Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Suara Halus Membangunkan Sahur

Ilustrasi jendela oleh Heather_Ann dari pixabay.com

Bulan Ramadan menyisakan kisah. Salah satunya adalah ketika terlelap akibat begadang, terbangun hanya sebab suara halus nan lembut. Bukan oleh nada menggelegar maupun ledakan petasan.

Semasa kuliah, beberapa rekan mahasiswa kerap berkumpul di sebuah rumah besar tempat tinggal seorang teman. Ia memang berasal dari keluarga terpandang di kota pelajar itu. 

Rumahnya pun berada di daerah strategis. Mudah dicapai dari kampus. Lama-kelamaan yang rajin berkumpul tinggal beberapa orang saja. Jadi kumpulan sahabat yang secara tidak sadar membentuk sebuah geng.

Keluarga itu keluarga bangsawan, menak yang santun dalam bertutur. Apalagi ibunya, sangat lembut dan halus dalam bertutur, baik dalam arti penggunaan bahasa tingkat tinggi maupun intonasinya.

Kami sangat segan dan memandang dengan hormat. Kami pun ikut-ikutan anak kandungnya memanggil “Teteh”.

Kegiatan banyak, maklum anak muda. Bahkan kami yang perantau sering menginap. Bahkan saat bulan Ramadan. Yang pasti, bagi anak perantau soal makan sahur terjamin, secara kuantitas maupun kualitas.

Suatu saat kami menginap setelah bermain sampai malam. Baru sampai di rumah besar itu selepas tengah malam. Semua tidur di paviliun, terpisah dari rumah induk. 

Gabungan dari udara dingin, lelah, tidur terlalu larut, membuat tidur demikian pulas. Ledakan-ledakan petasan tidak terdengar. Suara-suara dari masjid membangunkan orang sahur tidak terdengar. Lelap.

Dari balik jendela, terdengar suara halus.

“Anak-anak, hayo bangun. Sebentar lagi imsak.”

Masih dengan kepala kliyengan, sontak kami melompat bangun.


4 komentar untuk "Suara Halus Membangunkan Sahur"

  1. Kalau keluarga ningrat memang biasa bertutur kata halus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, begitulah pendidikan keluarga yang bagus.

      Hapus
  2. Iyaaa, jangan gegoakan seperti orang-orang ngebangunin sahur di jalan-jalan itu ya ombud, ngeselin!

    BalasHapus