Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anna Lao: Polwan Tionghoa Pertama di Indonesia, Jadi Polisi itu Membanggakan

Anna Lao adalah sejarah. Ia merupakan Polisi Wanita (Polwan) keturunan Tionghoa pertama di Indonesia. Gelar dari Museum Rekor Dunia Indonesia telah mengukuhkannya. Namun, bagi wanita 4 anak ini, menjadi polisi adalah bentuk kecintaannya terhadap Indonesia. 

Ia juga menyenangi pekerjaannya. Bisa berbakti kepada nusa dan bangsa. Jiwa sosialnya telah muncul sejak dini. Seiring dengan sifat tomboi nya yang tak bisa diam. 

Pilihan menjadi Polwan sebenarnya tidak pernah terbersit dalam benaknya. Profesi yang sangat tidak lazim bagi wanita di zamannya. 

Terlebih lagi, ia berasal dari keluarga “cina totok.” Awalnya bentuk pengabdiannya ingin ia ekspresikan melalui guru atau bekerja di panti asuhan. Namun, harapannya buyar. Ayahnya yang seorang pedagang tidak mengizinkannya sekolah tinggi-tinggi. 

Ayahnya tidak menganggap sekolah sebagai sesuatu yang penting. Terutama bagi wanita. Namun, Anna tetap ingin bersekolah. Suatu hari Anna pergi sebuah sekolah. Ia hanya berdiri menatap gedungnya dari depan. 

Kepala sekolah yang kebetulan lewat merasa tertarik. Ia mendekati Anna kecil dan mengajaknya berbicara. 

 “Kenapa” tanya sang Kepala Sekolah, dikutip dari wawancara di Metro TV (10.10.2015). 

“Saya ingin bersekolah,” anak perempuan itu menjawab. 

Sang Kepala Sekolah kemudian memberi Anna sebuah buku tulis. Mulai besok ia bisa bersekolah. Sewaktu SMP, Anna pindah ke Surabaya, mengikuti kakaknya. 

Selagi masih duduk di bangku SMP, ia pun mengirim surat ke kantor polisi. Isinya, ingin menjadi seorang Polwan. Seorang polisi yang baik hati kemudian membalas surat Anna. Isi suratnya mengecewakan sekaligus menggembirakan. 

“Belum ada penerimaan, nanti kalau ada akan disampaikan,” singkat dan jelas. 

Pada tahun 1958, Anna kembali ke Makassar. Ia masuk SMA di kota Daeng ini. Keinginannya menjadi guru mulai terkikis. Anna lebih tertarik menjadi polisi. Masih duduk di bangku kelas 1 SMA (kelas 10), ada pengumuman penerimaan polwan dengan syarat minimal, ijazah SMP. 

Lowongan itu dibuka oleh Datasemen Pengamanan dan Keamanan Negara (DPKN). Tanpa berkonsultasi lagi, Anna pun mendaftar. Kedua orangtuanya sempat marah dan tidak merestui. Anna tetap bersikeras. 

Bahkan, teman-teman dan suster guru di sekolah Katolik tempatnya belajar juga tidak setuju. Mereka malah mendoakan semoga Anna tidak lulus penerimaan. Agar tidak meninggalkan mereka. Ternyata, Tuhan tidak mendengarkan doa para sahabatnya. Dari 45 orang yang mendaftar, hanya 5 orang yang lolos seleksi lanjutan, termasuk Anna. 

Tes awal yang diberikan adalah pengetahuan dasar, seperti Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Untuk seleksi lanjutan, DPKN berfokus kepada ketahanan fisik. 

Anna memiliki fisik yang kuat. Sedari muda ia sudah belajar Kuntao (Kungfu). Ia juga memiliki kebiasaan. Selalu bangun jam 4 subuh untuk lari pagi. Alhasil tes berat yang diberlakukan DPKN hanya menyisakan dirinya seorang. 

Empat calon lainnya tidak tahan dengan latihan fisik yang berat. Muntah-muntah hingga pingsan kelelahan. “Saya tahunya tentang kelulusan saya itu dari koran,” pungkas Anna. Lolosnya Anna sebagai polisi tidak serta-merta mulus. 

Anna harus melapor ke Jakarta, dimana biaya transportasi harus ia tanggung sendiri. Anna pun menghadap Pak Suroso. Polisi yang menangani tahap lanjut kelulusannya. Anna mengungkapkan masalah finansial yang ia hadapi. Pak Suroso yang menyadari potensi Anna dan juga tahu jika ia adalah keturunan Tionghoa langsung menulis sepucuk surat. 

Ditujukan kepada Ketua Perkumpulan Tionghoa Makassar. Isi suratnya adalah permintaan sumbangan untuk mendukung cita-cita Anna. 

“Kamu bawa surat ini,” ujar Pak Suroso. 

Dengan patuh, Anna pun membawa surat tersebut menghadap ke Ketua Perkumpulan Tionghoa Makassar. Dari sana, ia mendapatkan sumbangan sebesar 2.600 rupiah. Uang sumbangan komunitas Tionghoa tersebut digunakan untuk membeli tiket pesawat ke Jakarta. 

Harganya dua ribu rupiah kala itu. Sisa enam ratus rupiah diberikan oleh Pak Suroso kepada Anna untuk uang saku selama di Jakarta. Kakak perempuan Anna juga membantunya. Ia memberikan cincin emasnya untuk berjaga-jaga jika kekurangan. 

 Selama setahun di Jakarta, Anna memanfaat waktunya untuk mengikuti banyak pelatihan. Pelajaran tahap lanjutan di Sukabumi dan latihan tempur pun dilakoni. Kelak seluruh bekal yang ia terima menjadi sangat berguna. Pada saat ia menerima penugasan pertama di Aceh, dan menjadi intel di Jakarta. 

Cerita menarik, di tahun 1964, Anna pernah mengikuti latihan terjun payung bersama seorang yang kemiudian menjadi orang nomor satu RI, Soeharto. Saat itu, Seoharto sudah berpangkat Brigjen. Latihan tersebut sebagai persiapan dirinya untuk dikirim ke perbatasan Kalimantan dalam konfrontasi dengan Malaysia. 

Anna mengungkapkan tidak ada perlakuan diskriminasi yang pernah ia dapatkan selama bergabung dengan Korps Kepolisian. Ia malah bersahabat dengan seluruh angkatannya dan menikmati kekompakan yang terjalin bersama. 

Menjajaki karir di bidang yang masih jarang disentuh oleh kaum perempuan ini, banyak yang cemburu. Pernah suatu waktu, Anna difitnah melalui surat kaleng. Isinya meragukan kemampuan Anna pada saat ia ditunjuk menjadi intel. 

Meskipun atasannya sudah tidak ragu dengan kemampuan Anna, ia tetap bertanya; 

“Kamu bisa?” Tanya sang atasan menjawab isi surat kaleng tersebut. 

 “Saya coba.” Anna menjawab dengan tegas. 

Hasil pun ditunjukkan. Anna selalu berhasil menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari target yang diberikan atasan. Bagi Anna, kerja seorang polisi adalah sesuatu yang membanggakan. Ia juga senang karena tidak pernah tergoda untuk menyalahgunakan kekuasannya. 

“Selama jadi Polwan, saya tidak pernah meres,” ujarnya. 

Anna merasa kasihan bagaimana para purnabakti yang seharusnya mendapat penghargaan, justru jatuh terjerembab akibat ulahnya sendiri. Pada umumnya adalah kasus pungli, pemerasan, hingga korupsi. 

Menjadi polisi juga adalah sebuah berkah. Tugasnya memang berat, tapi Anna tidak penah menolak. Bahkan yang seharusnya menjadi porsi lelaki pun ia lakukan. Anna senang, bisa berkenalan dengan banyak orang. 

Menjadi anggota pengamanan sejumlah Kepala Negara sahabat yang berkunjung ke Indonesia. Anna bersyukur. Ia bisa jalan-jalan keliling negeri hingga ke luar negeri. Menjadi anggota pengawal presiden jika berkunjung ke manca negara. 

“Jadi, bekerjalah dengan baik. Ciptakan persahabatan. Menjadi polisi adalah berkah, dan itu menyenangkan,” ujar Anna Lao menyampaikan pesannya. 

SalamAngka™ 
Rudy Gunawan, B.A., CPS® 
Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI 

7 komentar untuk "Anna Lao: Polwan Tionghoa Pertama di Indonesia, Jadi Polisi itu Membanggakan"

  1. Inspiratif Om Rudy...tekad dan perjuangan yang kuat menjadi modal kesuksesan...mencerahkan

    BalasHapus
  2. Betul sekali ciptakan persahabatan 👍

    BalasHapus
  3. Sini Lao, sana SS.. MANSTAP

    BalasHapus
  4. Wah, baru tahucerita ini, Koh! Thank you yaa 🙏

    BalasHapus
  5. Sangat membuka wawasan dalam hal ini, Pak Rudy.

    Salam 🙏 sehat

    BalasHapus