Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Warung Kopi yang Tersingkir dan Tersungkur

Gambar kios tutup adalah dokumen pribadi
Gambar kios tutup adalah dokumen pribadi

Pada tahun 2009-2010, seorang kawan pemilik 10 pintu rumah petak menawarkan sebuah kios untuk ditempati. Bekas warung berukuran 3X2,5 meter persegi itu ditinggalkan penyewanya karena sepi. Harga sewanya murah.

Letaknya berada di dalam halaman tertutup tembok bersama rumah petak kontrakan. Dari jalan tidak kelihatan, kecuali bagi orang lewat yang khusus menolehkan kepalanya.
Menurut kelayakan tempat sih kurang strategis, tetapi saya tidak enak hati kepada sobat baik itu. 

Akhirnya saya sewa dengan pembayaran bulanan. Selain “menolong” teman, juga hitung-hitung sebagai tempat usaha mencari penghasilan sampingan. Oleh karena itu, kios tersebut saya fungsikan untuk menjual minuman ringan, teh panas, kopi, rokok, dan mi instan. 

Investasi awal usaha warung kopi dengan pengeluaran uang tidak terlalu banyak. Kompor, tabung gas, gelas, mangkuk, peralatan masak, bahkan meja diambil dari rumah. Hanya meja dan kursi panjang dari kayu seperti di warung lainnya mau tidak mau mesti dibuat.

Adik dari asisten rumah tangga saya beri upah (hire) sebagai penjaga sekaligus pelayan. Sedangkan saya bisa menggantikannya pada sore atau malam setelah pulang kerja.

Sasaran pembeli adalah penghuni rumah petak dan pengunjung warung internet (warnet) yang kala itu sedang marak. Lebihnya, mudah-mudahan warga sekitar atau pejalan kaki mau mampir berbelanja.

Lumayan. Tiga bulan awal cukup ramai. Keuntungan penjualan bisa menutup biaya sewa, namun belum bisa melunasi biaya upah. Untuk memenuhi kewajiban tersebut, terpaksa saya merogoh kantong.

Saya membayangkan dalam situasi pandemi sekarang, betapa sulitnya kondisi usaha yang dihadapi pelaku usaha mikro, seperti warung kopi. Barangkali, kegelisahan yang sama telah menggerakkan hati Mbak Widz untuk berbagi rezeki, dengan cara memutar lingkaran kebaikan melalui kegiatan “Nulis di SKB Berhadiah Total Jutaan Rupiah!”

Rata-rata jumlah pembeli berkisar 10-20 orang, kadang kurang. Keuntungan minuman, teh dan kopi berkisar Rp 500-1.500 per-gelas. Mi instan matang lebih besar, Rp 2.500-3.000 (tergantung, pakai telur atau tidak). Aneka camilan menghasilkan keuntungan sekitar 10%, kendati nilainya kecil. 

Namun selisih pendapatan (margin) yang paling tipis adalah penjualan rokok, sementara modal yang dibutuhkan paling banyak. Bahasa orang warung, dari satu bungkus rokok hanya untung satu batang. Lebih menguntungkan jika dijual eceran.

Rokok adalah satu keharusan bagi sebuah warung. Calon pembeli bisa membatalkan pesanan kopi hanya karena ketiadaan rokok. Apa boleh buat, rokok harus diadakan dengan memilih merek yang memiliki perputaran (turn over) tinggi.

Katanya, kalau berbisnis jangan seperti orang menunggu warung, tetapi mesti aktif menjemput bola alias calon pembeli.

Beberapa kawan pemborong saya bujuk untuk nongkrong di warung, dengan iming-iming pengurusan kegiatan usahanya. Sebagian kontraktor memang enggan (tepatnya, tidak mengerti) mengurus pemberkasan.

Ditambah, pada saat itu mulai dikenalkan E-procurement atau tender proyek melalui internet. Kebanyakan dari mereka gaptek perihal komputasi dan penggunaan internet untuk lelang.

Warung bersebelahan dengan warnet berkoneksi kecepatan tinggi merupakan sebuah kelebihan. Saya bersama teman yang paham administrasi mengerjakan urusan di warnet, sementara para pemborong ngopi, ngrokok, ngemi di warung.

Sekali kayuh, dua tiga pulau terlampaui. Ada dua manfaat yang didapat:

  1. Kunjungan pengunjung warung kopi meningkat dengan tamu berdaya-beli tinggi.
  2. Pendapatan ekstra dari pengerjaan pemberkasan dokumen dan pemasukan lelang melalui e-proc di warnet.

Ramainya warung kopi menarik perhatian warga sekitar dan orang yang lewat. Kemudian, mereka pun ikut berbelanja. Para pemborong mengundang teman-temannya ke warung kopi.

Kurang lebih satu tahun warung kopi di lokasi kurang strategis itu menjadi tempat nongkrong dan ajang rendezvous bisnis.

Dengan itu pula, ihwal pembayaran sewa bulanan, ongkos operasional, dan biaya upah pekerja dapat dipenuhi. Keuntungan, meskipun tidak terlalu banyak, sudah bisa melunasi pengeluaran investasi awal.

Bulan berikutnya, pemilik tempat menyatakan kepada saya, bahwa warung itu akan direnovasi, sehingga kontrak tidak dapat diperpanjang lagi. Dengan kata lain, saya harus menutup kegiatan usaha itu segera.

Warung kopi tersingkir!

Suatu ketika saya melewati wilayah tersebut. Sambil mengurangi kecepatan, saya menolehkan kepala ke arah warung kopi penuh kenangan.

Ternyata bangunan itu sudah dicat ulang. Warna biru masih baru. Di mejanya terletak aneka penganan kecil. Di display kaca tampak bungkusan mi instan dan rokok. Di dalamnya terletak kompor, mangkuk dan gelas-gelas.

Ramai dengan barang dagangan, tetapi sepi pembeli. Tak butuh lama, tempat penjualan minuman ringan, teh panas, kopi, rokok dan mi instan itu tutup.

Warung kopi itu tersungkur!

11 komentar untuk "Warung Kopi yang Tersingkir dan Tersungkur"

  1. Oh.. kesalahan ada pada warna catnya “haru-biru” jadi aja tersungkur, coba diganti “merah cetar membahana” pasti panjang deh umurnya tuh warung. Turut prihatin OmBud.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cat biru rupa-rupanya membuat terharu, sehingga sepi

      Hapus
  2. Waduh, banyak pembeli beralih ke tempat lain ya

    BalasHapus
  3. Memang begitu kalo kita ngontrak. Kelihatan rame, eh, malah diambil lagi dengan yang punya kontrakan, dengan berbagai alasan. Sebenarnya dia sendiri yang mau usaha.

    Tapi kalau memulainya dengan cara tidak baik, akan berakhir buruk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dengar, banyak juga kejadian serupa.

      Hapus
  4. Waah.. berakhir dengan tragis ya?

    BalasHapus
  5. sedih juga dengernya...semoga pandemi ini segera berakhir

    BalasHapus
  6. Ini artikel pertama tentang warkop ya Pak Budi.... Keren sekali, langsung gayung bersambut nggak pakai lama plus berkualitas... Bahan ulasannya pun mantap...

    BalasHapus