Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kucing yang Cerewet

Ilustrasi kucing oleh PublicDomainPictures dari pixabay.com
Ilustrasi kucing oleh PublicDomainPictures dari pixabay.com

Cerewet itu genetik. Cerewet terus-menerus dengan suara melengking bisa membuat bising, kuping berdenging, kepala pusing. Cerewet semacam itu harus dibina. Maksud saya: dibinasakan.

Seekor kucing betina yang berasal dari antah berantah tiga kali sehari datang ke rumah. Pagi. Siang. Malam.

Setiap saya mulai sarapan, kucing abu-abu putih mengeong-ngeong. Saat sedang makan siang, ia mengeluarkan suara melengking. Makan malam pun demikian, hewan berekor panjang itu merengek nyaring dari balik pintu.

Bukan pintu tertutup yang terbuat dari panel kayu penuh, tetapi pintu expanda. Pintu berjaring anti nyamuk supaya di antaranya angin menembus masuk ke dalam rumah.

Kucing kampung buangan orang kampung minta makan setiap saya makan. Saat sendok garpu beradu dengan piring. Saat saya menutup pintu kulkas. Jadi, setiap ada pergerakan manusia, ia mengeong-ngeong terus-menerus dengan suara melengking. Membuat bising, kuping berdenging, kepala pusing. Itulah kucing cerewet, yang celakanya, betah berdiam diri di rumah.

Di sisi lain, rasanya tidak tega bila membiarkannya begitu saja. Suka taksuka, mau takmau, saya harus menyisihkan kepala ikan beserta tulangnya, dicampur nasi sebagai menu makan. Ada saat-saat saya tidak makan ikan, sehingga saya perlu mengadakan ikan pindang atau tongkol, agar kucing tidak semakin cerewet minta makan.

Saya tidak perlu memberinya nama. Tanpa dipanggil pun ia datang dengan suara melengking terus-menerus yang membuat bising, kuping berdenging, kepala pusing.

Ada waktunya kucing betina itu beranak. Dari empat anaknya, hanya satu ekor yang bertahan hidup. Imut dan lucu juga, meskipun saya tidak pernah memegangnya. Induknya demikian overprotektif kepada anaknya.

Semakin besar, semakin terlihat penampilan anaknya persis sama dengan sang induk. Berwarna abu-abu putih dan berekor panjang. 

Berita baiknya, anak kucing itu berkelamin jantan. Potensi tumbuhnya keluarga kucing beranak-pinak di rumah saya pupus sudah.

Berita buruknya, kucing itu mewarisi sifat induknya: cerewet!

Maka, dua ekor kucing mengeong-ngeong terus-menerus dengan suara melengking, membuat suara bising, kuping berdenging, kepala pusing.

Ternyata, cerewet itu genetik.

Kian dewasa anak kucing kian besar badannya, membuatnya semakin memperlihatkan arogansinya. Ia mendeklarasikan diri sebagai pengusaha tunggal koloni di luar pintu expanda. Kucing-kucing petualang yang menghampiri diusirnya dengan lengkingan, sesekali ditampar dengan cakarnya.

Paling terakhir, mencermati keangkuhan sang anak di wilayah kekuasaan, induknya menyingkir entah ke mana.

Kendati, akhirnya, menjadi kucing pejantan penguasa tunggal, anak kucing yang sudah menjadi kucing dewasa mengeong-ngeong terus-menerus dengan suara melengking, membuat bising, kuping berdenging, kepala pusing, tidak sirna. Kian hari kian menjadi-jadi.

Setiap saya sarapan, bersantap siang, makan malam, menutup pintu kulkas, dan mengeluarkan bunyi ketika bergerak, kucing jantan berwarna abu-abu putih otomatis mengeong. Terus-menerus dengan suara melengking, membuat bising, kuping berdenging, kepala pusing.

Saya berpikir, tiada jalan lebih baik daripada menyingkirkannya. Suatu malam saya menyergap, memasukkan ke dalam karung, dan membawanya dengan sepeda motor menuju tempat yang lumayan jauh.

Malam itu sentosa. Tidak terdengar suara apa-apa.

Keesokan paginya, seperti biasa saya sarapan. Sendok menggaruk nasi goreng. Sejenak beradu dengan piring, maka seketika itu juga terdengar dari balik pintu expanda: suara mengeong-ngeong terus-menerus, melengking, membuat bising, kuping berdenging, kepala pusing.

"Bah! Dia kembali rupa-rupanya."

Baiklah, saya punya rencana terakhir, tapi sebelum terlaksana saya terlebih dahulu melakukan hal lain.

Siang itu, pada sebuah batu persegi yang basah saya mengasah pisau agar tajam setajam-tajamnya. Demikian, sehingga selembar kertas HVS melayang-layang dijamin terpotong sempurna oleh pisau dapur itu dengan sekali tebas 

Kemudian saya menggunakannya untuk mengiris urat nadi utama yang terletak di bagian leher kucing cerewet. Dengan itu selesai sudah perkaranya. Saya pun bernapas lega.

Sarapan, santap siang, makan malam, buka pintu kulkas, dan mengeluarkan bunyi ketika bergerak tidak ada lagi suara mengeong-ngeong yang melengking. Tenang. Damai.

"Pah, uang BLT sudah hampir habis. Coba urus lagi!"

"Susah, Mah ...."

"Makanya. Jadi laki tuh jangan di rumah saja. Sudah beberapa lama ini? Pergi cari kerja, kek! Pokoknya pulang bawa duit!"

“Tapi situasi pandemi begini ....”

“Tidak ada tapi-tapian. Usaha sana!”

Demikian seterusnya. Dan seterusnya. Dan seterusnya demikian selama berhari-hari, gugatan itu melengking, membuat suara bising, kuping berdenging, kepala pusing.

Demi menyelesaikan persoalan itu, suatu sore saya ke belakang mengambil batu persegi basah, untuk kembali mengasah pisau agar menjadi tajam setajam-tajamnya.


Posting Komentar untuk "Kucing yang Cerewet"