Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Lelaki yang Menenteng Kepalanya

Gambar langit merah oleh Gentle07 dari pixabay.com
Gambar langit merah oleh Gentle07 dari pixabay.com

PADA senja memerah darah, lelaki itu menenteng kepalanya menuju kantor polisi, menyerahkan diri untuk melaporkan kejadian sebenarnya.

Lehernya dipotong rata sempurna dengan pedang yang pada saat itu masih meneteskan darah, membasahi lantai keramik putih yang baru saja dipel.

Pada kepala itu terdapat dua mata melotot merah memancarkan rasa marah yang kesal tanpa rasa sesal.

Warga daerah tandus penghasil jagung tersebut, yang pada tanahnya tidak dapat ditumbuhkan tanaman padi dan tumbuhan apa pun yang memerlukan cukup air, amat egaliter.

Kehidupan yang demikian keras selama ratusan tahun telah membentuk kultur masyarakat dengan rasa solidaritas tinggi, saling tolong menolong, menghargai serta menjunjung harga diri.

Derajat tertinggi berkenaan dengan keluarga. Maka dari itu, jangan mengulik harkat martabat anggota keluarga.

Istri merupakan harkat martabat tertinggi dari harga diri suami. Oleh karena itu jangan sekali-kali mengusik atau mengutak-atiknya.

Apabila seseorang demikian tidak mampu mengekang nafsu, maka ia harus menaati satu dua kali peringatan keras.Taklimat ketiga tidak akan disampaikan dengan kata-kata.

Tapi ayunan pedang berkilat-kilat tajam --sedemikian tajamnya sehingga membelah kertas di udara tanpa suara-- mengiris leher perampas istri orang bagai membelah buah semangka dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan tenaga sekuat-kuatnya, tak lain dan tak bukan agar leher terpotong rata sempurna sehingga kepala tercerai dari tubuhnya.

Kemudian suami atau lelaki pemotong leher akan menenteng kepala pebinor berdarah-darah ke kantor polisi terdekat, dan menceritakan kejadian sesungguhnya apa adanya.

Peristiwa semacam itu beberapa kali terjadi, sehingga tak heran apabila lantai keramik putih kantor polisi pun kerap dipel.

Pada kejadian terakhir, seorang lelaki secara tidak sengaja memandang kain tersingkap wanita tetangga, menampilkan pemandangan luar biasa yang mendorong sesuatu pada bagian bawah bergerak ke atas menuju ubun-ubun.

Suami wanita itu sedang bekerja pada perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

“Tentunya, sang suami tidak bakalan tahu,” batin lelaki itu.

Singkat kata, lelaki pebinor merayu wanita merangsang dengan segala cara, yang pada akhirnya mereka mencampur adukkan gelombang asmara bersama gairah.

Pada suatu kesempatan, lelaki itu menyadari perbuatannya yang telah melanggar kebiasaan turun-temurun.

Solidaritas sebagai sesama lelaki muncul. Lelaki itu merasa terusik harga dirinya. Ia memperingatkan diri sendiri agar menjauhi perbuatan keliru.

Tetapi dalam kesempatan lain, nafsunya menggelegak melihat wanita merangsang itu basah saat mencuci pakaian. Berulang lah peristiwa terkutuk itu.

Sekali lagi timbul kesadaran, solidaritas sesama lelaki untuk menjaga harkat dan martabat mengemuka. Dan untuk kedua kalinya, lelaki itu memberikan peringatan keras kepada dirinya.

Sekian pekan, sekian bulan tidak ada terjadi sesuatu apa pun dalam hubungan dengan wanita merangsang tersebut.

Suatu saat lelaki itu sedang membersihkan gulma di antara tanaman jagung yang sudah semakin meninggi di tegalan. Tidak sengaja ia bertemu dengan wanita merangsang itu lagi.

Tidak tersingkap kainnya atau baju basah membentuk lekukan indah. Tidak. Pakaiannya rapat, tapi lelaki tersebut tidak bisa melupakan kulit halus beserta tonjolan-tonjolan lunak yang melekat pada tubuh langsing itu.

Lagi-lagi peristiwa tidak pantas terjadi, berkali-kali di tengah tegalan tertutup tingginya tanaman jagung.

Setelahnya, lelaki itu merasa bersalah, lalu terburu-buru merapikan pakaian, kemudian berlari menjauhi segala hal yang mengusik harga diri. Ia berlari, berlari meliuk-liuk di antara tanaman jagung, berlari dengan nafas terengah-engah menuju satu-satunya pohon teduh.

Lelaki itu terjerembap, duduk pada akar pohon melintang. Tersengal-sengal. Selain karena kelelahan, juga sebab penyesalan yang sangat mendalam. Solidaritas sebagai sesama lelaki muncul. Ia merasakan harkat dan martabat yang amat sangat terusik.

Tubuhnya bergetar, kepalanya menunduk, lalu menyesali perbuatan yang senantiasa berulang dan terus berulang. Dengan tangannya, ia memukul-mukul kepala.

“Tidak. Tidak ada cara lain yang bisa diperbuat, selain ini.”

Dengan satu tangan, lelaki itu memegang erat rambut kepalanya. Satu tangan lainnya mengeluarkan pedang berkilat-kilat tajam, lantas mengayunkannya dalam tempo sesingkat-singkatnya dengan tenaga sekuat-kuatnya.

Ia bangkit, berjalan sambil menenteng kepalanya yang berdarah-darah memerahkan jalan, yang lalu mengalir mengairi retakan tanah pada tegalan-tegalan

Ia tiba di kantor polisi, membasahi lantai putih keramik yang baru dipel, pada senja memerah darah itu.


8 komentar untuk "Lelaki yang Menenteng Kepalanya"