Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Diksi Mencari Cinta

N Swandari
Foto: Dokpri


Gadis seanggun tokoh Mulan berdiri di hadapan Rasyid. Wajah manis berbaju casual berpadu celana jeans berwarna biru dengan kerudung senada membuatnya semakin memesona. 

Mata mereka beradu pandang. Jantung Rasyid berdetak tak karuan saat senyum tipis menghiasi wajah cantik mirip Mulan. Seraut wajah yang selalu hadir dalam angannya.

“Perkenalkan namaku, Rasyid.” Sepotong kalimat akhirnya meluncur di bibir Rasyid setelah sanggup menguasai debaran jantungnya.

“Oh, kukira Anda Mas Gagak,” ujar sang gadis dengan nada kecewa.

“Anda kenal dengan Mas Gagak? Saya juga,” tukas Rasyid cepat, ia ingin sekali dekat gadis cantik itu lebih jauh. 

“Benarkah? Dimana Saya bisa bertemu dengannya?”

“Itu mudah, mari Saya antar, tempatnya tak jauh dari sini. Oh iya, siapa nama Anda?”

“Diksiana Swandari, panggil saja Diksi,” jawab Diksi lembut. Ia merasa senang seorang pemuda segagah Rasyid ternyata bersikap begitu ramah.

Diksi menangkupkan kedua tangan dan menganggukkan kepala tanda penghormatan.

“Terima kasih sebelumnya, Pak Rasyid.”

“Kok, Pak sih? Panggil saja Rasyid,” tukas Rasyid melebur kekakuan.

“Nah ini dia rumahnya, Saya kost di sini. Sebentar saya cek dulu ya untuk memberitahu bahwa Mbak Diksi mau bertemu.” 

“Baiklah,” ujar Diksi berusaha sabar. Sudah lama sekali ia ingin bertemu dengan Gagak sang penulis idola yang begitu unik.

Diksi juga heran mengapa ia tak bisa mengenal Gagak Hitam sejak dulu. Dalam setiap tulisan, baik di Surat Kabar maupun buku-bukunya tak ada satu pun foto atau alamat yang tertera agar pembaca bisa menghubunginya. Misterius.

Diksi agak gelisah meskipun rasa bahagia melingkupi hatinya karena sebentar lagi pemilik nama pena Gagak Hitam akan terungkap. Ia khawatir Mas Gagak yang hebat dalam mengolah diksi jauh dari bayangannya. 

Segenap pikirannya melayang pada Rajaedi yang mati-matian mencitainya dan kemudian meminangnya setahun lalu tapi, Diksi menolak. Rajaedi memang sahabat Diksi sejak SMA hanya saja perseteruan dengan Pak Guru Mawardi begitu kental. 

Rajaedi kerap menyindir Pak Guru dengan nama Suhunan Rumah padahal Diksi sangat menghormati Pak Guru.  Pak Guru berencana menjodohkan anak pertamanya dengan Diksi setelah tamat kuliah nanti. Namun, lagi-lagi Diksi menolak perjodohan itu. Agar rasa bersalah Diksi berkurang, ia memanggil Pak Guru dengan sebutan Suhu Mawardi sebagai penghargaan atas kegigihannya dalam menginspirasi Diksi menjadi seorang guru sekaligus penulis.

Raja dan Suhu dalam benak Diksi tak cukup untuk membuatnya tunduk atau terpesona. Gagak Hitamlah yang selama ini memenuhi mimpi-mimpinya. Lelaki Berdada Puisi adalah buku fenomenal yang telah dibaca sampai tamat olehnya hingga tiga puluh kali.

Diksi benar-benar terpukau oleh diksi Gagak Hitam yang berbeda dari penyair atau penulis lainnya. 

Perasaan cemburu kerap menelusup ke dalam dada Diksi karena buku berjudul Lelaki Berdada Puisi itu hasil kolaborasi Gagak Hitam dan Merpati Sustina, pendatang baru yang ikut mendompleng ketenaran Gagak Hitam.

Jika bukan karena Merpati, bisa jadi selamanya Gagak Hitam bersembunyi di sarangnya. Ia tak mungkin menemukan jejak sang Gagak yang begitu rahasia. Untunglah Merpati Sustina adalah sahabatnya di dunia maya. Jadi bisa melacak jejak Gagak Hitam cukup mudah.

Ia yakin bila sang Gagak bertatap muka dengannya perasaan Gagak akan tersihir oleh tatapan matanya. Ia berharap Gagak mau menjadi belahan jiwa dalam hidupnya, apapun bentuk dan rupanya. 

Diksi bahkan masih sanggup bersanding dengan penulis pujaannya itu meski buruk rupa seperti di film Beauty and The Beast. Baginya diksi-diksi Gagak Hitam begitu merasuk sampai ke alam bawah sadarnya.

“Mbak Diksi, kok melamun?” tanya Rasyid. 

Diksi hanya tersenyum tipis. Ia heran mengapa Gagak Hitam begitu sulit untuk ditemui, setelah setengah jam berlalu harapan bertemu dengan penulis pujaannya kandas.

“Mbak Diksi, Saya pikir Mas Gagak bisa mampir kemari sebentar sebelum perjalanannya menuju Paiton. Ternyata Mas Gagak punya urusan yang tidak bisa ditunda,”…,”Mas Gagak baru saja pergi lima menit sebelum kita tiba di sini, Mbak,” lanjut Rasyid merasa bersalah. 

“Apa mau kita susul ke Paiton, Mbak?” 

“Saya yang mengendarai mobil, kalau Mbak segan pergi berdua saja, Saya bisa minta ditemani Kakak Senja Trisna. Beliau juga ada urusan sama Mas Gagak,” terangnya penuh harap Diksi menyetujui usulannya.

Tanpa banyak protes akhirnya Diksi sepakat, pikirnya kapan lagi bisa bertemu dengan penulis pujaannya. Lagi pula Senja kakaknya Rasyid jadi jaminan bahwa ia takkan berniat macam-macam. Sebenarnya Diksi merasa Rasyid memang pemuda sopan yang mulai membuatnya tertarik. 

Perjalanan dari Jombang menuju Paiton memakan waktu lima jam seharusnya cuma tiga jam. Rasyid mengendarai mobilnya dengan santai. Awalnya Diksi agak cemas takut tak bisa berjumpa dengan Gagak Hitam tapi, perlahan ia bisa menikmati perjalanan lambat itu.

Perbincangan hangat antara Rasyid, Senja dan Diksi membuat suasana beku jadi semakin cair. Tiba-tiba saja saat istirahat makan siang di sebuah resto Roemah Eyangkoe yang berpemandangan indah, ketiganya sudah sangat akrab layaknya sahabat lama.

Diksi juga kaget kalau ucapan-ucapan Rasyid begitu puitis bahkan lebih puitis dari Mas Gagak.

Entah karena tertular atau memang bakat terpendam. Apalagi Kak Senja Trisna, tiap kalimatnya selalu dihubungkan dengan namanya, senja, temaram, lembayung, pilu dan menjelang malam.

Perjalanan lima jam tak terasa bagi mereka. Percakapan hangat dan penuh semangat mewarnai menit demi menit menuju Paiton.

Diksi Swandari malah berubah haluan, Mas Gagak tak lagi membuatnya penasaran.

Justru Rasyid begitu dewasa, gagah dan memesona di matanya. Ada debar yang kian berpacu setiap Rasyid melempar senyum simpul padanya. Diksi terpukau dengan keahlian Rasyid melumerkan kata hingga terasa meleleh di jiwa.

Sebuah tulisan sempat digoreskan Rasyid di atas kertas tisu yang ditujukan untuk Diksi membuat Diksi sanggup melupakan Gagak Hitam pujaannya.

Gerimis Pagi

awan dan hujan adalah sepasang kekasih
yang tak pernah bercerita tentang kesetiaan
tetapi Tuhan memilih mereka bersatu dalam ikatan

jika aku awan apakah kau hujan yang setia menjadi gerimis pagi

yang senantiasa mengalir sawah-sawah petani
memberi harapan pada tanah tempat berdiri padi-padi

yang berakhir di lautan biru kasih insani

akankah engkau melukiskan pelangi 

Roemah Eyangkoe, 1 Januari 2020

Diksi terpukau, tak menyangka dalam hitungan menit tulisan itu digurit tanpa jeda.

Hatinya berbunga-bunga. Apalagi setelah tahu Rasyid adalah seorang tentara yang juga mendidik calon Bintara. Pangkat Letnan Kolonel menandakan Rasyid masuk jajaran perwira menengah. Di usia yang masih tampak begitu muda karirnya cukup gemilang.

Hanya lima jam saja mampu membuka mata Diksi bahwa Rasyid ternyata lebih mengagumkan dari Gagak Hitam. Bahkan Senja membuat Rasyid nampak berkilau dari sang Gagak.

“Umur kami memang terpaut lima tahun, Dik Swandari,” ungkap Senja Trisna saat berbincang di Resto Roemah Eyangkoe. 

“Terus terang Mas Rasyid nampak jauh lebih dewasa. Beliau yang menghidupi Kak Senja dan dua anak dari hasil pernikahan kakak yang kandas,” imbuh Senja mengiba.

Perbincangan tentang Rasyid dan Senja hanya sebatas itu, lainnya seakan sepakat Diksi yang menjadi pusat perhatian sepanjang perjalanan.

Setiba di Paiton, saat menunggu Gagak Hitam keluar dari persembunyian. Senja dan Diksi terlibat percakapan serius.

“Anak-anak Kak Senja merasa dekat dan sayang dengan Mas Rasyid, begitu sebaliknya. Bahkan Mas Rasyid menyelamatkan Kakak dengan menikahi Kakak.” Mata Senja berkaca-kaca tanda haru.

“Oh, jadi Kak Senja istri Mas Rasyid?” sergah Diksi penuh kecewa. Ia sama sekali tak menyangka jika adahubungan spesial antara mereka berdua. Diksi pikir Rasyid masih bujang.

“Benar demikian, tetapi Mas Rasyid melakukannya karena rasa iba dan ingin membantu Kakak dengan tulus. Kakak tahu Mas Rasyid sudah lama mengenalmu dan mengagumimu sebelum pertemuan hari ini,” ujar Senja yang berharap Diksi mengerti keadaan pelik yang dihadapinya.

“Diksi, kamulah cinta pertamanya. Merpati Sustina yang jadi teman menulis pun bukan siapa-siapa. Mereka hanya cocok dalam buku tidak di kenyataan. Merpati adalah adik bungsuku.”

“Apa aku tak salah dengar?” Jadi Gagak Hitam itu adalah Rasyid? Merpati itu adik Kak Trisna?” tanya Diksi beruntun.

“Benar,” jawab Senja sembari menganggukkan kepala.

Diksi memang mencurigai ada yang aneh dengan mereka berdua tetapi karena keramahtamahan yang ditampilkan semua terasa kabur.

“Sebagai tanda bahwa Aku mengikhlaskan Mas Rasyid yang sudah menemukan cintanya, maukah Diksi menikah dengan Mas Rasyid?” 

“Bukankah ia pujangga impian bagimu?” timpal Senja mengingatkan Diksi.

“Lalu kalian bercerai?” sergah Diksi dengan nada tinggi. Walaupun Rasyid adalah Gagak Hitam impiannya, memisahkan ikatan mereka berdua rasanya mustahil.

Senja menggelengkan kepala dan menjelaskan Rasyid hanya menjadi suami di bawah tangan tak tercatat di KUA.

Mereka menikah agama dengan persyaratan lengkap secara tertutup. Hanya pihak keluarga Rasyid dan Senja yang tahu.

Selama ini Rasyid selalu menutupi dirinya dengan nama pena Gagak Hitam agar perasaan cinta pada Diksi bisa mengalir deras di dalam buku-bukunya.

Mata Rasyid yang sayu menatap Diksi penuh harap agar kisah cintanya berujung bahagia. Ia ingin Diksi melahirkan anak-anak mereka. Sang Kupu-kupu pemuja dirinya, takkan bisa membuat debar jantungnya berdegup kencang seperti saat dekat dengan Diksi.

Nama-nama anaknya pun sudah Rasyid tuliskan dalam cerita pendek Diksi Terkasih. Mawar Rasy Diksiana dan Tosfa Rasy Diksiana. Ah, semua tergantung Diksi. 

Antara kecewa dan bahagia, Diksi benar-benar dalam kebimbangan yang nyata. Ia tak tahu harus memilih apa. Semuanya begitu cepat menyerang pikir dan batinnya.

“Kalau demikian ungkap seribu puisi dalam seminggu agar aku bisa menerimamu,” imbuh Diksi memberi syarat bak putri Roro Jonggrang.

Rasyid mengangguk menyanggupi.

Akankah mereka bernasib sama dengan kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso?

Atau justru keberhasilan gemilang diraih oleh Rasyid sang Gagak Hitam?


1 Januari 2020

Selanjutnya

Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

16 komentar untuk "Diksi Mencari Cinta"

  1. Balasan
    1. Pak War... Terima kasih ya... Selalu memberikan support....

      Hapus
  2. Tak bisa berkata-kata. Terpukau menikmati alurnya yang asyik dan menarik.sukses selalu bunda mawar D. Salam cinta๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Yang jelas tak alan salah lagi mengeja nama Bu Yenti... Sang Merpati Sustina.

      Terima kasih...

      Hapus
  3. Balasan
    1. Terima kasih banyak Bu Dinni... Semoga SKB semakin berkibar ya...

      Hapus
  4. Bu Desi hebat. Diksi hanyut bablas. Jozzz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hemmm... Apakah ini akun Pak Tosfayana... Bagaimanapun, siapapun terima kasih....

      Hapus
  5. Balasan
    1. Wah... Bu Nita... Boleh saya minta link tulisan Bu Nita... Biar bisa Saya kunjungi juga...

      Hapus
  6. Balasan
    1. Terima kasih Mbak Widz atas kunjungannya...

      Hapus