Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Diksi Mencari Cinta (Tamat)

 

Foto: Dokpri

Sebelumnya

Kalau demikian ungkap seribu puisi dalam seminggu agar aku bisa menerimamu,” imbuh Diksi memberi syarat bak putri Roro Jongrang.

Rasyid mengangguk menyanggupi.

Akankah mereka bernasib sama dengan kisah Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso?

Seminggu berlalu, sebuah notifikasi di email baru saja muncul saat Diksiana membuka gawai. Sebuah surat masuk bersama sebuah file dari Rasyid Ledapui segera Diksi buka, ternyata isinya seribu puisi dari seratus pengarang. Mengejutkan.

Diksi benar-benar tak menyangka akal Rasyid yang begitu unik. Seribu puisi tentang ungkapan rasa kasih pada sebentuk jiwa yang dicintai telah terkumpul sempurna. Bukan 999 arca yang Bandung Bondowoso berhasil buat dan satu arca gagal karena waktunya habis. 

Diksiana bergidik ngeri membayangkan kalau dirinya yang berubah menjadi arca yang ke seribu, Roro Jonggrang bernasib buruk karena kemarahan Bandung.

Diksi segera mencari nomor whatsapp Rasyid. Ia ingin beradu argumentasi bahwa yang membuat kumpulan puisinya, seratus penulis bukan cuma Rasyid.

[Salam]

[Puisi Anda cuma ada dua puluh bukan seribu]

[Berarti, Anda gagal!]

Tak berapa lama nampak di layar gawai nama Rasyid sedang mengetik.

[Berapa jumlah puisinya?]

“Eh malah balik bertanya?” batin Diksi gemas bukankah pernyataan sudah cukup jelas.

[Iya, seribu]

Diksi menjawab singkat saja. Ternyata Rasyid termasuk lelaki yang tenang. Bisa jadi karena ia sudah terbiasa menghadapi musuh di medan perang. Pengalaman berperangnya sudah tak diragukan lagi. Pertempuran baik di dalam maupun luar negeri pernah ia jalani.

[Nah, apalagi?]

[Mana bisa bersama seratus penulis?]

Diksi penasaran apa jawaban oleh Rasyid. Kemudian tulisan Rasyid sedang mengetik muncul tetapi, durasinya cukup lama.

Hingga sepuluh menit kemudian muncul sebuah pernyataan paling menohok dari seorang lelaki memenuhi layar gawai hingga kata read more terpaksa harus Diksiana buka karena kalimatnya teramat panjang.

Bagai mempertahankan sidang skrispsi kalimat-kalimat argumentatif terbaca oleh Diksi.

Kejutan yang menarik, benar saja Rasyid membandingkan Diksi dengan Roro Jonggrang, agar tidak ada kejadian hati Diksi membatu seperti legenda Candi Prambanan yang terkenal bahwa Roro Jonggrang menjadi arca yang ke seribu.

Seratus penulis menurutnya adalah seperti bala bantuan yang didapat Bandung Bondowoso kala membuat Candi dalam sehari dan sangat wajar, sesakti apapun Bandung ia masih butuh bantuan.

Terakhir sebuah puisi disertakan oleh Rasyid dalam menyatakan kesungguhannya agar Diksi mau di menjadi pendamping hidupnya.

Sebening Kaca

jalanan terjal mendaki telah kulalui
palung terdalam telah lama kuselami
beribu rintangan demi mendekap sebentuk hati telah kulewati

angin dingin Utara memberi kabar gembira
bahwa prahara tetirah di pokok cemara
aku bersama nyali ksatria menghunus pedang setajam kata 

berupa doa pada Sang Pemilik Jiwa
perkenankan air mata
mengalir menjadi mata air
yang memenuhi segara

perkenankan murninya cinta 
bertemu hati sebening kaca
yang menuntun jiwa menuju surga

Tanpa terasa air mata Diksi mengalir. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang menekan begitu kuat. Bagai arca yang hancur berkeping-keping, segala kegundahan, keraguan, kesombongan pun musnah.

Rasanya bila Rasyid Ledapui memintanya menikah saat ini, ia akan mengabulkan tanpa syarat apapun. Jiwa murni Rasyid terbaca dengan jelas oleh Diksi. 

Tentang Kak Senja Trisna istri pertamanya tak lagi menjadi ganjalan untuk Diksi. Ia bahkan rela bila Mas Gagak Hitam mau memperistri dua orang gadis untuk yang ketiga dan keempat. 

Semuanya sudah ia pasrahkan pada-Nya. Bila ada cemburu, biarlah Sang Penentu Takdir pula yang mengangkat dari hatinya.

Langit tetiba benderang. Seterang kalbu Diksi yang lepas dari bimbang.

Tamat.

5 Januari 2020


Desi Oktoriana
Desi Oktoriana Seorang guru SDN 173 Neglasari Bandung.

3 komentar untuk "Diksi Mencari Cinta (Tamat)"