Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Warung Kopi Mbak Wanti, Belajar Tersenyum dari Hati

 

Warung Kopi Mbak Wanti / foto by Fea 


Delapan Februari dua ribu dua puluh satu berakhir segera dalam hitungan menit. Tanggal yang istimewa ketika bayi mungil bernama Widiyati menghirup nafas pertamanya di dunia dan mewarna semesta dengan tangis pertamanya pula pada beberapa tahun yang silam. Sengaja saya sebut "beberapa tahun silam" saja, karena wanita memang pada umumnya tak suka usianya dipampangkan secara jelas dan nyata, hehehe... ( bercanda ya, mbak Widz ).


Aihh... aku tak bisa sedramatis itu menggambarkan proses kelahiran mbak Widz yang tentunya sangat dinanti ayah bundanya. Perjuangan bunda dan doa ayah menyertai sepanjang perjalanan kehidupan. Hingga kini, peristiwa kelahiran itu selalu dimaknai dengan ucapan syukur. Dan ucapan syukur mbak Widz tak henti-hentinya memutar lingkaran kebaikan di sekitarnya.

Di tahun dua ribu dua puluh satu ini, mbak Widz ingin berbagi kebaikan dengan para penggiat warung kopi. Bukan tanpa sebab tentunya. Warung kopi merupakan usaha mikro masyarakat yang kemungkinannya sulit untuk mendapatkan bantuan langsung tunai dari pemerintah. Padahal peran mereka sebagai penggerak roda ekonomi tidaklah kecil artinya.

Warung kopi sendiri, tak hanya menjadi pemutar roda ekonomi masyarakat. Melainkan juga menjadi media sosial budaya dalam masyarakat. Sebagai media sosial, warung kopi ini menjadi media perjumpaan. Tempat bertemunya masyarakat satu dengan yang lainnya. Tanpa batasan topik perbincangan. Mulai dari isu politik yang sedang hangat di dalam dan luar negeri, isu yang beredar di sekitar daerah warung kopi itu, sampai resep membina keharmonisan rumah tangga. Eh... yang terakhir ini kadang-kadang muncul juga lho. Selain topik "rasan-rasan" lainnya, yang ternyata juga dibahas kaum adam dengan tak kalah serunya dibanding kaum hawa. Hahaha...
Segala macam lengkap tersedia di warung kopi ini. Ada curhatan. Ada cacian. Ada candaan. Ada cerita. Dan ce - ce yang lainnya. Semuanya tertuang dalam sajian secangkir kopi. Ya, benar... segelas kopi bisa menemani dua tiga jam perbincangan menarik tanpa susunan acara sebelumnya.

Berbicara tentang warung kopi, sebenarnya saya tidak terlalu hobi ngopi (untuk menghindari kata : saya tidak suka ngopi). Namun, kalau sudah disuguhi kopi, saya tidak akan menolak kok. Akan tetap saya minum, dengan penuh perjuangan. Perjuangan yang manis bila ditemani donat coklat. Hehehe...

Kali ini saya akan menuliskan kisah warung kopi mbak Miswanti, atau lebih dikenal dengan nama Mbak Wanti. Mbak Wanti ini adalah ibu dari dua orang putra. Putra pertamanya memasuki kelas 1 SMP pada tahun ajaran 2020/2021 ini. Dan putri keduanya, sempat sekelas saat sekolah di TK dengan anak kedua saya.

Sebenarnya warung Mbak Wanti ini bukan sekedar warung kopi saja, melainkan warung pracangan yang menyediakan aneka macam jualan. Selain kopi, jualan mbak Wanti beraneka ragam. Ada elpiji, galon air mineral, pulsa, snack / jajanan kemasan anak, dan aneka kebutuhan rumah sehari-hari, seperti pasta gigi, sabun mandi, shampo, mie instan, dll. Mbak Wanti juga melayani bila ada pembeli yang ingin membeli mie instan yang sudah dimasak. Bisa mie goreng ataupun mie kuah, yang dilengkapi dengan sayuran, tambahan cabe dan topping telur ceplok atau telur rebus sebagai pelengkap. Kadang-kadang juga mbak Wanti melayani pesanan lontong rujak petis dengan level kepedasan yang bisa dipesan. Mau level tidak pedas, level sedang, level pedas, maupun level super pedas. Tidak usah takut tertukar bila membeli aneka level dalam satu kesempatan, karena bisa dibedakan dari warna karet pembungkusnya. Level tidak pedas dibungkus dengan karet warna hijau, level sedang dibungkus dengan karet warna kuning, level pedas dibungkus dengan karet warna merah dan level super pedas dibungkus dengan dobel karet warna merah. Jadi, tidak usah takut tertukar ya, kecuali mbak Wanti sedang kehabisan karet warna warni, hahaha...

Warung kopi mbak Wanti ini tidak memiliki tempat khusus yang dibangun atau disewa untuk berjualan. Melainkan memakai teras rumah dan ruang tamu serta ruang dalam rumah sebagai bagian dari warung kopinya. Rumahnya yang terletak di dalam gang sebenarnya kurang strategis untuk berjualan. Namun karena tekadnya untuk menambah penghasilan keluarga serta demi membiayai sekolah putra-putrinya, mbak Wanti tetap berjuang keras dalam kesahajaan.

Suami mbak Wanti sebenarnya bekerja sebagai koster di gereja. Tugasnya membersihkan lingkungan gereja serta mengatur lalu lintas penyeberangan di depan gereja setiap hari Minggu. Tak bisa mengandalkan gaji seorang koster yang pas-pasan atau bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka Mbak Wanti memutuskan untuk membantu suaminya dengan berjualan di rumah. Ia ingin anak-anaknya bisa mengenyam bangku pendidikan yang lebih tinggi daripadanya. Dengan harapan kehidupan anak-anaknya lebih baik daripada dirinya sekarang.

Tentu saja, usaha tak selalu lancar seperti yang didamba. Ada kisah-kisah sedih yang mengiringi. Pembeli yang kas bon alias membeli dengan ngutang juga selalu ada saja. Kalau waktunya membayar, ada yang sulit ditagih. Lebih galak yang ditagih daripada yang menagih. Uwowowo...
Namun demikian, mbak Wanti selalu menghadapinya dengan tersenyum. "Perjuangan hidup itu harus dihadapi dengan senyum dan sarapan pagi ditemani ngopi. Kalau cuma senyum saja, jam sepuluh pagi perut sudah keroncongan karena lapar". Hahaha... bisa saja mbak Wanti ini.

Mbak Wanti ini memang pejuang kehidupan yang menyayangi putra putrinya. Anak-anak adalah semangat hidupnya untuk terus berjuang. Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini. Ketika roda ekonomi berputar lebih pelan daripada sebelumnya. Dan anak-anak belajar online di rumah. Mbak Wanti sempat merasa stress menghadapi situasi ini. Kapan ya, corona segera pergi dan anak-anak berangkat sekolah offline lagi ? Doanya selalu mengalir, seperti jantung yang memompa darah agar mengalir ke seluruh tubuh. Memberi semangat untuk menghadapi hari demi hari, yang saat ini dilaluinya bersama warung kopi kecil di rumahnya.

Tetap semangat ya, mbak Wanti. Tetaplah tersenyum dan tertawa dengan renyah. Serenyah tawa mas Aldebaran tercinta. Hahaha...

# written by Dewi Leyly
# dimulai menulis pada 08.02.2021 jam 23.30 WIB dan berakhir pada 09.02.2021 jam 01.30 WIB
# ditulis untuk memeriahkan acara ulang tahun mbak Widz yang selalu menginspirasi dengan lingkaran kebaikan bagi sesama. Selamat Ulang Tahun, mbak Widz sayang. Semoga dianugerahi panjang umur, kesehatan dan kebahagiaan sepanjang usia. Kiranya Tuhan memberkati senantiasa. Amin.


5 komentar untuk "Warung Kopi Mbak Wanti, Belajar Tersenyum dari Hati"

  1. Keren nih artikelnya Mbak. Ada Mas Al juga...😀😀

    BalasHapus
  2. Akhirnya peri Gigi muncul 😁😀

    BalasHapus
  3. Wuiih.. lengkapnya☺️ mulai dari proses brojol bayi nya sampe ke yang sekarang, ada donat nya pula..,😁👍👍

    BalasHapus
  4. 😍👏👏👏👏👏👍👍👍👍👍

    BalasHapus
  5. Thank you peri gigiii, maaf udah baca kemarin2 tapi baru bisa komen sekarang, baru nemu passwordnya 😁

    BalasHapus