Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan WA dari Surga

Gambar masjid adalah dokumen pribadi.
Gambar masjid adalah dokumen pribadi.

Mereka berdiri angkuh tanpa lengkung senyum. Bangunan berstruktur beton dengan sudut-sudut serba siku, abu-abu, dan kaku. Gedung-gedung itu mengelilingi sebuah tempat ibadah.

Setelah Salat tarawih, seorang pria duduk di teras masjid. Galau. Untuk ke sekian kalinya ia melihat layar gawainya. Gelap. Indikator pesan di gawai tidak nyala. Sebagaimana lampu halaman rumah ibadah yang padam.

Pria galau itu harap-harap cemas menunggu kabar dari putrinya yang sedang pergi ke lain kota untuk menempati tempat baru. Ia mengkhawatirkannya, karena itu adalah perjalanan jauh pertama bagi anak semata wayangnya.

Pria itu memikirkan, apakah ia selamat sampai tujuan? Bagaimana dengan tempat barunya? Kok pesan WA-nya belum dibalas? Bahkan pesan terkirim darinya masih bertanda contreng satu? Setrum baterai habis? Sinyal di perjalanan tidak bagus?

Banyak tanya berseliweran di kepala. Pria galau itu sedang menunggu pesan WA dari putri tercintanya.

Sementara jamaah salat tarawih sudah pulang dari tadi, kecuali sekumpulan orang yang masih berada di teras.

Dari dalamnya berdiri satu orang pria berwajah tirus, menghampiri pria galau penyendiri.

“Assalamualaikum. Sepertinya Anda punya masalah?”

Pria galau tersenyum, “Waalaikumsalam. Ya. Benar penglihatan kisanak. Bukankah setiap manusia mempunyai masalah agar tetap hidup?”

“Bukan begitu. Saya perhatikan, persoalan yang Anda hadapi demikian hebat. Kalau boleh tahu, apakah gerangan yang menjadi pikiran?”

“Ah, tak menjadi soal.”

Kemudian pria berwajah tirus dengan panjang lebar menyampaikan ceramah.

Pria galau mendengar dengan kuping kiri, yang lalu merembes melalui pendengaran kanan. Pikirannya tidak tertumpu kepada penjelasan pria berwajah tirus.

Namun mendadak daun telinganya melebar, ketika mendengar ujaran,

“Hanya dengan itulah kita dijamin masuk surga. Kumpulan kami lah yang mendapat jaminan Itu. Maka ikutilah kelompok kami.”

Pria galau menoleh, “berarti. Kumpulan kalian eksklusif dong?”

“Tidak persis begitu. Yang jelas, semua orang di luar kumpulan kami adalah kafir.”

“Jadi? Termasuk anak saya? Termasuk orang tua saya yang telah tiada? Termasuk jamaah masjid yang tadi sudah pulang?”

“Ya. Mereka kaum celaka. Tidak akan masuk surga.”

Suara bergetar menandakan ada pesan WA masuk.

Pria galau menatap gawai, membaca pesan. Balasan dari putrinya yang mengabarkan telah tiba di lokasi dengan selamat. Di tempat baru ia merasa akan baik-baik saja.

Kelegaan terpancar dari wajah pria galau. Dengan tersenyum ia berdiri, “maafkan, saya harus segera pulang. Begini. Saya dengan ikhlas akan masuk ke dalam kumpulan Anda.”

“Terima kasih,” sahut pria berwajah tirus senang.

Sebelum beranjak, pria galau menyampaikan maklumat

“Dengan satu syarat. Tolong kirimkan pesan WA kepada saya, setelah Anda tiba di surga. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh.”


5 komentar untuk "Pesan WA dari Surga"