Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nasi Bungkus untuk Sahur dan Buka

Gambar bangunan adalah dokumen pribadi

Di antara lima mahasiswa perantau itu, ia paling rajin. Sebelum waktu sahur dan buka puasa, pria berperawakan subur itu berangkat ke rumah makan Padang membungkus makanan untuk teman-temannya.

Waktu-waktu seperti itu sangat rawan. Telat sedikit, mereka bisa kehabisan makanan. Untuk mencari ke tempat lain, keburu habis waktu Sahur. Saat buka puasa demikian juga, telat sedikit, habislah makanan tersedia.

Maklum, daerah itu adalah kota pelajar, di mana sebagian besar penduduknya adalah mahasiswa. Makanan adalah komoditas perdagangan utama, sebagai sumber asupan penting bagi mahasiswa untuk bertahan hidup.

Warung Padang merupakan pilihan logis. Harga yang ditawarkan bersahabat dengan dompet mahasiswa yang menghasilkan perut kenyang dalam waktu lama.

Semisal di warung Simpang Tigo, di mana anak-anak muda itu bisa makan enak, tambah nasi dua sampai tiga kali, dengan hanya sepotong daging rendang beserta bumbunya yang melimpah dan tiga kerat tempe goreng setipis ATM nan garing.

Mereka berlima adalah mahasiswa perantau yang mengontrak sebuah rumah di pinggir kota. Harga sewa terjangkau dengan 5 kamar, dapur, dan ruang tamu. Cukup.

Kecuali merebus mi instan dan air panas untuk kopi, dapur tidak digunakan untuk memasak.

Masalah timbul pada saat bulan puasa. Mereka adalah tipikal pemuda yang penuh perjuangan untuk bangun dini hari, menyiapkan hidangan sahur.

Hanya satu penghuni yang rajin bangun pukul tiga pagi. Entah untuk Salat malam atau menulis, tidak ada yang tahu.

“Baiklah, untuk makan sahur dan berbuka puasa kalian jangan khawatir,” ujar Helmy meyakinkan kawan-kawanya.

Gak apa-apa nih? Ntar ganggu?

“Tidak. Jam tiga aku berangkat ke warung Padang, membungkus pesanan kalian. Paling lebihin dikit untuk bensin motor.”

“Setuju!”

Persoalan selesai. Ada solusi.

Setiap pagi buta, Helmy berangkat ke warung Padang. Ia kembali pada waktu yang cukup untuk makan minum sahur, minum kopi, dan menghisap sebatang rokok.

Tidak hanya makan sahur, menjelang Magrib Helmy bersedia membungkuskan makanan buka puasa, dari gorengan, minuman segar, kolak, dan nasi Padang.

Sudah beberapa hari terakhir ia sangat rajin membeli nasi bungkus untuk makan sahur dan buka.

Berbeda dengan teman-temannya, pria berasal dari Jakarta itu tidak tidur setelah Subuh. Ada saja yang dikerjakannya, apakah membaca, menulis, atau menyelesaikan tugas-tugas kampus.

Suatu saat salah satu mahasiswa terbangun, hendak mengosongkan kandung kemih. Dalam perjalanan menuju kamar mandi, ia mencium aroma wangi menyengat yang sangat dikenalnya.

Ia tidak sempat menyelidiki sumber bau harum karena terbirit-birit tidak tahan. Setelah lega dan menarik resleting celana, anak muda itu berusaha mencari sumber bau tajam.

Di dalam tidak ada. Sepi, meski cahaya pagi sudah hangat. Ia menyingkap gorden, melihat melalui jendela.

“Aha! Ternyata ini sumber aroma harum itu.”

Dilihatnya Helmy sedang duduk di kursi taman, melamun sambil menghembuskan asap rokok. Pada meja sampingnya terletak secangkir kopi hitam mengepul.


8 komentar untuk "Nasi Bungkus untuk Sahur dan Buka"