Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Cara Meracik Kopi Hitam, Seduh dengan Air Mendidih atau Jangan?

Foto segelas kopi adalah dokumen pribadi yang diunduh dari laman FB Budi Susilo.

Pada kenyataan sehari-hari terjadi perdebatan, apakah sebaiknya menyeduh kopi hitam dengan air mendidih atau tidak?

Pengertian mendidih adalah ketika suhu air mencapai 100 derajat Celcius. Sedangkan untuk yang tidak adalah air bersuhu 90-95 derajat Celcius.

Perdebatan tersebut timbul, pada saat saya meminta kepada penjual kopi di tepi jalan agar terlebih dahulu mendiamkan barang sejenak air mendidih, baru menuangkan ke dalam gelas untuk menyeduh kopi.

Namun pedagang yang juga menjual gorengan itu bersikukuh. Air bergolak dalam panci diangkat dari atas kompor, lalu diuangkannya ke dalam gelas. Bubuk kopi di dasarnya menggelembung membentuk buih kecokelatan dan mengembuskan wangi khas.

"Kopi biar mateng," ujaran yang langsung mematahkan argumentasi.

Pendapat saya sebelum itu tidak mengada-ada, tetapi berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari penjual kopi di tempat eksklusif.

Seorang barista gerai kopi tersohor di kota Bogor meyakinkan saya, bahwa bubuk kopi harus diseduh dengan air bersuhu pas. Untuk kopi Robusta diseduh dengan air bersuhu 95 derajat, sedangkan jenis Arabica dengan air bersuhu 90-93 derajat Celcius.

Praktiknya, air mendidih didiamkan sejenak (setengah sampai satu menit) lalu tuangkan air sampai setengah cangkir. Diamkan kembali selama setengah menit agar bubuk kopi dan air bersenyawa, baru kemudian air dikucurkan lagi sampai cukup.

Setelah itu diamkan lagi selama dua menit, barulah larutan diaduk dengan terlebih dulu meminggirkan partikel mengambang dengan hati-hati. Demikian agar ampas turun perlahan ke dasar.

Dengan trik itu, rasa kopi tidak rusak atau menjadi terlalu pahit. Memang tanpa ditambah gula, sehingga rasa kopi menjadi lebih kentara dan tidak pahit yang keterlaluan. Enak.

Bisa jadi bubuk kopi digunakan oleh gerai tersebut berasal dari biji kopi pilihan yang diolah (roasted & grinded) dengan teknik tertentu.

Bisa juga, mereka memakai bubuk kopi pabrikan, seperti: Kopi Kapal Api atau JJ Royal Coffee Tubruk. Siapa tahu? Dan bagi mereka yang ingin kopinya tidak ber-ampas bisa menggunakan Nescafe Classic.

Sedangkan kopi hitam racikan penjual tepi jalan menggunakan merek lokal.

Konon bubuk kopi itu merupakan proses pencampuran biji kopi, jagung, dan ketan hitam yang diolah khusus di pabrik. Maka kopi sasetan bergula yang merupakan kopi khas Bogor itu lebih enak diseduh dengan air mendidih yang baru diangkat dari kompor.

Nah itulah pokok perkara perdebatan saya dengan penjual kopi tepi jalan, yang jika dituruti akan menimbulkan percakapan berlarut-larut tanpa kejelasan ujung akhir. Bahkan, jika masing-masing pihak berkeras dengan pendapatnya, perdebatan akan berakhir dengan pertengkaran yang membawa permusuhan.

Permusuhan tidak berkesudahan menciptakan rasa saling benci yang menggiring kepada perpecahan, sehingga akhirnya menciptakan dua kubu berseberangan.

Jadi hal terpenting adalah berlaku bijak dan bersyukur atas segala karunia hidup, lalu menikmati kopi hitam seduh, baik kopi hitam yang diracik dengan air mendidih maupun air bersuhu 90-95 derajat.

Berhubung saya tidak terlalu suka kopi manis, maka saya meminta kepada penjual kopi agar mengaduk seduhan sebanyak 3 putaran saja.

"Wah, kelewat Pak! Sudah terlanjur 5 putaran. Gimana nih?"

"Gampang! Putar balik arah adukan dua kali. Maka 5 dikurangi 2 sama dengan 3, kan!"

"Ternyata Bapak pintar."


2 komentar untuk "Cara Meracik Kopi Hitam, Seduh dengan Air Mendidih atau Jangan?"