Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kopi Krim

 

Gambar kopi krim (dokumen pribadi)
Gambar kopi krim (dokumen pribadi)


Muka Rudolfo memerah. Otot wajahnya mengeras. Matanya memelotot. Rahangnya menganga. Lidahnya menyemburkan tanya, "dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang!".

Tulang belulang Yumi rontok. Rautnya beku. Lidahnya kelu menelan ludah. 

Selepas ashar, sahabatnya mengajak Yumi ke pusat pertokoan di tengah kota. Ruang glamor nan sejuk menyajikan gerai-gerai eksotis pemuas hedonisme.

Di food court, dua wanita berusia jelang 30 tahun mengisi perut sambil melepaskan penat. Seusai menandaskan isi mangkuk, Yumi memesan cappucino kesukaannya. 

Yumi adalah penggemar kopi bercampur buih susu. Minuman favorit itu menjadi pilihannya pada setiap kesempatan.

"Mau coba kopi krim yang lebih enak?" 

"Apa itu? Dimana?" Mata Yumi berbinar.

Dewi menarik tangan sewarna pualam yang taksempat meraih gelas berisi tiga perempat cappucino.

Atmosfer Kafe Balemang di kawasan Kemang memang menyenangkan. Hentakan membara pada akhir lagu Dance Monkey didinginkan oleh lantunan Faded dari Alan Walker.

Yumi terbahak bahagia mereguk gelas kelima kopi krimnya. Tangannya mengangkat gelas kosong.

Bartender meracik ekstrak kopi. Dituangnya isi botol Bailey's, suatu merek wiski Irlandia yang populer sebagai bahan peracik kopi krim yang disebut Irish Coffee. Campuran itu kemudian ditutup dengan whipping cream.

Yumi tergagap menyembunyikan rasa bersalahnya dengan menunduk. Kenikmatan kopi krim dalam kafe membuatnya lupa waktu.

Ia kelayapan tanpa tanpa berpamitan kepada suaminya.


3 komentar untuk "Kopi Krim"