Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Desa, Sawah dan Bocah

Sudah dua pekan saya menghabiskan waktu untuk menepi dalam sunyi rindu bersama keluarga dan anak-anak di sebuah desa di Jawa Tengah. Desa yang asri tempat saya menghabiskan waktu di masa kanak-kanak dulu. 
Desa, Sawah dan Bocah. Dokumen Pribadi

Desa itu masih seperti dulu, asri dan udara yang segar. Bocah yang bermain di jalanan desa di pagi hari, kabut dan embun pagi yang menyegarkan, juga sawah yang tak jauh di belakang desa. 

Desa, yang dulu membesarkan saya dan menanamkan harapan yang tak pernah terbayangkan seindah sekarang. Menikmati masa-masa yang orang bilang puncak kemapanan, meski dalam takaran yang sangat kecil. 

Desa yang dulu menempa hari-hari yang menjadi bekal kedewasaan. Desa bersahaja tempat aku, adik dan kakakku berharap menemui jalan masa depan seperti yang sekarang ini kami jalani. 

Desa, yang dulu hingga sekarang masih tetap sunyi karena para pemuda banyak meninggalkan kampung untuk merantau ke kota, provinsi lain untuk mencari kehidupan yang diinginkan. 

Desa yang kini silih berganti, pemuda desa pergi merantau dan kini banyak penduduk-penduduk dari luar desa, luar kota menjadi penghuni baru. Desa, sebagaimana kehidupan dan ruang yang silih berganti. 

Desa yang dulu, jalanan tanah dan kini sudah menjadi jalanan beton dan aspal. Desa yang dulu banyak rumah-rumah dabag anyaman bilah bambu, kini rumah-rumah dengan dinding batu bata. Wajah desa itu kini banyak berubah, meski jalanan masih tetap sunyi dan berkabut di pagi buta. 

Desa yang sawah-sawahnya mulai menyempit karena lahan sawah yang dulu begitu luas, kini banyak berganti menjadi perumahan, bengkel bahkan toko. 

Sawah-sawah yang dulu dipenuhi oleh penduduk desa berkumpul dan menyebar di pematang-pematang sawah saat panen tiba, kini mulai tampak lengang.

Beberapa pemuda yang sedang memanen padi di sawah tak lagi kukenal. Kata ibuku, pemuda desa sekarang sudah jarang dan langka yang mau derep, amek pari (memotong padi). 

Kebanyakan justru dari desa lain yang mau ikut sumbang tenaga untuk panen. Orang-orang sudah mulai jarang mau menggarap sawah. Mereka lebih suka merantau, mencari pekerjaan di kota, pulang setahun sekali saat lebaran tiba atau libur hari raya tertentu. 

Termasuk saya? Tidaklah, sejak dulu orang tua saya tidak punya sawah, dulu hidup di desa hanya mengandalkan pensiunan dan membuka warung makan kecil-kecilan, untuk biaya hidup. Tapi sawah adalah harapan orang-orang desa. Disana, mereka terutama menggantungkan hidupnya. 

Tapi kini sawah di desa saya, sudah banyak berkurang luasnya, banyak area sawah berubah jadi perumahan dan pertokoan. Ya, waktu terus berjalan, dunia sepertinya sudah mulai berubah termasuk desa saya. 

Tapi bocah-bocah desa, tetaplah sama, mereka selalu ceria, termasuk bocah-bocah saya, yang sudah dua tahun ini memilih tinggal di desa. 
Bocah-bocah di sawah. Sumber: Dokpri




 
Mas Han
Mas Han Arkeolog, Belajar Menulis

6 komentar untuk "Desa, Sawah dan Bocah"

  1. Sawah berubah jadi perumahan, sama seperti di daerah saya 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...iya betul Mbak Dini...banyak sawah berubah jd perumahan dan pertkoan..

      Salam hangat dan sehat selalu

      Hapus
  2. Dan desa selalu memberi kerinduan dan ketengan☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap..betul Mas Warkasa...desa adalah kerinduan..

      Hapus
  3. Balasan
    1. Siap Prof. Felix..terima kasih kunjungannya..

      Hapus