Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Balik Munarman

 

Di Balik Munarman

Kemarin, usai penangkapan Munarman, seorang rekan yang berprofesi seorang guru mengatakan, perlu ditulis bagaimana kaum muda menjadikan Munarman adalah hero, tokoh yang sangat heroik, melakukan perlawanan, dan fakta juga terlihat dari begitu banyak pembelaan. Tentu berbeda, ketika Demokrat atau Fadli Zon itu menyatakan pembelaannya. Ini soal kepentingan dan politis.

Keprihatinan rekan tentu bukan yang ranah ini. Lihat saja pembelaan yang bukan orang politik. Merasa bahwa Rizieq dan Munarman adalah pahlawan itu ada dan faktual. Beberapa hal layak dilihat lebih lagi mengapa bisa terjadi,

Persoalan klasik dan mendasar adalah pendidikan yang lemah dalam pemahaman, sebatas hafalan dan memilih kancing baju. Aplikasi menjadi nol besar. Nah, mereka paham apa yang mereka dengar, tanpa mereka mau mencerna.

Munarman dan Rizieq ini kolaboran yang sangat piawai. Bagaimana mereka berdua bisa saling mengisi untuk menciptakan keadaan seperti ini. Sangat mungkin ada peran pihak atau lembaga lain, mau masa lalu, atau kekinian, toh mereka sebagai pelaku sangat sukses.

Apa yang mereka lakukan itu dengan bahasa yang memang dimaui publik. Sama juga orang yang kepalaran disodori makanan. Apakah itu sehat atau mmebawa penyakit, siapa sih yang peduli? Ini lho yang dengan cerdik mereka masuki dan jawab dengan tepat.

Soal politikus dan bohir yang memanfaatkan, ya hanya sebuah katalis semata. Tidak menjadi penentu yang hakiki. Mereka lebih eksis karena keberadaan ini memang iya dan harus diakui.

Heroisme yang terbaca oleh kaum muda memang masalah krusial yang harus disadari bersama. Penangkapan Munarman itu hanya awal. Mengubah pandangan penzoliman pada FPI dan agama itu menjadi penting. Belum  lagi laku politikus yang memang pengguna jasa mereka.

Kaum muda dan masalah pendidikan yang tidak aplikatif membuat mereka melihat apa yang tampak saja. Ribet dan repot jadinya. Melawan itu mesti baik dan benar. Ini masalah, dan banyak pihak lain yang suka keadaan ini.

Pendidikan sangat penting membangun literasi. Melihat yang salah itu bukan semata dari pembicaraan, pernyataan elit, atau klaim semata. Namun rekam jejak, perilaku, dan pemikiran itu sejalan dengan apa yang dilakukan.

Pemuka agama. Mengajarkan hakikat beragama, damai, kasih sayang, rendah hati, kelemahlembutan, bukan malah caci maki dan kekerasan. Ini penting dan krusial, bukan hanya seolah sepele.

Susy Haryawan

5 komentar untuk "Di Balik Munarman"

  1. Pahlawan kok ngamuk'an, gampang berkata kasar dan mencaci maki. Jauh dari yang dicontohkan oleh nabi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bagi yg dewasa
      Masalahnya bagi abg yg nyari identitas beda...

      Hapus
  2. Pahlawan tanpa tanda tangan

    BalasHapus