Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Benarkah Sebuah Perlakuan Bisa Menciptakan Sifat Seseorang?


Beberapa hari aku sedikit rajin ngepoin status beberapa teman. Kemarin-kemarin tidak sama sekali paling hanya satu atau dua orang saja itu pun hanya teman menulis yang aku intip. Setelah sekian hari sengaja pikiranku tidak kufokuskan pada kegiatan menyusun diksi, maka aku iseng melihat-lihat status teman,  mungkin saja ada informasi menarik. Bukan lagi untuk mencari ide merangkai kata menjadi sebuah karya tulis. Hanya sekadar menyelimurkan mata saja. Kadang saya temui (paling banyak) menawarkan barang alias berniaga secara online. Takjarang juga kolom status masih sebagai kolong curhat. 

Media pamer?  Tentu saja, mau bagaimana lagi,  teknologi sudah memberi ruang untuk hal itu. Tinggal bagaimana pembaca menyikapi. Takusah menilai yang buruk,  biarkan saja toh mereka tidak menggerogoti kuota orang. 

Hari ini aku sungguh tertarik dengan sebuah status teman masa sekolah menengah atas dulu. Lama dia tidak menampakkan diri eh ternyata aku yang sudah keluar dari grup hehehe jadi pantas taktahu kabarnya. Dia juga lama tidak kulihat  membuat status. Kali ini statusnya membuat saya tersenyum dengan menampakkan barisan gigi, sambil manggut-manggut, juga membuat saya menuliskan isi statusnya. 


Entah apa penyebab utama dia membuat status demikian, apakah mengambil dari media lain atau membuat sendiri bukan itu yang menarik perhatianku, tapi inti dari status itu. 
Hanya ada kata sepakat dalam hati ketika membaca.  

Demikian adanya yang terjadi di sekitar kita,  seseorang atau kelompok sangat mudah mematikan karakter seseorang lalu menjerumuskan sedalam-dalamnya. Bukan pikiran beracun tapi terkadang itu memang terjadi. 

Boleh jadi seseorang tidak mengatakan kondisi atau keadaan yang sebenarnya karena berbagai alasan, salah satunya sulit mengungkapkan. Lalu saat ditanya mencari jawaban yang paling sederhana dan mudah dipahami, tapi apa yang terjadi? malah salah penafsiran. 

Jangan pula terburu menilai seseorang yang sedang dalam masalah itu baperan, orang yang baperan nama kerennya sensitif kan? Orang yang sensitif bisa jadi lebih peka membaca kebenaran isi hati orang lain. Saat kebenaran  terbaca pasti berjuta alasan untuk menghindar dihimpun.  Bila tidak bisa menolong,  diamlah dan jangan berpikir yang bukan-bukan. Takperlu jua menasehati,  kadang malah bisa menjadi tambah bikin kesemutan hati. 

Kembali pada tulisan status teman, jadi perlakuan orang bisa menciptakan sifat buruk atau baik pada orang lain,  bisa menjatuhkan juga mengangkat dan memotivasi nama seseorang. Begitu bukan? 



Malam Selasa, 15022021 



Swarna
Swarna Mau panjang atau pendek terserah

9 komentar untuk "Benarkah Sebuah Perlakuan Bisa Menciptakan Sifat Seseorang? "

  1. Mungkin lebih mengarah ke sikap, bukan sifat. Karena perlakuan, bukan pembentukan. Meski pada kondisi tertentu, sikap dapat memengaruhi perwujudan sifat.πŸ˜€πŸ™

    BalasHapus