Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Warung Kopi Pinggiran

 

Warung kopi pinggiran dok pribadi


Hari menjelang malam, ketika hujan deras tiba-tiba turun dan sudah dipastikan udara terasa dingin menusuk tulang. Saya teringat kopi pemberian kakak yang saat ini sedang berada di Papua. Saya seduh kopi Papua, rasanya gurih dan enak diseruput ketika cuaca terasa dingin.


Sambil menyeruput kopi, saya teringat dengan seorang bapak yang siang tadi saya temui, seorang lelaki setengah saya  penjual kopi dan keperluan lainnya di warung yang sangat  sederhana. Ya siang tadi sepulang sekolah, saya bersama seorang guru mencari warung kopi pinggiran. karena saya ingin mengikuti Event Lingkaran Kebaikan yang diadakan oleh Komunitas Secangkir Kopi Bersama. Semoga goresan saya ini membantu pedagang kecil yang sering terlupakan. 


Setelah berkeliling lumayan lama, saya melihat   warung kecil yang letaknya di sebuah Gang  Parujakan tepatnya di daerah Gudang Air  Kelurahan Pekalangan Kecamatan Pekalipan Kota Cirebon. Saya melihat  seorang bapak berusia sekitar enam puluh tahun  yang menunggu warung sederhananya.  Ada satu dua orang kuli bangunan yang sedang memesan kopi, dengan cekatan bapak penunggu warung itu melayani pembeli, kopi di gelas plastik sudah bertukar tangan dari penjual ke pembeli. Setelah dua pembeli itu pergi, saya melihat mereka  duduk di emperan sambil merokok dan menikmati segelas kopi terlihat  wajah mereka sangat letih dan salah satu dari kuli itu rebahan di emperan toko yang terlihat tutup. 


Warung Kopi Pinggiran dok pribadi 


Setelah melayani pembeli, bapak  itu duduk  wajahnya terlihat lesu. Saya dan guru yang mengantar merasa tidak enak sendiri, akhirnya saya memesan dua gelas kopi, perlu digaris bawahi ditempat ini tidak ada kopi dalam cangkir ya, yang ada gelas plastik dan gelas  belimbing.  Sambil menunggu  kopi pesanan saya selesai dibuat, saya bertanya pada bapak Moh Kamil (nama bapak penjaga warung pinggiran itu) berapa harga segelas kopi disana, beliau menjawab harga segelas kopi ada yang Rp. 3000 dan Rp. 4000 tergantung merk. ketika saya menanyakan harga kopi sangat murah, beliau memberi  alasan kalau dijual mahal tidak akan ada yang beli.  Pelanggan di warung pinggiran itu kebanyakan menengah kebawah, seperti pengayuh beca, supir angkot dan pekerja bangunan yang mampir ke warung itu.


Saat Pandemi ini, kehidupan terasa berat, dapat Rp. 50.000 sehari saja sudah bersyukur, seringnya dibawah lima puluh ribu. Belum untuk kehidupan sehari-hari, sang istri yang bernama Ami Ramidah adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sekali- kali membantu menjaga warung kopi tersebut, mereka dikarunia empat orang anak yang sekarang sudah besar-besar dan dikarunia empat cucu. kehidupan anak-anaknya tidak jauh beda dengan kehidupan orangtuanya.


Warung kopi itu antara hidup dan tidak, karena terlihat banyak yang kosong dan selama saya duduk di sana hanya kopi yang laku. Warung itu terlihat tidak bergairah, karena pak  Moh Kamil sering kehabisan modal, jadi banyak stok barang yang tidak bisa dibeli. Beliau berharap semoga Corona cepat berlalu, dan warungnya bisa sedikit ramai seperti dulu tidak sepi seperti sekarang ini.


Selama ngobrol dengan beliau, pikiran saya ke tempat kopi langganan saya yang berada di Mall, bedanya sangat drastis, satu gelas kopi di sana bisa membeli 10 gelas kopi di warung pak Moh. Kamil. kedai-kedai kopi kekinian pun bak jamur di musim hujan dan pembelinya berjubel meski harganya lumayan mahal juga. Kedai-kedai kopi itu tidak mengenal Corona,  karena pembeli banyak terus, sedang di warung kopi pinggiran sangat sepi. Tidak gulung tikarpun sudah bersyukur. Sangat miris, bapak Moh. Kamil mewakili wajah-wajah warung kopi pinggiran. Mereka tidak berfikir muluk-muluk yang penting diberi kesehatan dan bisa makan. Dengan hati bercampur aduk, saya pamit pada bapak Moh. Kamil karena langit terlihat mendung. Semoga saya bisa datang kembali dengan membawa kebahagiaan. Aamiin


ADSN1919

Apriani1919
Apriani1919 Biarkan penaku menari dengan tarian khasnya, jangan pernah bungkam karena itu membuat aku tiada secara perlahan

22 komentar untuk "Kisah Warung Kopi Pinggiran"

  1. Inspiratif☺️ semoga usaha pak Moh. Kamil diberi kelancaran dalam usahanya☺️πŸ™

    BalasHapus
  2. Memang rata-rata sedang sulit ya. Lima puluh ribu per hari equvalen 15 gelas. Dengan keuntungan 1000 segelas, maka 15 ribu untuk dapur. Duh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah keadaannya, semoga ada rezeki lain aamiin

      Hapus
  3. Mbak Dinni kisah inspiratif kisah perjuangan bp M Kamil yg tegar di tengah pandemi ini. Salut kpd beliau...semoga usahanya penuh Berkah..
    Aamiin.

    BalasHapus
  4. Bunda ... semoga pak Kamil usahanya tambah berkah. Aamiin ya Robb..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih bu Nur sudah mampir πŸ˜€

      Hapus
  5. menarik kisahnya......

    # Sayangnya pakai air thermos..... hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya 😁 kalo sebentar2 d rebus mungkin boros bahan bakarnya 😁

      Hapus
  6. Wow! Kisah yang inspiratif mbak, Semoga beliau di beri kelancaran rezeki. Amiin

    BalasHapus
  7. Konsistensi acapkali mengalahkan takaran nilai.
    Keren mbak.

    BalasHapus
  8. Terima kasih, Bu Hajjah…Mantap !
    Saya penikmat kopi sepeda di bawah pohon (sambil ngudud…). Semoga Pak Kamil dan penjaja kopi lainnya pada sehat, barokah, dan bahagia selalu. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih pak Kurniawan sudah mampir

      Hapus
  9. Ya begitulah mba yg dialami pedagang, kadang sepi kadang rame dan ga tentu. Yang penting selalu bersyukur.

    BalasHapus
  10. Mulai hari ini mbak Dinni terdaftar jadi pelanggan pak Kamil

    BalasHapus