Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Apakah Imanmu Sebatas Baju Baru?

 


Di saat dunia diguncang berita kasus Covid 19 di India yang mencapai 400.000 orang perhari, eh di Indonesia malah santuy berbelanja berdesakan di pasar grosir Tanah Abang dan Pasar Senen. Ini sungguh sangat memprihatikan, betapa rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia. Kita yang waras hanya bisa mengelus dada.

Bagaimana kita akan terbebas dari pandemi jika masih saja ada yang tidak patuh pada protokol kesehatan. Program 5 M diabaikan dengan mudahnya, sehingga kemungkinan besar akan terjadi lonjakan kasus Covid 19 di ibukota Jakarta.

Pemerintah Daerah ibukota Jakarta tampaknya abai dalam hal ini. Tidak ada antisipasi dan upaya pencegahan. Padahal seharusnya bisa diprediksi sebelumnya.

Membeli baju baru untuk lebaran adalah kebiasaan yang salah kaprah. Karena tidak ada perintah dari Allah dan Rasul-nya untuk menggunakan baju baru pada hari raya. Hanya ada anjuran untuk mengenakan apa yang terbaik dari yang sudah dimiliki.

Membeli baju baru bukan kewajiban, juga bukan sesuatu yang darurat untuk dilaksanakan. Toh, kita tidak akan mati jika tidak menggunakan baju baru. Kita akan baik-baik saja dengan baju lama. Kelakuan mereka malah seakan baju baru seperti hidup dan matinya seseorang.

Kalau alasannya untuk membahagiakan anak-anak, sangat klise dan kurang masuk akal. Anak-anak juga sudah mengerti tentang pandemi. Ini hanya pola pikir emak-emak yang ingin kelihatan gaya di hari lebaran.

Padahal jauh lebih penting meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir. Mereka telah menyia-nyiakan kesempatan meraih pahala berlipat ganda untuk urusan duniawi yang sangat remeh. 

Jadi ternyata iman sebagian besar masyarakat Indonesia hanya sebatas baju baru. Tidak sampai mengendap di dada atau tertanam di hati. Lantas timbul pertanyaan, mengapa dakwah tidak bisa mengubah kebiasaan ini?


#HikmahRamadan

4 komentar untuk "Apakah Imanmu Sebatas Baju Baru?"

  1. Yang dikhawatirkan, ingin baju baru malah dapat tempat tinggal baru. Rumah sakit, atau ...?

    BalasHapus
  2. Nah, justru itu. Mereka tidak berpikir.

    BalasHapus
  3. Mengapa dakwah tidak bisa merubah kebiasaan ini? Pertanyaan menarik dan seharusnya menjadi catatan bagi kita semua😀👍

    BalasHapus