Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Anomali Es Teh yang Termaafkan

 


Es teh. Minuman kesayangan sejuta umat. Dalam hal ini, sejuta umat boleh kita maknai sebagai ‘banyak orang’. Saya termasuk penyuka es teh. Apa pun makanan yang saya pesan, minumannya selalu es teh. Meski begitu, saya kerap bikin bingung pramusaji.

Apa pasal sehingga saya acap membingungkan pramusaji di warung? Cara penyebutan. Saya sering berusaha menggunakan gabungan kata yang tepat dan sesuai dengan kaidah tata bahasa. Alih-alih memesan “es teh”, saya lebih kerap memesan “teh es” atau “teh dingin”.

Lidah dan pengguna bahasa Indonesia sudah kental benar dengan istilah “es teh”. Jika ada yang coba-coba menggunakan “teh es”, biasanya akan disangka orang aneh. Paling tidak, pramusaji melongo sejenak. Sejurus kemudian baru bertanya, “Es teh?”

Tentu akan sia-sia jika saya uraikan kaidah D-M alias Diterangkan-Menerangkan kepada si pramusaji. Bisa saja saya paksakan diri untuk mengudarnya, tetapi kasihan si pramusaji. Selain waktunya akan tersita, bisa-bisa dia terbebani pikirannya gara-gara anomali es teh.

Mengapa es teh saya sebut anomali dalam penggunaan bahasa Indonesia? Kata “es” dan “teh” yang dikawinkan itu mengandung unsur pemaksaan. Hal itu jika kita melihatnya dari kaidah tatabahasa. Singkatnya, ada pelanggaran pembentukan gabungan kata.

Bahasa Indonesia menggunakan hukum D-M. Pengertiannya sederhana. Kata pertama dijelaskan atau diterangkan oleh kata kedua. Kata di depan merupakan inti isi, sedangkan kata di belakang merupakan sebutan isi.

Kaidah D-M bukan sesuatu yang baru dalam tatabahasa Indonesia. Sejak tahun 1949, hukum D-M sudah diperkenalkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Bahasawan yang kerap kita singkat namanya dengan STA itu mengudar soal D-M dalam buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia.

Mari kita singkap kembali perkara anomali alias perkecualian pada es teh. Jika kita mau taat dan patuh pada hukum pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, pembentukan “es teh” keliru.

Lo, kata siapa? Tunggu dulu, tolong jangan kernyitkan dahi. Apalagi sampai ngegas pol. Santai saja. Mari kita singkap bersama.

Ambil contoh “kopi pahit”. Kata kopi diterangkan oleh pahit. Maknanya, minuman dari kopi yang rasanya pahit. Kopi pahit mewujud tatkala kopi diseduhi air panas tanpa dibubuhi gula. Kata kopi merupakan inti isi, sedangkan pahit menjadi sebutan isi.

Contoh berikutnya ialah "wedang jahe". Kata wedang diterangkan oleh kata jahe. Artinya, wedang yang terbuat dari rebusan jahe dan dicampur dengan gula merah. Jika kopi pahit berasal dari kata benda dan kata sifat, wedang jahe sama-sama kata benda.

Contoh lain, susu asam dan susu basi. Artinya, susu yang sudah berasa asam atau susu yang sudah basi. Air susu sudah rusak karena menjadi tempat perkembangbiakan bakteri. Akibat sang bakteri, rasa susu menjadi asam atau basi.

Bagaimana dengan es teh? Dahulu, orang Sunda setia menggunakan “teh es”. Lambat laun hanyut dalam perkecualian. Semacam kesalahan yang dikaprahkan. Akhirnya, sekarang orang Sunda sudah jarang memakai “teh es”. Rata-rata sudah menggunakan “es teh”.

Gabungan kata “es teh” merupakan pungutan dari bahasa Inggris, yakni dari ice tea. Sejatinya, kita terjemahkan menjadi “teh es”. Itu kalau kita mau taat kaidah. Kata teh diterangkan oleh kata es. Artinya, teh yang diberi es sehingga berasa dingin.

Dalam bahasa Indonesia sehari-hari, kita juga bisa menggunakan “teh dingin”. Artinya, teh yang dingin. Bisa karena diberi es, bisa pula karena sudah tidak panas atau dingin sendiri. Bisa teh dingin manis, bisa pula teh dingin tawar. Antonimnya ada, teh panas.

Uniknya, pembentukan kata majemuk dengan inti isi yang menggunakan kata teh rata-rata taat kaidah. Misalnya, teh celup atau teh yang bisa dicelup saat diseduh. Ada pula teh pahit atau teh yang yang tanpa gula sehingga berasa pahit.

Selain itu ada teh botol, teh herbal, teh hijau, teh hitam, teh merah, teh hutan, teh kotak, atau teh kuning. Untuk pembentukan istilah dengan menggunakan tiga kata juga ada. Ambil contoh teh jahe merah dan teh kulit manggis. Dengan begitu, teh es manis dan teh es tawar bisa berterima.

Bagaimana jika es yang menjadi inti isi? Tenang, Kawan. Bahasa Indonesia punya es cendol. Jadi, es yang dicampur dengan cendol. Ada juga es doger atau serutan es yang dicampur dengan pacar cina dan kolega.

Lucunya, kita tidak menemukan kata majemuk “es kopi” dan “es teh” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Padahal, dua istilah itu sudah kerap digunakan. Lebih lucu lagi, KBBI mencantumkan “es teh tarik”. Minuman khas Aceh, teh tarik, dicampur dengan es. Mestinya teh tarik es.

Perkecualian “es teh” ternyata tidak sendirian. Ia punya saudara yang senasib sepenanggungan. Namanya, es krim. Kata itu kita pulung dari bahasa Inggris. Alih-alih diterjemahkan menjadi krim es, kita menyerapnya menjadi es krim.

Dalam ragam percakapan, Malaysia menyerap ice tea menjadi teh ais. Serupa dengan lidah Sunda menyebut “teh es”. Bagaimanapun, Sunda memang kawasan penghasil teh. Selain banyak area perkebunan teh, di Sunda juga banyak teh yang pintar mengambil hati.

Kalau kamu ke Sunda, siap-siap saja membedakan jawaban. Bedakan “itu teh apa” dengan “itu teh siapa”. Yang pertama mungkin “teh es manis”, yang kedua mungkin “Teh Ais manis”. [kp]

 

 

13 komentar untuk "Anomali Es Teh yang Termaafkan"

  1. Upami teh geulis, sabaraha, daeng? Wkwkwk
    Salah minjem kata Inggris tuh, daeng.
    Mestinya ditulus esteh, eskrim, esbatu,esganefotukarselop.

    BalasHapus
  2. Saya paling sering salah sebut, "teteh, manis manis deh ...."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pantesan betah di Bogor! Gak mau kalah ama Ayah di Cilegon, tempat teh-teh berkumpul .. 🤣

      Hapus
    2. Teteh yg manis, menghangatkan 😀😀😀

      Hapus
  3. Iya ya harusnya memang teh es, Pak Khrisna. Tapi inilah yang disebut kesalahan yang tanpa kita sadari.

    BalasHapus