Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Joko, Sebuah Nama Jawa yang Mendunia

 

Joko Tingkir alias Mas Karebet atau Sultan Adiwijaya

Joko, itu nama lelaki Jawa. Artinya, ya, lelaki.  Diserap ke bahasa Indonesia, joko menjadi jejaka atau perjaka.  Lazim diertikan sebagai lelaki yang yang belum menikah. Anehnya, walau Joko sudah beranak cucu, namanya tetaplah Joko, perjaka.  Hebat, kan?

Tapi, tahukah Anda, bahwa Joko itu nama serapan dari nama Barat?  Maksud saya, Joko bukan nama asli etnis Jawa.  Tapi nama pinjaman dari bangsa asing.

Mari kita periksa etimologinya.  Nama indukannya adalah Ya'akov, nama orang Ibrani. Versi Yunani adalah Iacobos, lalu menjadi Iacobus dan kemudian Iacomus dalam bahasa Latin. Oleh orang Prancis, nama Iacomus disingkat menjadi Gemmes.  Lidah Inggris melafalkan Gemmes sebagai James.  Maka James adalah Ya'akov.

Dalam masyarakat modern Barat, sejumlah varian nama Ya'akov kemudian berkembang.  Antara lain Yacub, Jacobus, Jakoby, Jacob, dan Jacko.

Varian Jacko itulah kemudian yang diserap etnis Jawa dalam penamaan anak lelaki menjadi Joko. Lidah Jawa susah melafalkan huruf konsonan ganda /ck/. Karena itu dilafalkan sebagai /k/. Sementara huruf vokal /a/ biasa juga dilafalkan /o/.  Maka jadilah nama Joko sebagai versi Jawa dari nama Jacko atau Yacub, atau Ia'akov.

Jadi, nama Joko itu tergolong nama Jawa yang mendunia.  Digunakan oleh berbagai bangsa di berbagai belahan dunia dengan versi masing-masing.

Karena nama Joko sudah ada sejak sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, muncul pertanyaan, bagaimana cara orang Jawa menemukan nama itu. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal, pada Zaman Majapahit, etnis Jawa sudah berlayar ke Eropa dalam rangka kegiatan niaga antar-bangsa.  Dari interaksi niaga itulah orang Jawa menyerap nama Jacko menjadi Joko.

Pertanyaannya, adakah bukti-bukti sejarah yang menunjukkan hubungan niaga antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan di Eropa di masa silam?  

Terus terang, saya tidak tahu.  Tugas saya hanya membuat humor tentang nama Joko.(efte)



Felix Tani Sosiologi Pedesaan, Studi Pembangunan, dan Sosionomi Pertanian. Peneliti, penulis, petani, dan konsultan lepas. Menulis artikel sosiologi, ekonomi, dan pertanian di sejumlah buku, jurnal ilmiah, majalah berita, dan surat kabar. Menulis dan menyunting sejumlah buku ilmiah.

13 komentar untuk "Joko, Sebuah Nama Jawa yang Mendunia"

  1. Penutupnya. Koplak. Ampun, Prof.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, namanya juga humburit (humor ngabuburit), Daeng. Hahaha

      Hapus
  2. Haduhhhhh syusyah ini pasti efek lavar krn warteg tutup

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... sangat mungkin ... otak jadi belok, mas Susy. Hahaha

      Hapus
  3. Waduh kecele nih ๐Ÿ˜‚๐Ÿคฃ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, kok. Saya kan gak bohong ..mbak Dinni

      Hapus
  4. Ha ga .. atit eyut ๐Ÿคฃ

    BalasHapus
  5. Udah serius bacanya ternyata pas di akhir ditutup dengan๐Ÿ˜‚๐Ÿ‘

    BalasHapus