Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Langkah Kecil demi Memutar Lingkaran Kebaikan

Gambar kopi dan gorengan adalah dokumen pribadi.
Gambar kopi dan gorengan adalah dokumen pribadi 

Sebagian orang mentas dari lumpur kesulitan, karena di dalam dirinya tumbuh kebaikan di lahan subur yang digemburkan oleh rasa syukur.

Melorotnya pertumbuhan ekonomi akibat pandemi telah menyulitkan kehidupan banyak orang, terutama bagi mereka yang menempati lapisan bawah struktur sosial masyarakat. Dari kelompok tersebut, ada yang berusaha bertahan hidup dengan berdagang.

Bu Yanti adalah salah satu sosok pengusaha mikro yang tangguh. Ibu yang telah ditinggalkan lebih dahulu oleh suaminya itu berjuang keras demi hidupnya dan anak semata wayangnya. Pilihan logis bagi Bu Yanti sesuai kebiasaan dan modal adalah berjualan nasi uduk, bihun mi goreng, dan gorengan.

Meskipun bukan warung kopi, ia menyediakan kopi seduh bagi mereka yang butuh berteduh.

Bagaimana ia bisa bertahan di tengah situasi pandemi sekarang ini?

“Terus berusaha. Tidak mengeluhkan keadaan. Yang penting selalu bersyukur atas segala yang telah diperoleh.”

Setiap waktu, Bu Yanti berusaha meningkatkan penjualannya. Semula berjualan dari pagi hingga siang, belakangan baru tutup menjelang waktu Maghrib.

“Selain itu, sisihkan walau sedikit untuk musafir yang membutuhkan,” terang Bu Yanti dengan percaya diri.

Tidak takut berkurang?

“Tidak. Musafir itu sesekali ada. Jadi ketika ia muncul, berbuat baiklah kepadanya. Lagi pula, rezeki itu sudah ada yang ngatur.”

Saat ini, lapak dagangan Bu Yanti kian melebar, membentuk “warung” lengkap dengan meja dan kursi. Ia menyewa ruang depan sebuah rumah kosong. Dengan itu, ia bisa menambah jam buka dagangan sampai jam sembilan malam. Berarti bebannya bertambah, menyewa rumah petak dan ruang untuk warung. 

Kuat membayar sewa?

“Selama kita berusaha, bersyukur, dan berbuat baik sekecil apa pun, insya Allah rezeki itu ada,” ujar Bu Yanti dengan penuh keyakinan.

Langit semakin gelap. Tidak terasa, kopi tinggal ampas.

Saya mengambil lembaran berwarna merah dari saku, berasal dari kebaikan seseorang di negara sana, untuk membayar segelas kopi hitam dan lima buah gorengan.

“Gede amat! Gak ada yang kecil?”

“Ini yang paling kecil. Lainnya belum dipotong-potong, masih dijemur. Selembar uang itu adalah kebaikan dari secangkir kopi bersama.com, untuk Bu Yanti.”

"???...."

Gerimis sepertinya hendak turun. Karena tidak bisa berlari, saya segera berlalu dengan langkah kecil.

Lingkaran kebaikan senantiasa akan berputar.

6 komentar untuk "Langkah Kecil demi Memutar Lingkaran Kebaikan "

  1. Wah! Kolak ubiku terasa uenak tenaan dinikmati sambil baca ini 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, ya pasti enak. Kolak ubi bikin sendiri. Tambahin madu, waktu makannya.

      Hapus
  2. Waah inspiratif nih☺️👍

    BalasHapus
  3. Kereeen...kisah yang inspiratif Pak Budi...salut untuk Bu Yanti

    BalasHapus