Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perempuan, Aku Membaca Puisimu Sekali Lagi

Ilustrasi. Foto oleh Flora Westbrook/ Pexels. 

Ruang gelap, hantu di dalam kepala, api yang belum padam, gemeretak seperti kayu kering yang terbakar 

Puisimu membara 

Menghanguskan masa lalu. Tapi takbisa 

Kenangan kini menjadi air terjun. Bergemuruh dalam ingatan. Karena rindu tak sepenuhnya bisa dihentikan 

Perempuan, aku membaca puisimu sekali lagi. Ada gerimis pada larik puisimu 

***

Lebakwana, Desember 2020 

16 komentar untuk "Perempuan, Aku Membaca Puisimu Sekali Lagi "

  1. Keren puisinya Yah..☺️☕

    BalasHapus
  2. Mantap sekali ini, Ayah Tuah, Salaman

    BalasHapus
  3. Nah, aku bingung, kolom komen ada dua 😁

    Puisi keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Zoreyda. Salam hangat.

      Hapus
    2. Terima kasih, Mbak Zoreyda. Salam hangat.

      Hapus
  4. Ayah Tuah, saya suka puisi dengan prosa. Saya mau buat, tapi belum paham. Ini jenis puisi apa, Ayah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puisi itu, menurut saya, genre sastra yang paling bebas. Perkembangannya sangat dinamis.

      Kini kecenderungan puisi dengan gaya naratif ( prosa ). Sedang prosa, ada beberapa pengarang bertutur gaya puisi ( prosa liris ).

      Dan ini puisi jenis apa. Biar pembaca yang menafsirkannya sendiri.

      Salam hangat, Mbak Ayra.

      Hapus
  5. Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Hartininita. Salam hangat.

      Hapus