Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bertahan Hidup, Esedentisias, dan Gigitan Putus Asa


Aku sengaja menulis esai ringkas ini untukmu. Ya, untuk kamu. Kamu? Ya, kamu. Kamu siapa? Ya, kamu semua, terutama bagi kamu yang orang terdekatmu sedang putus asa. Bisa kakakmu, adikmu, orangtuamu, ponakanmu, pacarmu, suamimu, istrimu, atau mungkin kakek dan nenekmu. 

Ada satu kata menarik yang ingin saya agihkan kepadamu. Tahu arti "agihkan", kan? Kalau belum tahu, saya kasih tahu saja. Artinya, sodorkan. Kata apa yang akan saya agihkan? Esedentisias. Apa artinya? Ringkas. Orang yang selalu menutupi derita batinnya dengan senyuman.

Kamu pernah melihat orang seperti itu? Saya sering. Orang demikian di luar tampak tegar, tetapi di dalam remuk redam. Terluka sedikit atau banyak, ia hanya tersenyum. Ia berusaha terlihat baik-baik saja, padahal ia sedang tidak baik-baik saja. Ia tertawa, padahal dadanya lebam karena luka.

Jika kamu dengan orang seperti itu, lalu kamu lihat tampaknya ia sedang ingin curhat, dengarkanlah. Kadang didengarkan saja sudah bisa bikin lega hati kaum esedentisias. 

Kamu pasti pernah juga mendengar dua kata ini: bertahan hidup. Dua kata itu sangat mudah diucapkan, tetapi amat sukar dilakukan. Itu terjadi tatkala dua kata itu dikitari oleh tembok putus asa. 

Kadang ada seseorang di dekat kita yang merasa tubuhnya terjebak dalam tembok putus asa itu. Lalu, ia kengira kematian satu-satunya cara untuk menyelamatkan hidupnya. 

Jika kamu bertemu dengan orang seperti itu, jangan tertawa saat ia berkata sedang menunggu mati. Mungkin saja ia sudah lelah memikirkan cara untuk bertahan hidup, lalu tergoda untuk mencari jalan termudah untuk mati. 

Jangan kamu olok-olok, ya, apalagi kamu caci maki. Jika berat bagimu untuk merangkulnya, dengarkan saja keluhnya. Mungkin saja hidup di matanya hanya tumpukan luka, sehingga merasa mati lebih menjanjikan meski jalan untuk mati tidak pernah mudah. 

Jika orang terdekatmu berada pada titik itu, tidak perlu ceramah soal nilai-nilai hidup. Cukup dengarkan keluhnya. Dengarkan saja!

Ya, dengarkan saja. Adakalanya kita perlu mendesiskan "jangan menyerah" atau "tetap tangguh", adakalanya kita mesti diam penuh empati. Tidak perlu kauhamburkan rupa-rupa wejangan, kecuali ia meminta tanggapanmu atas deritanya. Apalagi sampai kaukatakan "elo tolol", itu bisa-bisa menjadi bensin bagi percik api.

Tiap orang punya kadar sabar. Takarnya pun berbeda-beda. Orang lain mungkin bisa memanjati atau melompati tembok putus asa, lalu keluar dengan selamat, tetapi ada orang yang mungkin berjinjit saja sudah tidak mampu.

Kepada orang yang sudah letih hidup seperti itu, jauhkanlah nasihat "jangan sia-siakan hidupmu". Boleh jadi ia merasa hidupnya sudah sia-sia. Jadi, dengarkan saja sekalipun saran atau makian hendak meledakkan dadamu.


18:47

3 komentar untuk "Bertahan Hidup, Esedentisias, dan Gigitan Putus Asa"