Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Panen Nanas

 

Nanas difoto menggunakan HP dengan mode potret (foto oleh Budi Susilo)
Nanas difoto menggunakan HP dengan mode potret (foto oleh Budi Susilo)

Saat membeli buah nanas, minta kepada penjual agar tidak memotong pangkal batangnya. Untuk apa? Ada deh!

Sampai rumah, kupas nanas, jangan ikut-ikutan contoh di YouTube ya. Boros! Beset saja kulitnya tipis-tipis dengan pisau, lalu iris "matanya" sehingga membentuk selokan melingkar ke bawah. 

Untuk dimakan langsung, diiris membujur atau memanjang. Jangan lupa olesi permukaannya dengan garam. Rasa manis asam berpadu dengan asin akan membuat buah tropis ini semakin menyegarkan.

Oh ya, terkadang bagian tengahnya dibuang. Padahal bonggolnya itu mengandung enzim bromelain yang kaya manfaat untuk mencegah kanker, menurunkan kadar kolesterol, juga membantu mengurangi penyempitan pembuluh darah.

Selain itu, nanas juga diolah menjadi selai, bahan es buah, minuman setup, dan lainnya.

Pangkal batang berdaun ditanam di halaman. Selain kelak tumbuh buah (saya lupa berapa lama) juga merupakan tanaman hias yang cantik.

Gambar di atas diambil tadi pagi, tetapi buah itu masih muda. Mungkin baru berumur sebulan. 

Sebelumnya, ada sih buah nanas lain yang sudah cukup matang, ditandai kulitnya yang telah menguning dan baunya wangi. Sayang, waktu itu sudah terlalu petang untuk memetiknya. Rencananya, akan dipanen keesokan harinya.

Kapan lagi menikmati nanas dari halaman sendiri? Pasti lah rasanya manis asam gurih. Cegluk!

Malam itu senyum terbawa ke kasur dengan berselimut mimpi.

Keesokan hari. Pagi cerah. Matahari semringah. Sambil berjemur, saya menenteng cangkir kopi. Berjalan menuju halaman. Menengok nanas kekuningan menggairahkan.

Alamak jang!

Tanaman nanas masih berdaun lengkap. Buahnya sudah lenyap.

8 komentar untuk "Panen Nanas"