Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Betapa Sulitnya bagi Sebagian Orang untuk Mengakui Kesalahan

Gambar oleh geralt dari pixabay.com

Seorang kawan baik dengan percaya diri penuh keyakinan mengabarkan berita menggembirakan,

Bro, gua dapat mandat dari orang kepercayaan Hasyim Ning untuk bikin organisasi di Bogor.”

Selanjutnya, dengan berapi-api kawan yang juga ketua DPC sebuah asosiasi pengusaha konstruksi menceritakan mengenai keinginan Hasyim Ning untuk membuka cabang organisasi sayap dari sebuah partai politik.

“Bukan almarhum Hasyim Ning, tetapi Hashim S. Djojohadikusumo yang lebih pas,” saya menukas cepat.

“Bukan. Bukan Hashim itu, tapi Hasyim Ning adiknya Prabowo,” kawan baik itu meyakinkan saya.

“??? ....”

Saya pun terdiam, malas membantah. Kawan saya itu dikenal sebagai orang yang mau menang sendiri, merasa paling benar, dan tidak mau disalahkan. Apalagi mengaku salah!

Bukannya takut, tapi malas berdebat saja dengan orang yang keras kepala. Biarlah waktu akan menunjukkan kebenaran.

Benar saja. Tidak lama, ada perubahan redaksi dalam narasi tentang penyebutan tokoh. Dalam percakapan-percakapan dengan saya maupun dengan rekan lain, ia menyebut nama Hashim Djojohadikusumo. Bukan lagi: Hasyim Ning! 

Entah dari mana koreksi itu bermula.

Namun ajaibnya, sampai detik ini tidak satu pun ungkapan pengakuan salah, bahwa pendapatnya keliru. Orang yang enggan mengakui kesalahan, secara psikologis menggambarkan orang berwatak:

  • Merasa paling benar yang tidak mau dikritik.
  • Selalu membenarkan diri sendiri.
  • Gengsi keterlaluan, sehingga mengakui kesalahan dianggap mengancam harga diri.
  • Pemalu yang merasa gelisah, malu, muka memerah berlebihan ketika mengakui kesalahan.

Padahal, jika ketakutan paling final adalah kematian, maka perbuatan mengakui kesalahan tidaklah berakibat fatal. Tidak bakal mati.

Mengakui kesalahan merupakan sikap menghargai dan menyepakati pendapat orang lain. Paling tidak, dengan perilaku ini ia sudah mau mendengarkan masukan, menerima kritik, bahkan menerima hukuman dari orang lain.

Maka dari itu, seseorang yang berbuat salah, baik dalam ucapan maupun perbuatan, sebaiknya mengakui kesalahan, dengan pertimbangan positif, sebagai berikut:

  1. Menunjukkan person yang berjiwa besar.
  2. Tidak akan membuat rendah diri atau direndahkan oleh orang lain.
  3. Membuat orang lain lebih menghargai pribadi Anda.
  4. Membangun kepercayaan, karena pribadi Anda dianggap berani bertanggung-jawab.
  5. Membuat Anda berhati-hati dalam ucapan dan tindakan, sehingga menjadi pribadi lebih baik.

Hal sebaliknya akan berlaku ketika Anda enggan mengakui kesalahan. Bersikap selalu menang sendiri, merasa paling benar, dan tidak mau kalah akan membuat orang lain merasa tidak nyaman, lalu menjauhi Anda.

Jadi mulai sekarang, belajarlah mengakui kesalahan. Betapapun pahitnya itu.

Atas segala kesalahan ucap dan perbuatan, dengan ini saya mengaturkan:

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Selamat Melaksanakan Ibadah Shaum.

Sumber rujukan: 1


10 komentar untuk "Betapa Sulitnya bagi Sebagian Orang untuk Mengakui Kesalahan"

  1. Balasan
    1. Wah, terima kasih banyak, Mas Khrisna.
      Salam.

      Hapus
  2. Maafkan daku, Mastah. 🙏😔

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Bang Zaldy. Mohon maaf lahir dan batin.

      Hapus
  3. Selamat menunaikan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin Om Budi☺️🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf lahir dan batin, Pak Warkasa.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Widz. Mohon maaf lahir batin

      Hapus