Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pada Suatu Masa yang Asu pada Hidup Seorang Lelaki Asu

Ilustrasi. Foto oleh Eva Elijas/ Pexels 

Bukan siapa-siapa, tapi Surakyat sendiri yang menyebut dirinya asu. Sebelum istri dan anak-anaknya menyebutnya begitu. Mungkin mereka takberani bilang, tapi setidaknya pandangan mereka, perlakuan mereka dua tahun belakangan ini, Surakyat merasakan kehidupannya memang asu. 

Apa pun yang ia usahakan selalu kandas. Rasanya ia sudah berjualan di mana saja: dari berdagang keliling, di kaki lima, juga mengontrak kios kecil pun sudah ia lakukan. Mata dagangan pun sudah bermacam-macam. Rantau sudah banyak pindah, tapi nasib belum beranjak. 

Surakyat merasa ia tak cukup pintar ( ungkapan halus untuk kata 'bodoh' ), tapi setidaknya ia pernah merasakan punya ijazah SMA. Bakat? Ia takpercaya itu. Malas? Ah, rasanya ia sudah berusaha apa yang ia bisa. 

Modal berdagang pun sudah banyak yang membantu, baik dari pihak keluarganya maupun dari keluarga istrinya. Sebanyak dibantu sebanyak itu pula habis. Akhirnya mereka bosan, bahkan mungkin sudah sampai pada taraf, muak. 

Istrinya mengatakan, selalu susah hidup bersamanya. Surakyat tidak membantah, tidak juga mengiyakan. Kalau ukurannya benda-benda berharga yang ia punya, ia memaklumi kata-kata istrinya. Bayangkan, di usia lebih separuh abad rumah saja masih ngontrak. Seharusnya di usia seperti ini ia tinggal menikmati sisa-sisa umurnya. Tapi nyatanya ia kini masih kesusahan untuk hidup sehari-hari. 

Siapa sih yang ingin hidup seperti ini? Surakyat juga ingin seperti orang-orang lain. Berdagang dengan modal kecil, berkembang, terus, terus ..., hingga menjadi besar. Punya rumah bagus, kendaraan, dan menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang lebih tinggi. Di hari tua ia tinggal menikmati hasilnya. Minum teh di beranda saat sore, bermain dengan cucu, jalan-jalan, atau pergi ke tempat-tempat wisata yang jauh. Namun, kenyataan yang ia hadapi hari ini hidupnya begitu asu. 

Tapi 'seasu-asunya' dia ( sebenarnya Surakyat sedih dengan ungkapan ini; habis, bagaimana lagi ), Surakyat masih bisa menyekolahkan dua anaknya -- Gendhuk dan Thole -- hingga tamat SMA. Memang ia berdarah-darah hingga anaknya tamat sekolah. Apa pun caranya. 

Kini dua anaknya sudah bekerja sebagai buruh pabrik. Gajinya memang tak seberapa, tapi cukuplah untuk kebutuhan mereka sendiri. Namun, kini dua anaknya jarang menyapa dirinya. Surakyat mengerti, karena bekerja di pabrik tentu membuat tubuh mereka begitu lelah. 

Tapi tidak juga. Kadang mereka terlihat bercengkerama bertiga bersama istrinya, tanpa melibatkan Surakyat. Pernah suatu malam Surakyat terjaga dari tidurnya. Dilihatnya anak-anak dan istrinya bicara pelan-pelan, duduk melingkar, dan di tengahnya ada setumpuk makanan. 

Ingin rasanya Surakyat tersinggung, sedih, dan marah. Tapi untuk apa? Akhirnya Surakyat berprasangka baik saja. Mungkin sebelumnya anaknya sudah membangunkan dirinya, tapi ia tidur begitu nyenyak. Sudahlah. 

Istrinya secara halus mengusirnya dari rumah, karena dua tahun belakangan ini ia takada kegiatan apa-apa. Sebelumnya ia membantu istrinya berjualan sayuran, ketupat, atau bubur ayam. Namun, ya itu tadi, dagangan istrinya pun bangkrut. 

Sebenarnya Surakyat ingin bekerja apa saja. Tapi siapa yang mau mempekerjakan orang dengan usia hampir  60 tahun? Bahkan hanya sekadar kuli bangunan pun tentu orang berpikir panjang. Bukan membantu malah nanti  mungkin akan merepotkan. 

Surakyat merasakan hidupnya begitu asing. Ia seperti ditinggal sendirian. 

Sekarang dua anaknya jarang pulang ke rumah, karena mereka mengontrak rumah dekat pabrik tempat mereka bekerja. Istrinya sebagai buruh cuci; jarang pulang juga. Surakyat sendiri? 

"Terserah kamulah," kata istrinya, singkat. 

Surakyat tertawa dalam hati, membenarkan tentang hidup dan dirinya yang asu. Dan asu tidak boleh bersedih. 

***

Lebakwana, Januari 2021. 

10 komentar untuk "Pada Suatu Masa yang Asu pada Hidup Seorang Lelaki Asu "