Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Jas Hujan

Mungkin semua kenal tapi tak pernah menyapa.  Sederhana sekalipun. 

" Selamat pagi kawan,  aku perlu jasamu di tengah hujan lebat yang kian menghebat. Terima kasih atas setiamu". 

Jas hujan bisa jadi benda tiada berharga di musim kemarau nan tandus.  Itu dulu, saat semua masih saling berhikmah.  
Hujan turun membasahi tanah kering.  Mengurai aroma khas nan tiada tara.  Pepohonan tumbuhkan semangat hidup saling berbagi. Simbiosis mutualisme kata para pegiat lingkungan. 

Air mengalir di dalam celah-celah bumi jadi kehidupan. Sebagian terserap di dalamnya jadi tanah subur.  Sisanya mengisi ruang-ruang kosong di embung,  telaga,  danau dan laut.  
Simponi alam begitu indah,  merekah asa para peladang.  Merajut harap di masa panen dalam rentang penantian.  Mengundang senyum anak-anak petani dan nelayan.  Esokku tak kan lapar. 

Jas hujan menggelantung di sudut ruang, hampa... kosong tak bermakna. Ia merasa tak lagi berharga.  Tak lebih dari kain perca di sisa guntingan terakhir.  Dalam sisa daya,  ia melambaikan tangan dan berkata. 
"Berbahagialah kau.. .saudaraku si daun pisang".

Pereng Kali Lukula,  penghujung Januari 2021

7 komentar untuk "Kisah Jas Hujan"

  1. Di musim panas jas hujan terlupakan, orang akan mengingatnya ketika musim hujan πŸ˜€

    BalasHapus
  2. Saudaranya tidak cuma daun hujan tapijuga daun sente 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha iya to. Tp klo kepaksa, daun pintu jg boleh mbak Widz. πŸ˜€πŸ™

      Hapus
  3. Terpinggirkan oleh daun pisang dan Nissan. Hiks.

    BalasHapus