Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Prinsip Hidup Gerobak Wedang Kopi Pasar Ayam

gerobak kopi dan rokok Buk Muk 

Mula – mula tak begitu tertarik mengikuti event menulis tentang  “warung kopi” yang diadakan SKB hanya membaca saja beberapa link yang dikirim sahabat SKB digroup, saya nikmati saja tulisan para sahabat SKB lama – lama saya jadi tertarik juga. Termotivasi , terinspirasi dari tulisan – tulisan yang menggelitik relung hati. Lama sih saya gak nulis bukan apa tiba – tiba hati ini gak enak entahlah ide seolah habis. Beberapa masalah yang mendera, waktu yang habis tergerus dengan kegiatan yang lain. Kepanikan mengurus kelas, mengorganisasi waktu yang tidak menentu, hihi jadi curhat itulah uniknya menulis, mengobati hati, menenangkan pikiran. So well lets back to topic !

Tergugah juga, termotivasi dari stuck ide dengan membaca link – link yang dishare di group mengikuti alur perjalanan anak manusia mengatasi hidup dan bertahan hidup, melalui kerikil tajam kehidupan dengan kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menghadapi cobaan. 

Sebenarnya banyak sih warung – warung kopi yang bertebaran disekitar tempat tinggal saya, tetapi mencari seperti kriteria SKB memang harus membuka memory dan bertanya sana – sini, kebanyakan omset warung kopi yang bertebaran tergolong fantastis omsetnya , walau memang tidak sebesar sebelum corona, dari telusur yang ber omset rendah kebanyakan sudah gulung tikar dan beralih ke profesi  yang lain. Muncul ide setelah baca tulisan mb Dinni saya sharelah informasi dibeberapa group sekolah juga group profesi yang lain untuk mendapatkan yang sesuai kriteria.

Dari share informasi ini juga tanpa sengaja saya bertemu dengan Bapak Drajat Premadi, ST  penulis buku Polamatika, penulis 16 buku terapis Matematika  metode DIKTE dan juga instruktur Penatar Matematika Nasional sejak 2007 yang ternyata asli orang Ambulu , karenanya jadi tambah ilmu, beliau sempat mengajari Matematika metode Dikte dengan berbagai angka yang diacak yang ternyata membuat saya berdecak “loh kok bisa”, “loh gampang ya”, “wah keren”, “seneng belajar matematika cara gini”. Berkah ide yang digagas Mbak Widz dan Pak Warkasa ini memang ibarat pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. 

Dari informasi yang disampaikan beliau juga saya berkenalan dengan perempuan tangguh bernama Buk Muk penjual Wedang Kopi di Pasar Ayam.

Sepintas dari review yang disampaikan pak Drajat, menurut pandangan saya Buk Muk memang perempuan tangguh sekaligus penjual kopi Inspiratif. 

Meluncurlah saya dihari minggu pagi kepasar ayam mencari gerobak biru dekat toko pupuk seperti informasi yang saya terima. 

ilustrasi menyiapkan pesanan kopi 

Tanpa banyak kesulitan akhirnya dapat juga gerobak biru yang disandarkan ditembok toko pupuk tepat dipinggir jalan raya diatas trotoar. Nampak kesibukan penjual ayam menawarkan dagangan ayamnya. Agak lama saya berdiri di pinggir jalan mengamati perempuan tua bertubuh kecil dengan tinggi sekitar 150 cm sibuk melayani pembeli ada yang memesan kopi hitam, kopi sachet juga teh. Sengaja saya menunggu pembeli agak sepi, tak sabar menunggu pembeli sepi segera saya dekati beliau sekalian nongkrong  juga sambil memesan secangkir kopi. 

Secangkir kopi yang saya pesan seharga Rp.2000,-. Teh juga kopi sachet seharga Rp 2000,-. Ada juga gorengan yang dijual Rp1000,-. Rokok dijual ecer merk Tali Jagat seharga Rp.1000,-. Menurut keterangan beliau hasil bersih dalam sehari Rp 50.000,- karena sejak corona pasar tergolong sepi dibanding sebelumnya penghasilan bersih beliau bisa mencapai Rp 100.000,-/hari. 

Tak jarang pelanggan beliau yang kebanyakan pedagang ayam berhutang kopi, kue dan rokok . Tak ketinggalan juga penjual kue yang nitip dagangan kue dengan harga Rp 800,- juga berhutang pada beliau yang nanti dipotongkan dari setoran kue.


pasar ayam

Wawancara yang telah saya kemas sehingga tak terkesan kaku dan rileks membuat beliau santai bercerita sembari melayani pembeli kopi dan teh.

Tawa, senyum juga air mata haru nampak diwajah beliau waktu saya ajak ngobrol menceritakan kisah hidupnya. Wajah awet muda dan suka bercanda terpancar dari wajah ramahnya. Badan kecil yang masih kuat mendorong gerobak dari rumah yang berjarak 100 mtr dari tempat pasar ayam, tergolong tak biasa. 

Sudah lama Buk Muk tinggal sendiri karena mendiang suaminya sudah lama  meninggal 7 tahun yang lalu karena penyakit stroke yang diderita beliau selama 3 tahun.  

Setiap subuh Buk Muk selalu mengikuti sholat jamaah dimasjid besar. Dhuhur dan Ashar dirumah, Maghrib dan Isyak dilanggar kecil tak jauh dari rumah beliau. Bisik beliau ke telinga saya, “ Untuk sanggu nanti kalo pulang”.  

Sekilas cerita yang berhasil saya rangkum bincang dengan beliau. 

Usia 72 tahun  bukan halangan bagi beliau yang setiap pagi berangkat dari rumah pukul 05.30 mendorong gerobak warna biru yang sudah menemaninya puluhan tahun sejak anak-anaknya masih kecil. 

Sambil mengasuh anak – anaknya yang masih kecil Buk Muk berjualan kopi sembari bergantian dengan suami yang berprofesi sebagai tukang ojek. Jika buk Muk berangkat jualan wedang kopi dan rokokdipasar ayam, maka suaminya bertugas menjaga buah hati mereka, tepat jam 10.00  Buk Muk  pulang dari pasar ayam, menggantikan suaminya mengasuh. 

Kemudian suaminya berangkat ke pasar ayam menjaga gerobak sampai 12.00 siang sambil kemudian menjalankan profesinya sebagai tukang ojek. 

Aktivitas ini dijalankan dengan sabar dan tabah selama bertahun – tahun hingga anak – anak beliau yang kesemuanya  berjumlah 4 orang beranjak besar dan bersekolah. Kehidupan yang jujur apa adanya dijalankan dengan tabah tanpa banyak mengeluh. 

Saat anak Buk Muk yang pertama duduk di kelas 3 SMA jatuh sakit terkena leukemia, sang ayah terpaksa tidak bekerja demi untuk merawat putranya berobat dirumah sakit selama 1 bulan. Buk Muk tetap berjualan demi pengobatan putranya, walau pada akhirnya putra mereka meninggal dunia.  

Beliau bercerita waktu putranya sakit apa saja dijual dari meja, kursi, almari apa saja perabot rumah hingga habis – habisan. 

Lama kemudian putra – putri Buk Muk beranjak dewasa dan menikah ada juga yang merantau di Sulawesi dan berprofesi sebagai petani sayur. Sedang 2 orang yang lain tinggal agak berjauhan  dari rumah Buk Mur berprofesi bengkel dan si bungsu bekerja di cafe tak jauh dari pasar ayam tempat Buk Muk berjualan wedang kopi.

Tak lama berselang setelah anak – anak beliau berkeluarga, suami Buk Muk terkena stroke selama 3 tahun Buk Muk dengan sabar merawat suaminya sendiri tanpa bantuan dari anak – anak nya, selain tempat anaknya yang berjauhan membuat Buk Muk mengerjakan semuanya sendiri tanpa bantuan dari anak-anaknya. Hasil berjualan dan juga perabot rumah habis untuk biaya pengobatan suaminya.

Prinsip beliau yang tak biasa selama masih kuat mendorong gerobaknya, untuk jualan wedang kopi dan rokok beliau tidak mau menerima bantuan dari anak – anaknya. Terkadang sampai dipaksa baru beliau mau menerima. dalam pemikiran  beliau hidup berkeluarga banyak kebutuhannya berat kalo harus diganggu dengan membantu hidupnya. Itu yang ada dibenak beliau, dari 3 anak Buk Mur memiliki 7 cucu dan 2 cicit.  

Sejak ditinggal suaminya Buk Muk dengan rajin menyisihkan hasil jualannya untuk ditabung di BRI. Setelah menabung dengan rajin selama 5 tahun akhirnya Buk Muk tepatnya tahun 2016 melaksanakan ibadah Umrah. 

Anak – anak Buk Muk tidak pernah tahu ibunya menabung dengan rajin dan seminggu sebelum berangkat umrah baru beliau memberitahu anak – anaknya, cerita Buk Muk , “Anak – anak menangis tahu ibunya mau berangkat umrah merasa keheranan dari mana dapat uang untuk membayar umrah”.  Juga tetangga Buk Muk ikut keheranan kok bisa berangkat umrah.  

Inilah kuasa Tuhan mengangkat derajat hambanya dari ujian yang harus dilalui dengan ketabahan hingga dimudahkan rizkinya walau sedikit demi sedikit hingga bisa berangkat umrah.


nitamarelda.blogspot.com
nitamarelda.blogspot.com Guru SDN Ajung 03 Ajung Jember Jawa Timur. Lahir, Jember 06 April1978

10 komentar untuk "Prinsip Hidup Gerobak Wedang Kopi Pasar Ayam "

  1. Terharu mengikuti kisah Bu Muk.

    BalasHapus
  2. Waah...seru jalan ceritanya...salah satu perjalanan hidup anak manusia...👍👍

    BalasHapus
  3. Ini bukan hanya curhat tapi reportase panjang tentang perjuangan hidup dan keberkahan, Bu Nita.... Mantap!

    BalasHapus
  4. Inspiratif. Keren Mbak☺️👍 semoga bu Muk di beri kesehatan dan kelancaran dalam mencari rezeki☺️🙏

    BalasHapus
  5. Bu Muk 72 tahun sangat menginspirasi. Terima kasih sudah berbagi cerita yang patut diteladani. 🙏

    BalasHapus