Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Mata Ada di Kepala?

Itu pertanyaan seorang tukang copet. Sebab dia ingin mata ada di ujung telunjuknya. Dengan begitu dia leluasa mengarahkan mata ke segala arah. Untuk mengintip isi saku atau  tas calon korban.

Ndilalah, pertanyaannya didengar Tuhan. Iseng, Tuhan langsung memindahkan kedua mata pencopet itu ke ujung telunjuk kanam dan kirinya.

Alangkah senangnya hati pencopet itu. Dia langsung memanfaatkan mata di telunjuknya secara efisien dan efektif. Baru separuh hari, nilai hasil copetannya sudah menyamai penghasilan reguler copet seminggu.

Saking gembiranya, dia segera pergi makan siang ke Restoran Padang Subuh-Magrib. Dia minta semua jenis makanan disaji di atas meja. Maka penuhlah meja makannya dengan aneka lauk pauk pedas bersantan.

Tak mampu menahan nafsu, pencopet itu langsung meraup cincang sapi dengan tangan kanan dan balado terong dengan tangan kiri. "Adoouuwww!" Dia berteriak histeris karena kedua matanya pedih tak terperi terendam kuah dan sambal pedas.

Mendadak kedua matanya tak bisa melihat apapun. Panik, dia bangkit menabrak meja sehingga semua makanan tumpah ke lantai. Makan siang enak gagal total. Mata malah bersalep sambal.

Tak jelas bagaimana akhirnya nasib pencopet malang itu. Apakah Tuhan kemudian memindahkan matanya ke kepala, tidak ada kabar beritanya di medsos plus enam dua.

Lupakan saja dia. Pastikan saja kedua matamu tetap ada di kepala, tepatnya antara hidung dan jidat. Di situlah tempatnya. Dari ketinggian itu mata bisa memimpin langkahmu ke jalan yang benar. Aku pikir begitulah maksud Tuhan, sehingga Dia menempatkan mata di bagian atas wajahmu. (efte)

 

Felix Tani Sosiologi Pedesaan, Studi Pembangunan, dan Sosionomi Pertanian. Peneliti, penulis, petani, dan konsultan lepas. Menulis artikel sosiologi, ekonomi, dan pertanian di sejumlah buku, jurnal ilmiah, majalah berita, dan surat kabar. Menulis dan menyunting sejumlah buku ilmiah.

4 komentar untuk "Mengapa Mata Ada di Kepala?"