasa kenikmatan seperti baru pertamakali Ia rasakan. 


***

Sudah sekian lama Ia tidak melihat ayahnya dan ternyata setelah tiba di rumah,  Ia tidak menjumpai siapa-siapa, terasa sepi dan senyap, orang yang biasa membersihkan rumah hanya datang seminggu dua kali. Ayahnya sangat tertutup pada orang lain, selalu waspada. Di rumah besar ini memang hanya ada ayahnya, sebab setelah kematian Ibunya, ayahnya tidak pernah menikah lagi.


Tumben pintu rumahnya tertutup, tapi tidak terkunci seperti biasa, setelah memanggil-manggil ayahnya, tapi tidak ada jawaban, Flora memutuskan untuk mencari ayahnya.


Di dalam rumah semuanya terlihat biasa saja, mungkin ayahnya sedang tidur di kamar. Sehingga tidak mendengar suara  anak satu-satunya itu memanggilnya.


Flora menuju ke kamarnya  di lantai dua. Ia melihat kamar ayahnya terbuka dengan kasur acak-acakan, pakaian yang biasa tersimpan dengan rapi di dalam lemari, sudah berhamburan keluar pada tempatnya. Flora kaget, sepertinya ayahnya diajak pergi dengan paksa karena sepatu ayahnya masih utuh ditempatnya. 


Dengan gemetar Flora memeriksa lemari, uang di dompet ayahnya masih utuh, begitupun koleksi cincin ayahnya tidak disentuh pencuri itu, Flora bingung apa yang dicari pencuri itu, Ia mengira-ngira sambil tangannya mencari sesuatu yang Ia sendiri tidak tau apa yang dicarinya, tapi firasatnya mengatakan ada sesuatu, sampai akhirnya di laci lemari paling bawah, Ia menemukan sebuah foto lama yang telah usang di makan usia.


Karena penasaran, Flora segera mengambil foto lama yang selama ini tidak pernah Ia lihat sebelumnya. Ada foto ibunya yang duduk bersama seorang lelaki gagah berkulit sawo matang yang tidak Ia kenal, dan foto yang duduk bersama ibunya itu bukan ayahnya. Lalu ada foto anak laki-laki diatas pangkuan ibunya. Siapa mereka?


Dan wajah anak kecil di dalam foto itu sepertinya pernah Ia lihat, tapi lupa dimana. Tapi tunggu! Sepertinya wajah anak laki-laki itu  tidak begitu asing baginya.





Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan tempat itu hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. Selanjutnya Bab 8 akan digubah oleh Widz Stoops
 

Selanjutnya >>

Rumah Fiksi 1919
Rumah Fiksi 1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam tarian penaku karena aku akan binasa secara perlahan

18 komentar untuk "Antara Cinta dan Dendam"

  1. Waah.. siapa ya kira-kira foto anak lelaki itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kira-kira siapa 😂😂 apakah anak tetangga 😁

      Hapus
  2. Wow keren banget. Segara siapa ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar tau baca dari bab 1, itu Daeng Khrisna yang ngawali 😁

      Hapus
  3. Hmm rupanya Karaeng kolektor akik

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😂😂😂 ratusan koleksi akiknya

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Sepertinya penulis kisah ini pernah ke Paris.

    BalasHapus
  6. Hfffth... Makin dingin nih tangan ma kaki... Ane bisa ga yhaaa😨😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk pasti bisa 😂😁😁

      Hapus
  7. Waduh ini keren banget, gimana aku bisakah melanjutkan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe pasti bisa mba 🤗🤗 Aku dah bebas 💅

      Hapus
  8. Aih.... mantap sekali ini. Alurnya jadi liar... makin rumit

    BalasHapus