Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Neraca Kehidupan

Foto Neraca oleh cottonbro dari Pexels
Foto Neraca oleh cottonbro dari Pexels

Di dalam pengelolaan keuangan perusahaan dan negara dikenal neraca. Bagi perusahaan, berarti posisi finansial pada selang waktu akuntansi. Bagi menteri pengurus keuangan, bermakna perbandingan ekspor dan impor sebuah negara dalam perdagangan internasional.

Laporan keadaan keuangan perusahaan, atau disebut juga sebagai balance sheet, merupakan jumlah harta dimiliki dibanding total hutang dan modal. Aktiva dan pasiva. Belanja dan pendapatan. Ketika kedua sisi tersebut dijumlahkan akan menjadi nihil. Jika aktiva bernilai negatif, maka pasiva bernilai positif. Demikian sebaliknya.

Artinya, neraca keuangan senantiasa berimbang.

Neraca, dalam kegiatan jual-beli adalah alat untuk mengukur, menakar, atau menimbang berat. Disebut timbangan. Bentuknya beragam, tetapi yang pasti satu sisi menjadi tempat bagi anak timbangan. Sedangkan, di sisi berbeda terdapat wadah benda yang akan ditimbang. Dua sisi tersebut dihubungkan oleh batang lurus sebagai tempat wadah-wadah bergantung.

Artinya, neraca untuk keperluan jual-beli atau timbangan senantiasa berimbang.

Di dalam ranah kekuasaan dan hukum pun dikenal neraca. Digunakan untuk menimbang hak dan kewajiban, penghargaan dan hukuman, perbuatan dan konsekuensi, dan seterusnya. Neraca atau timbangan ini lebih abstrak dibanding dua alat di atas. Kendati dibatasi oleh kesepakatan tertulis. Mereka yang melanggarnya akan dihukum setimpal, sesuai yang tertulis.

Terkadang, interpretasi terhadap kesepakatan tertulis amatlah relatif. Misal: perlakuan terhadap koruptor berbeda bumi dan langit dengan konsekuensi hukum kepada copet dompet; pegawai hukum cantik yang secara besar-besaran didiskon hukumannya, dibanding nenek pencari kayu yang mencuri singkong di kebun orang, demi meredam musik dangdut di perut. Terlepas dari itu, hukum tertulis mengamanatkan perlakuan adil bagi siapapun.

Artinya, neraca keadilan senantiasa memiliki hukum berimbang

Di dalam kehidupan sehari-hari berlaku norma-norma taktertulis yang mengatur agar tercipta suasana damai, bergotong-royong, berbuat baik kepada sesama, dan saling menghormati.

Namun demikian, dari waktu ke waktu ada saja pihak yang mengabaikan. Berhubung hal itu terjadi terus-menerus dengan skala meningkat dalam kehidupan nyata, maka perbuatan buruk itu dianggap lumrah.

Sebagai misal:

  1. Menyebut teman lain dengan nama binatang;
  2. Memaki di ruang publik;
  3. Menyematkan kata "lonte" dan sejenisnya kepada orang lain;
  4. Membuat, juga menyebarkan berita bohong (hoaks);
  5. Bergunjing, menjelekkan orang lain, terlibat perasaan pada tayangan gosip selebriti, berlebihan distrust tanpa memeriksa, dan segala hal buruk yang akan memanjangkan tulisan ini.

Bila percaya bahwa timbangan, neraca kehidupan senantiasa berimbang, maka perbuatan-perbuatan buruk itu akan dilunasi dengan akibat buruk pula. Jumlahnya, bobotnya, beratnya sama persis dengan besaran perilaku buruk kita. Bukan dihitung berdasarkan mata uang, bobot, berat yang bisa dikuantifikasi dan diprediksi, tetapi dengan kalkulasi serta konsekuensi yang jauh melampaui alam nalar manusia.

Neraca ini, berikut hukum-hukumnya sangat jauh, jauh lebih abstrak dibanding seluruh neraca yang pernah dibuat manusia, dengan waktu yang tidak pernah bisa diprediksi. Konsekuensi pasti akan tiba pada saatnya.

Jadi, berbuatlah baik untuk membayar perbuatan-perbuatan buruk pada masa lampau, sebelum dibayar tunai dengan akibat buruk.

Neraca kehidupan senantiasa berimbang dan beroperasi seadil-adilnya. Neraca kehidupan adalah milik sang Pemilik Kehidupan.

***

6 komentar untuk "Neraca Kehidupan"