Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sabar Menanti Hingga Tutup Usia

Foto: Dokpri


Lebih dari 27 tahun kenal dengan pemilik warung kopi (warkop) langganan tapi tidak pernah tahu namanya, memang aneh. Cukup dengan kata sapaan Bapak rasanya sudah selesai. Transaksi beli minuman kopi malah belum pernah dicoba di warung ini. Biasanya yang paling sering dibeli justru bubur kacang hijau kegemaran ibunda, seakan sengaja disediakan sepanjang waktu di sini.

Semuanya berawal dari sebuah tantangan bagi para penulis blog secangkirkopibersama.com untuk lebih peduli pada masyarakat sekitar dengan mengadakan event Cerita Warung Kopi. 

Ternyata, kepedulian saya yang notabene lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) terhadap perekonomian dan kesejahteraan warga masyarakat masih jauh lebih rendah, ketimbang para penulis tanpa latar belakang Kesos. 

Gelar A.KS di belakang nama pun sering saya pelesetkan dengan Alhamdulillah Kuliah Selesai karena malu bila dibilang Ahli Kesejahteraan Sosial. Alamak!

Baiklah sedikit membela diri, saat ini bidang pekerjaan yang digeluti adalah menjadi guru SD di SDN 173 Neglasari, jadi wajar saja urusan keseharian lebih terlibat dengan pendidikan anak sekolah dasar. Lokasi Warkop langganan pun setiap waktu terlewati bila dari rumah menuju sekolah. Jarak warkop dengan rumah dan sekolah seakan berada di tengah-tengah. 

Tak usah dibayangkan perjalanan jauh karena waktu tempuh hanya empat menit menuju sekolah menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Jadi bila hendak ke warkop langganan yang baru saja saya baca plang merek warungnya Sabar Menanti hanya butuh waktu dua menit kecepatan di bawah 20 km/jam atau tujuh menit berjalan kaki. 

Yang istimewa dari warkop Sabar Menanti justru merek warung yang membuat perasaan tiba-tiba mellow. Kesabaran bapak pemilik warung patut diacungi jempol. Dengan keuntungan yang makin berkurang dia sabar hingga bisa bertahan puluhan tahun. Sementara warkop yang sama di sepanjang Jalan Cikutra Barat Bandung sudah banyak yang tutup atau pemiliknya silih berganti. 



Sabar menanti seakan menjadi kata-kata yang lebih dekat dengan doa agar warkop andalan ekonomi dan kehidupan sehari-harinya diberi kesabaran dalam penantian panjang hidup layak. Seluruh kekuatan dikerahkan dengan membuat warkop ini berbeda dengan warkop lainnya yaitu buka 24 jam yang kini banyak ditiru oleh toko atau warung lainnya.

Rambut bapak tua yang sudah banyak ditumbuhi uban ini menjadi saksi bisu perjalanan perekonomian negara yang masih dipusaran laju inflasi yang tinggi dan pemberantasan korupsi yang terkesan jalan di tempat. Begitu pula jelaga yang menempel di langit-langit warung seakan menjadi gambaran kelamnya kehidupan.

Pernah beberapa bulan ke belakang, saya mengajak si bapak berbincang-bincang tentang keuntungan semenjak masa pandemi virus Corona. “Saya bisa bertahan untuk tetap membuka warkop ini saja sudah untung,” imbuh pemilik warung dengan nada getir. Mempertahankan warung di pinggir jalan dengan harga kontrakan yang setiap tahun merangkak naik adalah hal yang berat.

Wajar bila warung yang menyediakan berbagai jenis kopi sachet yang digantung berjajar, bubur kacang hijau plus ketan hitam, mie instan rebus atau goreng, bubur ayam dan telur setengah matang ini bangunannya semakin lusuh. Bangku panjang tempat saya biasa duduk saat menikmati mie rebus bersama suami pun nampaknya belum diganti selama puluhan tahun.

Setelah tulisan ini diterbitkan di blog SKB, saya berjanji akan menikmati secangkir kopi hitam plus gula sachet-an lalu menanyakan siapa nama si bapak. Janji yang indah bukan?

Semoga Tuhan memberikan umur panjang untuk saya dan si bapak agar bisa mengenal lebih jauh, pribadi pemilik Warkop Sabar Menanti yang begitu sabar dan setia dalam penantian menuju sejahtera di penghujung usianya yang semakin renta. (desi/Bandung).

30 Januari 2021


NB.

Bagi yang mau ikutan event berhadiah Cerita Warung Kopi silakan klik link berikut:

https://www.secangkirkopibersama.com/2021/01/nulis-di-skb-berhadiah-total-jutaan.html














Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

11 komentar untuk "Sabar Menanti Hingga Tutup Usia"

  1. Semoga warung Sabar Menanti senantiasa dilimpahkan rezeki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabbal'alamiin... Semoga terkabulkan. Saya memang terharu sama ajakan Pak Warkasa dan Mbak Widz semoga mendapatkan keberkahan pada semua panitia dan para penulis yang berusaha peduli sesama. Terima kasih atas tanggapannya. Saya juga sudah baca artikel Pak Budi, sangat menarik, warkop ramai terpaksa tutup karena salah kelola, alangkah disayangkan. Tapi belum tinggalkan jejak... Hehehe...

      Hapus
  2. Jadi ikutan melowwowwow.. Teringat saat diajak sdr kongkow di rumah alm. Kang Harry Rusli th 80an. 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, benarkah Pak Toto? Lokasinya dekat dengan rumah hanya sekira 1,6 km saja loh kalau menuju rumah Pak Harry...

      Benar-benar mellow memang...

      Terima kasih sudah hadir 🙏

      Hapus
  3. Selain sabar semoga mendapat rezeki yang berlimpah aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Aamiin ya Rabbal'alamiin 🤲 semoga terkabulkan... Terima kasih atas do'anya....

      Hapus
  4. Semoga warung Sabar Menanti dilimpahkan rezeki untuk tetap terus menjalankan bisnisnya. Cerita yang sangat inspiratif Mba Desi 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Mbak Widz pencetus dan pemrakarsa event ini hadir juga di sini... Terima kasih banyak atas doa dan semangatnya... Aamiin...

      Hapus
  5. Inspiratif. Terimakasih untuk artikelnya mbak Desi☺️🙏

    BalasHapus
  6. Kesabaran pemilik warung "Sabar Menanti" mudah-mudahan menjadi berkah untuk bertambahnya rezeki.

    BalasHapus
  7. Cerita warung kopi mellow dg pemiliknya yg sabar

    BalasHapus