Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kamu dan Cerita-cerita Sehabis Hujan

Ilustrasi. Foto oleh Sami Anas/ Pexels 

Sekali lagi kubaca tubuhmu pada puisi yang kausuarakan. Kurasakan hening yang sewaktu-waktu siap pecah

Langit murung 

Namun, matamu jarang terlihat mendung. Walau bibirmu sering dihiasi senyum sedikit menggantung 

Aku selalu sedih mendengar yang namanya kematian. Banyak teman baikku mendadak pergi, katamu pada suatu sore yang muram 

Sudahlah, kembali matamu berbinar. Tiba-tiba  kauingin menjadi dalang, karena kaubisa membolak-balikkan kisah masa lalu, dan cerita yang akan datang. Kamu mau menjadi wayangnya? tanyamu padaku 

Mau, asal dengan cerita yang happy ending. Bersamamu, tentu 

Seperti biasa kau menjulurkan lidah, dalam bentuk gambar emoji, menghindari percakapan 

Kamu. Ach, kamu 

***

Lebakwana, Februari 2021 

22 komentar untuk "Kamu dan Cerita-cerita Sehabis Hujan "

  1. Apik, Ayah Tuah.

    Salam 🙏 sehat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Bung Katedra. Salam sehat selalu.

      Hapus
  2. Wuih ayah Tuah puisinya 👍👍👍

    BalasHapus
  3. Suir suit aku tahu aku tahuuu

    😑 mengapa aku tidak bersedih membaca puisi ini, sesedih membaca judulnya?

    Btw keren

    BalasHapus
  4. Wuiih... puisi nya, Ayah Tuah memang selalu keren..

    BalasHapus
  5. Asyik.. Ky suasana Bagendung - Mancak di awal 80an.
    Salam dr mas Toto. 😃

    BalasHapus
  6. Terima kasih, Mbak ( Mas? ) Hani.

    BalasHapus
  7. Terima kasih, Mbak ( Mas? ) Hani.

    BalasHapus
  8. Tema kematian memang menarik perhatian apalagi di masa pandemi saat kehidupan berdesakan dengan kehilangan demi kehilangan...

    Kalimat Kamu ach Kamu malah bikin tersenyum simpul, Ayah Tuah... Kenapa ya?

    BalasHapus