Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Kejatuhan Sebuah Perusahaan Gegara Logo yang Buruk?

Sumber: logomaker.com


Di saat publik lagi ramai membahas tentang review produk Eiger, seorang kawan penulis malah menyelutuk;

“Pantas saja Eiger dapat masalah, coba lihat logonya. Naik terus turun. Dasarnya juga tidak solid, karena ada dua ujung yang runcing.”

Rasanya ia bukan paham penganut arus utama (mainstream). Bukanlah produk yang direview, tapi logonya.   

Jawaban penulis padanya, cukup satu kata, “ampun-bang-jago.”


sumber: my-best.id

Sebabnya semua kejadian viral pasti dicocok-cocokan pasti bisa dijadikan contoh soal. Tapi, ya memang cocokologi ini mirip dengan dunia gaib. Sama-sama tidak berdasar, hingga waktunya berikhtiar.

Logo memang selalu menjadi obyek fitnah atas kejadian malang yang menimpa sebuah perusahaan. Kejadian yang dialami perusahaan Blackberry pun tidak luput dari kesalahan Logo.

“Coba lihat logonya, ada 7 peluru yang melesat cepat. Peluru yang melesat menandakan pembunuhan, akan hilang seketika, sementara angka 7 adalah angka sakral yang menandai 7 tahun masa jaya Blackberry.”

Jawaban penulis padanya, cukup satu kata, “ampun-bang-jago.”

Sumber: analystrelations.org


Oke, dimaklumi saja. Semua orang waras akan tahu kalau makna logo tidak akan mempengaruhi performa perusahaan. Namun, apakah benar jika perusahaan sukses benar berpendapat demikian?

Logo perusahaan tidak lahir begitu saja. Ada yang datang dari tangan bidan logo terkenal, ada yang hadir melalui jasa dukun beranak logo, dan ada pula yang lahir tiba-tiba di tengah jalan yang sepi. Semuanya memiliki makna.

Desain logo menjadi salah satu unsur yang terpenting dalam corporate brand strategy (strategi merek korporasi). Sebuah desain logo yang bagus seharusnya mencakup beberapa hal dalam sebuah oretan. Setiap warna, garis, bentuk, teks, font, dan grafis akan memberikan pengaruh kepada siapapun yang melihatnya.

Esensi yang terpenting adalah bagaimana logo dapat memengaruhi pikiran, perasaan, dan tindakan dari para audiens. Dengan kata lain, sebuah logo yang baik harus bisa memenuhi kaedah estetika, unsur psikologis, dan makna filosofis.

Kaedah estetika adalah urusan para desainer, sementara makna filosofis biasanya memerlukan unsur budaya.

Terlepas dari apa yang kita pahami tentang kedua hal ini, setiap diri kita pasti memiliki pendapat tentang sebuah logo. Pendapat tersebut bisa dari sisi estetika, dan juga psikologis atas dasar like atau dislike.

Penggabungan kedua hal inilah yang menimbulkan interpretasinya sendiri. Namun, interpretasi tersebut tidak akan jauh-jauh dari apa yang kita ketahui tentang perusahaan itu sendiri. Dengan kata lain, image perusahaan di mata kita adalah representasi dari logo itu sendiri.

Atas dasar itulah, maka sebuah logo yang baik harus mencakup kaedah umum di mata para audiens yang melihatnya. Nah, bagi kalian yang pusing mencari jasa desainer atau konsultan fengshui, maka pada tulisan kali ini penulis akan memberikan tip sederhana mengenai kaidah logo yang baik. Yuk kita simak bersama.

Mampu berkomunikasi

Logo yang bagus harus mampu berkomunikasi. Logo harus mencakup pesan yang ingin disampaikan kepada calon pelanggan. Informasi bisa bervariasi. Bisa jasa yang ingin ditonjolkan, produk yang ingin dijual, misi yang diemban, atau sensasi yang ingin ditimbulkan.

Relevan

Perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran tidak akan menempatkan pesawat terbang sebagai logo. Seringkali sebuah perusahaan memikirkan hal yang terlalu jauh, sehingga apa yang ditampilkan tidak relevan denga napa yang ingin disampaikan.

Mudah Diingat

Logo yang baik seharusnya mudah tertanam di benak calon pelanggan. Untuk itu maka logo harus unik, tidak mirip dengan logo terkenal lainnya, dan juga tidak terlalu rumit untuk diingat, misalkan terlalu banyak oretan dan warna.

Timeless

Kesalahan terbesar pembuatan logo adalah mengikuti tren yang sedang berlaku. Ingatlah bahwa tren itu hanya sesaat. Logo yang baik harus tampil trendy setiap saat.

Serba Guna

Banyak hal yang ingin disampaikan dalam sebuah logo. Jika memungkinkan sebanyak mungkin informasi termaktub di dalamnya. Namun, terlalu banyak informasi kadang juga membingungkan. Oleh sebab itu pemilihan karakter utama dari sebuah perusahaan, akan menjadi sangat penting untuk ditampilkan pada sebuah logo.

**

Singkatnya, karena logo adalah bagian dari corporate brand strategy (strategi merek korporasi), maka reputasi perusahaan yang bagus akan terkandung padanya. Sebaliknya, perusahaan yang sedang terpuruk (biasanya) akan dihubungkan dengan makna logo yang buruk.

Seperti dalam kasus penilaian si “Bang Jago,” terhadap logo Eiger. Apa pun bisa jadi pernyataan. Dengan demikian, maka sebagai individual, Anda tentu mempunyai pendapat sendiri tentang gambar logo yang baik atau tidak.

Mari kita kembali kepada logo Eiger, apakah Anda termasuk orang yang percaya bahwa kejatuhan perusahaan tertentu bergantung dari logonya?

Jika iya, maka Anda termasuk pengikut si “Bang Jago.” Jika tidak, maka Anda juga termasuk pengikut si “Bang Jago.”

 

SalamAngka

Rudy Gunawan, B.A., CPS®

Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI

 

6 komentar untuk "Apakah Kejatuhan Sebuah Perusahaan Gegara Logo yang Buruk?"

  1. Kalo logonya SKB, kira-kira gimana Mr. Numero Uno?

    BalasHapus
  2. Kalau perusahaan lagi maju, maka logonya dipuji-puji sebagai pembawa hoki. Hehehehe.

    BalasHapus
  3. Waah mantan nih☺️kalau logo SKB gimana mister angka?😂

    BalasHapus