Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Rian Kopi Keliling, Sudah Kesusahan, Masih Pula Bantu Orang Susah

 

Rian Boimau dan Kedai Kelilingnya [Sumber: Rian Boimau]

Namanya Rian Boymau, tetapi lebih dikenal sebagai Rian Kopling. Kopling merupakan singkatan dari Kopi Keliling. Rian berdagang kopi menggunakan sepeda motor tua, Honda Astrea 800. Ia melakukannya semenjak 2018, sekembali dari perantauan di Jember dan Surabaya.

Rian merantau sejak kecil, tinggal bersama pamannya di Jember. Dahulu ia berpikir paman itu ayah kandungnya. Ia baru mengetahui yang sebenarnya saat remaja. Rian remaja sangat nakal, menyebabkannya tidak menyelesaikan pendidikan di SMA Kartika V-2 Jember. Kenakalan itu pula yang memicu pertengkaran hebat dengan si paman sehingga Rian angkat kaki dari rumah dan pergi ke Surabaya mencari ayah kandungnya.

Di Surabaya kenakalan Rian tidak berkurang. Ia bahkan terlibat kriminal ringan rakyat jelata hingga kemudian berjumpa sebuah momen pertobatan dan memutuskan kembali ke Soe, Timor Tengah Selatan, kampung halaman ayah-ibunya dan kini berjualan kopi keliling di Kota Kupang.

Sudah lama saya mengetahui sosok Rian dari pemberitaan media massa, terutama terkait usaha warung kopi dan kiprahnya dalam aksi membersihkan sampah di kawasan pantai. Rian memang perintis usaha kopi keliling. Dari rintisannya lahir sekitar 7 pedagang serupa.

Tentang aktivitas membersihkan sampah, Rian nyatakan ia tidak bermaksud jadi pahlawan lingkungan hidup. Menurutnya, karena kerab berjualan di kawasan pantai, sudah sepatutnya ia turut menjaga kebersihan lingkungan tempat berjualan. Sambil menunggu pembeli, ia memungut aneka sampah plastik di kawasan pantai, mengumpulkannya agar menjadi ecobrick. As simple as that.

Pertemuan saya dengan Rian baru terjadi pada Oktober. Intan Nuka, host tayangan digital Pos Kupang, koran lokal warga Kompas Grup memberikan nomor whatsapp Rian.

Ada dua kepentingan saya bertemu Rian saat itu. Pertama, kepentingan subjektif saya untuk mendapatkan agen bagi tembakau tingwe, dagangan saya semasa pandemi Covid-19. Kedua, kepentingan politik saya untuk mendorong para pelaku usaha kecil sektor nonformal berserikat. Saya melihat selama ini pelaku usaha nonformal tidak terorganisir, membuat mereka sangat lemah berhadapan dengan pemodal besar pun penguasa sewenang-wenang.

Rian pernah mengalami pengusiran dari salah satu Taman Kota. Ia baru bisa berjualan dengan tenang setelah memprotesnya, langsung kepada Wali Kota Jeffry Riwu Kore.

Memang aneh jika taman kota dibangun—di masa pemerintahan Jeffry, banyak taman kota diperindah—tetapi rakyat tidak diizinkan memanfaatkannya. Taman Kota seharusnya memberikan dampak peningkatan kesejahteraan rakyat dengan membuka akses pemanfaatannya oleh pedagang kecil.

Pada pertemuan di bulan Oktober, Rian sudah membuat saya terkesima. Saya mempublikasi percakapan kami dalam format video Youtube di Kompasiana, berjudul “Kopi, 100 Kebaikan Orang Kecil, dan Perang Rebutan Ruang “.


Rian ternyata tidak cuma berjualan kopi dan menginisiasi gerakan membersihkan kawasan pantai. Sebelum masa pandemi, sambil berjualan kopi, Rian membuka lapak baca. Layanan tambahan ini menciptakan para pelanggan kopi yang setia, tergabung di dalam grup Sahabat Kopling. Ada 70an anggota aktif.



Para Sahabat Kopling bukan sekadar grup penikmat kopi keliling—yang sejatinya cuma kopi sachet itu. Mereka pulalah para penyumbang pakaian bekas, buku bacaan, bahkan kitab suci—Injil dan Quran—dalam aksi-aksi sosial yang Rian gagas.

Di bulan November, saya hendak menemui Rian di Taman Tagepe, tempat ia mangkal menjajakan kopi di sore hingga malam hari. Tetapi Rian sudah tidak di sana. “Saya pindah ke Pantai Warna, Bang,” katanya menjawab pesan singkat saya.



Rupanya oleh kepentingan mencegah kerumunan, Pol PP meminta para pedagang tidak lagi berjualan di Taman Tagepe. Rian bisa memaklumi itu. Areal di kawasan Pantai Warna cocok untuk kondisi pandemi sebab pelanggannya bisa duduk lebih berjarak lagi, sesuai protokol kesehatan.

Memang, sebagaimana pengakuan Rian, pindah ke kawasan Pantai Warna berisiko penghasilannya turun drastis. Sebelum-sebelumnya Rian bisa mendapat untung bersih paling kurang Rp 100.000 per hari. Ketika pindah tempat jualan, Rp 100.000 itu penghasilan kotor maksimal. Dipotong biaya-biaya, ia cuma bisa bawa pulang Rp 40.000. Dipotong kebutuhan konsumsi sehari-hari, Rian hanya bisa menyisihkan Rp 10.000 yang kelak dibayarkan ke pemilik kos setelah terkumpul sebulan.

Malam tadi, setelah membaca ada lomba menulis untuk membantu kedai kopi kecil, saya teringat Rian. Saya menelponnya dan terkejut bahwa sudah sejak tanggal 11 Januari ia tidak lagi berjualan.

Itu karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKKM) oleh Pemkot Kupang sebagai langkah mengatasi lonjakan kasus Covid-19. Para pedagang kopi keliling, gerobak siomai, bakso, dan sejenisnya hanya diperbolehkan buka dari pukul 16.00 hingga 18.00. Hanya dua jam sehari. Pedagang kaki lima seperti gerobak gorengan—yang sifatnya take away—diperbolehkan buka dari pukul 16 hingga 20.00. Warung makan boleh buka sejak pagi hingga pukul 20.00.

Untuk pedagang kopi keliling seperti Rian, yang sudah menyepi ke kawasan pantai di saat musim hujan, berjualan dalam durasi 2 jam sama saja dengan merugi. Sebelum-sebelumnya, berdagang dari pukul 16 hingga 22 malam saja ia cuma mendapat rata-rata 20an pembeli. Kalau sekarang hanya boleh dua jam berarti Rian cuma bisa menjual 8 gelas kopi. Total pendapatannya akan cuma Rp 40.000 (Rp 5.000 per gelas). Pendapatan sejumlah itu hanya akan habis untuk modal kopi, gula, gas, dan bensin.

Rian pernah memprotes hal ini, terutama karena ia melihat sejumlah restoran, café, dan bar milik politisi anggota DPR RI dan pejabat daerah masih buka seperti biasa. Mungkin karena Pol PP tidak mengetahuinya. Tetapi Rian ciut saat protes itu dijawab dengan ancaman pencabutan izin usahanya.

Rian memilih mengalah, berhenti berjualan dulu hingga status PKKM dicabut. Semoga saja pada 8 Februari nanti kondisi di Kupang membaik sehingga Pemkot tidak memperpanjang PKKM.

Selain kopi, Rian sebenarnya punya usaha lain: berjualan kripik singkong. Kripik Singkong Rian sangat renyah. “Gunakan pisau potong kentang, lalu ubi harus masih muda,” katanya membocorkan rahasia tekstur renyah keripik singkongnya.

Akan tetapi Rian berhenti berjualan kripik singkong sejak Desember. Alasanya saat itu Natal dan Tahun Baru, orang-orang memiliki banyak kue kering di rumah. Mereka tidak akan mencari kripik singkong.

Semula Rian berencana mulai berjualan kripik singkong lagi di pekan kedua Januari. Ia memperkirakan saat itu stok kue kering di rumah para pelanggan sudah habis sehingga mereka akan kembali membeli kripik singkong.

Yang tidak Rian perhitungkan adalah ketika musim hujan para petani memanfaatkan lahan untuk menanam Jagung dan Padi. Singkong digusur untuk sementara waktu. Jikapun masih ada singkong di pasar, kualitasnya kurang bagus untuk dijadikan kripik sebab berkandungan air tinggi. Akan makan banyak minyak goreng jika hendak dijadikan kripik.

Rian pernah mencoba sekali membeli singkong dengan kadar air tinggi itu. Benarlah, kebutuhan minyak goreng naik hampir dua kali. Akibatnya, keuntungan yang ia peroleh sangat tipis, habis dipakai membeli bensin untuk berkeliling mengantar kripik ke rumah-rumah pelanggan.

Gara-gara tidak punya sumber penghasilan sama sekali selama kurang lebih tiga pekan ini, Rian hanya bisa bersandar pada kiriman Jagung dari keluarga di kampung. Untuk uang kos, ia bersyukur pemilik kos bisa memaklumi keadaannya, tidak memaksa melunasi tunggakan.

Tetapi yang bikin saya tidak habis pikir, dalam kondisi kesusahan begini pun, Rian masih sempat-sempatnya menggalang aksi sosial. Pada bulan Agustus, September, dan Oktober lalu, ia dan para anggota sahabat Kopling urunan untuk pengadaan bantuan sembako bagi penduduk kurang mampu di Kota Kupang.

Jumlahnya memang tidak banyak: 5 paket pada Agustus, naik jadi 10 di bulan September, lalu 50 paket di bulan Oktober. Tiap paket berisi 5 kg beras, 5 bungkus mie instant, dan 5 butir telur. Yang luar biasa adalah bantuan itu berasal dari dompet Rian dan sahabat kopling yang saya tahu adalah mahasiswa, pekerja nonformal, dan pegawai rendahan. Pokoknya, Anda tahulah, pencinta kopi sachet di pinggir jalan, bukan penikmat kopi premium di café-café yang dilayani barista hebat berperalatan lengkap.

Bahkan pada 10 Januari, sehari sebelum berhenti berjualan, Rian cs masih sempat touring bermotor mengantar sumbangan sembako ke penduduk di Pantai Selatan Amarasi, pelosok Kabupaten Kupang.



Membantu sesama sudah jadi filosifi hidup Rian. “Bagi saya, hidup ini seperti gelas kopi. Jika kopi yang dituangkan berlebihan, ia akan tumpah dan sia-sia. Maka lebih baik jika kelebihan itu dibagi kepada yang lain.”

Semangat Rian membantu sesama kaum susah bikin haru sekaligus marah. Rasa marah muncul saat menyadari bahwa kontras dengan kesetiakawanan di kalangan rakyat, elit-elit penguasa kita, menteri, anggota DPR, dan pimpinan parpol yang sudah kaya raya itu masih pula tega menyunat dana bansos.***

15 komentar untuk "Rian Kopi Keliling, Sudah Kesusahan, Masih Pula Bantu Orang Susah"