Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Sandal Jepit dan Kaki Ayam

sumber gambar

https://m.bisnis.com/amp/read/20190907/106/1145608/efek-negatif-penggunaan-sendal-jepit-salah-satunya-pemicu-kanker-kulit


Senja sudah mulai berlabuh. Dara dan teman-temannya setiap sore pasti bermain. Banyak permainan yang mereka lakukan. Bermain petak umpet, yeye, yoyo, kelereng, dan lain-lain. Permainan itu tak ada habisnya. Mereka pulang bila hari sudah gelap dan tidak kelihatan apa-apa.

Setelah bermain Dara tidak melihat sandal jepit padahal baru kemarin di beli Inang di Pasar. Teman-temannya sudah pada pulang tinggallah dia sendirian di halaman Oppung Sari. 

Setiap sudut dia cari, di kampung kami halaman sangat luas, jadi tempat bermain tidak usah jauh-jauh. Kadang ke Los depan rumah tempat pekan berlangsung tetapi karena kemarin hari Selasa tempat itu masih kotor. 
Pekan atau pasar setiap hari Selasa. Hanya ada sekali dalam seminggu.

Dara sudah lelah keliling halaman Oppung. Dia berpikir Inang pasti marah. Dia sangat ketakutan pulang. Terpaksalah Dara pulang kaki ayam alias tanpa alas kaki.

Kebiasaan anak-anak, bila ada sandal yang bagus atau masih baru langsung main comot saja tanpa tendeng aling-aling. Tapi itu hanya tetangga sebelah rumah, tangannya panjang.

Dara sudah sampai di halaman. Dia sudah mulai menangis. Inang mendengar suaranya langsung keluar.
"Ada apa Dara, kenapa kamu menangis, lho kemana sandalmu? Kenapa kau pulang kaki ayam?" Inang  nyerocos saja sambil memandang  Dara yang sudah kotor berdebu.
"Inang, tadi sandal jepitku hilang ketika bermain di halaman Oppung Sari. Ada si Joki, Ana, Desi, Ida, Bona, Gomggom dan Judi bermain di sana. Ketika kami sudah selesai bermain aku mencari sandal jepitku, seluruh sudut halaman Oppung Sari sudah kucari," Dara tak mau kalah dengan Inang nyerocos pula tak henti seperti rel kereta api.

"Bah, Inang baru beli kemarin sudah kau hilangkan. Kan sudah Inang bilang jangan sampai hilang!" Inang sudah naik tensinya sambil disentil kuping Dara.
"Ampun Inang, Dara salah, tidak begitu lagi. Lain kali aku pasti hati-hati." Dara masih sesugukan sambil mengusap kupingnya yang merah kena sentil Inang.
"Ini sudah yang kelima kali sandal jepit Inang beli ya dalam bulan ini, mulai sekarang kamu kaki ayam dulu. Tunggu panen lagi kopi Inang.
Kamu kaki ayam dulu bila bermain bersama teman-temanmu.
"Iya Inang, Dara juga takut pakai sandal jepit. Takut hilang. Ada saja yang mau." Ujar Dara lagi.

"Sudah sana mandi biar makan kita, bapakmu sebentar lagi sudah pulang itu," ujar Inang.

"Baik, Inang. " Dara langsung pergi ke kamar mandi sambil membawa handuk yang diambil dari gantungan handuk di dekat kamar mandi.

Dara dan teman-temannya rata-rata kelas 3 dan 4 SD tetapi ada saja di antara anak itu yang suka mengambil barang orang lain. Kalau inang Dara itu langsung marah bila barang bukan milik Dara dibawa pulang. Inang pasti menyuruh kembalikan lagi ke orang yang punya.


Bekasi, 29042021

#eventhikmahramdhan
#hikmahramadhan

6 komentar untuk "Sandal Jepit dan Kaki Ayam "

  1. Balasan
    1. Untung bukan bakiak 😁

      Hapus
    2. 🤣🤣🤣🤣, berat mba Widz

      Hapus
    3. akhirnya ceker ayam alias kaki ayam Pak Budi

      Hapus
  2. Kebiasaan jelek jangan dibiasakan sejak kecilnya, Bu Ester?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Pak Katedrarajawen, diingatkan agar tidak mengambil barang orang lain

      Hapus