Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terkunci di Dalam Sebuah Toko di Amerika

 

                                              Sumber : https://unsplash.com/@tmwd

Di suatu akhir pekan, saya bersama suami pergi mengunjungi sebuah galeri  berlokasi di daerah Venice. Letaknya kira-kira satu jam dari rumah saya jika ditempuh dengan mengendarai mobil.  


Itu adalah kali pertama saya mengunjungi tempat tersebut. Ada sekitar sepuluh toko kecil di dalam galeri. Setiap toko menjual barang-barang yang berbeda.
Ada toko khusus menjual buku-buku bacaan, ada toko khusus menjual kartu ucapan, toko khusus menjual baju dan lain sebagainya.

Perbedaan ini mungkin sengaja diterapkan untuk menghindari adanya kompetisi antar toko.

Satu toko yang sangat menarik perhatian saya adalah toko yang menjual perhiasan hasil kerajinan tangan seperti anting, gelang, kalung dan lain-lain. Perhiasan tersebut terbuat dari berbagai macam materi seperti perak, anyaman bambu, batu dan masih banyak lagi.

Saya sendiri sebetulnya bukanlah tipe wanita yang suka gonta-ganti perhiasan hanya untuk terlihat sepadan dengan pakaian yang saya kenakan. Namun sekali saya memakainya, perhiasan itu akan melekat terus di sana. Jadi apapun pakaiannya tidak jadi masalah buat saya.

Adapun perhiasan yang saya maksud di atas adalah  cincin pertunangan, cincin kawin, cincin peninggalan almarhumah sahabat dekat saya,  cincin peninggalan almarhumah tante saya, gelang emas yang merupakan mas kawin saya dulu, gelang emas kenang-kenangan dari tempat saya bekerja di Jakarta dan sepasang anting-anting yang emasnya saya tambang sendiri.

Yup! Anting-anting mungil yang saya kenakan di kedua telinga saya merupakan hasil penambangan emas yang saya lakukan sekitar 4 tahun lalu. Pengalaman ini mungkn akan saya ceritakan pada artikel yang berbeda, yaa.

Mungkin pembaca kemudian bertanya, kalau memang tak suka perhiasan, ngapain juga masuk ke toko perhiasan? Alasannya, saya jarang berbelanja perhiasan. Jadi pada saat saya punya kesempatan untuk itu, akan saya pergunakan dengan baik. 

Biasanya perhiasan yang saya beli tidak akan saya koleksi atau saya pakai. Tapi saya simpan sebagai hadiah untuk saudara atau teman dekat yang berulang tahun, merayakan hari Natal dan tahun baru atau perayaan lain yang sekiranya pantas untuk saya berikan perhiasan. 

Saat masuk ke toko perhiasan tersebut saya disambut oleh seorang wanita Asia. Saya tidak berani menebak itu wanita Indonesia. Karena di sini wanita dari Thailand, Philipine, Vietnam semua hampir mirip seperti wanita dari Indonesia.

Wanita Asia tersebut menyodorkan saya sebuah nampan kecil untuk digunakan menaruh perhiasan pilihan yang akan dibeli.

Terlihat ada sekitar sembilan atau sepuluh orang pengunjung di dalam toko itu. Saat sedang melihat-lihat perhiasan, wanita Asia tersebut menghampiri dan bertanya apakah saya berasal dari Indonesia. Setelah berbincang-bincang sebentar, ternyata firasat saya tidak meleset, wanita Asia penjaga toko itu memang berasal dari Indonesia. 

Mengetahui itu saya semakin ‘kalap’ untuk berbelanja lebih banyak lagi. Rasanya senang dapat membantu sesama orang Indonesia. Karena saya mengerti ia pasti dibayar berdasarkan komisi dari hasil penjualan. 

Suami saya yang tidak suka berbelanja dan berkesabaran tipis, bertanya apakah saya akan berlama-lama di toko itu. Karena saya sendiri tidak jelas berapa lama  akan berada di sana, sayapun mengiyakan saat suami meminta ijin untuk melihat toko-toko yang lain sambil menunggu saya.

Beberapa lama kemudian, setelah puas dengan perhiasan-perhiasan yang telah saya pilih untuk dibeli, sayapun berjalan menuju meja kasir. Tidak ada orang di meja itu. Dengan sabar saya menunggu. Tiga menit ... Lima menit .. Tak ada satupun yang datang melayani.

Hello! Anybody here?” Teriak saya cukup keras.

Tak ada sahutan. Mata saya mulai menjelajahi setiap sudut ruangan toko. Saya tidak mencium adanya tanda-tanda kehidupan. Lalu ke mana semua pengunjung toko ini tadi? Semuanya menghilang? 

Perlahan saya memeriksa bawah meja kasir. Entah mengapa saya berpikir kalau-kalau si kasir ketiduran di bawah meja. Tentu saja tidak ada yang tidur di sana! 

Pandangan saya kemudian tertumpu pada sebuah ruangan dekat meja kasir. Saya beranikan diri masuk ke dalam ruangan tersebut, yang ternyata adalah gudang tempat menyimpan barang-barang. Tidak ada siapa-siapa di sana. 

Rasa kesal semakin memuncak. Nampan kecil berisi perhiasan saya letakkan di atas meja kasir. Saya memutuskan untuk segera pergi dari toko itu tanpa membeli apapun.

Saat hendak membuka pintu untuk ke luar toko, saya sadar pintu tersebut terkunci. Oh, no! Saya terkunci di dalam toko ini! Saya berusaha menenangkan diri dan memikirkan langkah selanjutnya, yaitu menelpon suami saya. 

Tangan saya sibuk mencari-cari telpon genggam di dalam tas hanya untuk menyadari bahwa barang tersebut tertinggal di dalam mobil. Now what? 

Segera saya dekatkan wajah ke permukaan kaca, berharap ada orang yang lewat untuk saya minta pertolongan. Saat itulah saya melihat suami saya sedang melihat-lihat etalase toko tidak jauh dari toko tempat saya berada. 

Saya berteriak memanggil namanya, ia bergeming. Mungkin tidak mendengar, karena saya berada di dalam toko yang barangkali kedap suara. Sayapun mulai melambaikan kedua tangan, berharap suami melihat saya. 

Entah berapa lama saya melambaikan tangan, akhirnya ia melihat saya dan terlihat bingung mengapa saya harus melambaikan tangan. Ia mengisyarakan saya untuk keluar toko. Saya menggelengkan kepala. Karena bingung, ia akhirnya menghampiri dan bertanya apa yang terjadi.

Dengan setengah berteriak saya jelaskan kalau saya terkunci di dalam toko. Suami tertawa, ia pikir saya bercanda. Maklum saya memang tipe istri yang senang bercanda. Tapi setelah ia sendiri mencoba membuka pintu dan mendapatkan bahwa pintu tersebut  terkunci, barulah ia sadar bahwa saya benar-benar serius.

Suami mencoba menenangkan saya dan kemudian pergi mencari pertolongan. Tak lama berselang ia kembali bersama seorang sekuriti galeri tersebut dengan membawa segombyok kunci. Satu persatu kunci tersebut di coba. Untunglah salah satu dari entah berapa banyak kunci yang ia bawa akhirnya mampu  membuka pintu.

“Pff! Hampir saja saya mendobrak pintu ini, kalau sampai pintu ini tidak bisa dibuka!” Begitu komentar suami saya kepada sekuriti. 

Mungkin pembaca bertanya-tanya, kok saya bisa sampai terkunci di dalam toko?
Selidik punya selidik, ternyata pada saat jam makan siang, toko tersebut ditutup karena wanita Indonesia itu satu-satunya karyawan yang menjaga toko. Si wanita Indonesia, tidak mengecek ruangan toko dengan seksama sebelum menutupnya untuk pergi makan siang. 

Saya tidak pernah menyangka kalau ada seorang wanita Indonesia yang pernah mengunci saya, yang juga wanita Indonesia di dalam sebuah toko di Amerika! 

Widz Stoops, PC-USA  05.24.2021










12 komentar untuk "Terkunci di Dalam Sebuah Toko di Amerika"

  1. Hahaha. Kelamaan cuci matanya...

    BalasHapus
  2. Pengalaman yang mendebarkan 😁 kebayang degdegannya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha untung bukan diculik yang punya toko 🤣

      Hapus
  3. Hahahaha
    Sekalian nitip maksinya, bungkus ya mbak pramuniaga

    BalasHapus
  4. Waduh, serasa mau berak dan kencing saya membacanya. Ha ha ... Makanya masuk toko itu jangan kalap. He he ... Selamat sore dari tanah air, Mbak widz.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha ha ha … kalau terkunci di toko itu gak bisa pipis ato BAB, ora ono toiletnyaaa .. 🤣

      Hapus
  5. Padahal nampannya cuma berisi sepasang anting batu. Hadeuh

    BalasHapus